Pendidikan dan Ideologi Dominan



DALAM pandangan umum pendidikan adalah sarana manusia memperoleh ilmu pengetahuan. Tujuan akhirnya adalah agar terbebas dari segala macam bentuk kebodohan sehingga manusia memiliki martabat kehidupan yang manusiawi.
Ada anggapan bahwa dalam memperoleh ilmu pengetahuan melalui pendidikan tersebut kita tidak lagi mempersoalkan posisi (institusi) pendidikan. Mungkin karena ilmu pengetahuan itu sendiri dianggap netral, dengan sendirinya proses belajar-mengajar pun kemudian dianggap netral dan selalu mengandung kebajikan.

Pemahaman yang demikian tersebut bukan saja ada pada masyarakat kita, melainkan juga pernah lama diyakini hampir di seluruh penjuru dunia. Oleh karena itu, ketika almarhum Paulo Freire dan Ivan Ilich pada sekira tahun 1970 mengatakan bahwa dunia pendidikan tidak netral bahkan mengandung benih-benih penindasan, kontroversi pun menggema. Semenjak munculnya pemikiran tersebut muncullah perdebatan di kalangan pemikir pendidikan di berbagai belahan dunia. Di satu sisi pendidikan tetap dianggap netral dan pada pihak lain pada dasarnya pendidikan memang mengandung “kepentingan-kepentingan” ideologis tertentu.

Kritik Freire dan Ilich tersebut sesungguhnya tidak lahir secara spontan atau sekadar menciptakan klise-klise intelektualisme, melainkan didasarkan pada pemahaman teoritik dan praktik pendidikan selama bertahun-tahun di Amerika Latin. Jika kalangan pendidikan umumnya melihat dunia pendidikan berpijak dari kerangka wacana semisal positivisme logis, liberalisme, konservatisme, dan anarkisme, keduanya memulai dari paradigma strukturalisme ala Marxisme. Melalui metode strukturalisme, konstruksi lama mengenai pendidikan kemudian dibongkar dan dinyatakan bahwa pendidikan adalah suatu institusi yang berhubungan dan berdialektika dengan struktur ekonomi-politik yang berkembang. Memang, bagi paham ini, bidang politik, sosial, agama, budaya, seni, termasuk pendidikan, eksistensi dan posisinya tidak akan terlepas dari persoalan ekonomi dan kekuasaan yang berdiri mendominasi kehidupan suatu masyarakat.

Konsep ideologi

Di atas paradigma strukturalisme dunia pendidikan kemudian memiliki istilah baru dengan apa yang disebut filosofi-pendidikan. Namun karena istilah ini mengandung konotasi tradisional, maka pada perkembangan selanjutnya yang kerap dipakai oleh para pemikir kritis adalah istilah ideologi-pendidikan.

Berbicara mengenai ideologi sering kita menghubungkan dengan dua pemikir besar; Karl Marx dan Karl Mannheim. Bagi Marx, ideologi-ideologi politik pun tak pelak lagi sebagian besar merupakan pembenaran bagi materi atau organisasi ekonomi masyarakat. Sementara konsep
Mannheim tentang ideologi total (sebagai lawan dari konsepnya tentang ideologi tertentu) pada intinya sama dengan Marx, dan dalam bukunya “Ideologi and Utopia” (ideologi dan khayal) ia minta perhatian terhadap kenyataan bahwa ideologi paling bisa dipahami dalam proses kesejarahan yang terbuka.

Selain itu ada pula pandangan pemikir lain yang menyusul kedua pemikir di atas. Daniel Bell (1961) misalnya, melihat bahwa ideologi (dalam pengertian Marxis tradisional) telah berakhir karena mengalami konflik sosial yang mendasar telah berakhir, kepentingan-kepentingan ideologis yang saling bertikai telah ditenetramkan di dalam negara kesejahteraan (welfare state). Namun pandangan tersebut ternyata kurang memiliki bobot nilai sebab bagaimana pun persoalan ideologi tidak terbatas pada politik negara, tetapi juga meliputi bidang sosial dan kebudayaan.

Menarik kemudian, jika kita mengikuti arah pemikiran yang ditunjukkan Alastair C. MacIntyre (1971). Dalam bukunya “Against The Self Images of The Age”, filosof ini melihat bahwa sebuah ideologi selalu memiliki tampilan kunci berupa adanya perhitungan tentang hubungan apa yang dilakukan dengan apa yang seharusnya dilakukan, keterkaitan antara hakikat dunia dengan hakikat moral, politik, dan panduan-panduan perilaku lainnya. Artinya sebuah alat perumus dalam sebuah ideologi (adalah) bahwa ia tidak sekadar memberi tahu kita tentang bagaimana dunia ini sebenarnya, dan bagaimana kita berperilaku, tetapi berkenaan arah yang diberikan oleh yang satu terhadap yang lain. Ia melibatkan sebuh kepedulian, entah tersirat atau terang-terangan, terhadap status pernyataan-pernyataan tentang aturan-aturan moral serta penyataan-pernyataan yang mengungkapkan penilaian (evaluasi).

Atau sebagaimana sargent mengindikasikann dalam bukunya “Contemporary Political Idiologies”, …sebuah ideologi adalah sebuah sistem nilai atau keyakinan yang diterima sebagai fakta atau kebenaran oleh kelompok tertentu. Ia tersusun dari serangkaian sikap terhadap berbagai lembaga serta proses masyarakat. ia menyediakan sebuah potret dunia sebagaimana adanya dan sebagaimana seharusnya dunia itu bagi mereka yang meyakini. Dengan melakukan itu, ia mengorganisasi kerumitan atau kompleksitas yang besar di dunia menjadi sesuatu yang cukup sederhana dan bisa dipahami. Derajat organisasi atau penataan itu juga penyederhanaannya yang tampak pada potret tadi, cukup bervariasi dari satu ideologi ke ideologi lain dan semakin meningkatnya kompleksitas dunia membuat potret tadi menjadi kabur. Di saat yang sama potret dasar yang disediakan oleh ideologi tampaknya cukup mapan dan konstan. (Wiliam F. O Neill. Educational Ideologies, Santa Monica California 90401 AS, 1981, hlm. 32)

Struktur dominan

Dengan titik tolak konsep ideologi di atas, ada satu simpulan bahwa sesungguhnya posisi pendidikan tersebut menempati area suprastruktur atau bangunan bawah dari struktur ekonomi-politik suatu masyarakat. Pendidikan yang direproduksi oleh masyarakat sangat terkait bahkan nyaris ditentukan oleh perkembangan dan kepentingan-kepentingan struktur dominan terutama negara dan modal (kapitalisme). Akan tetapi bukankah pihak dominan ini sesungguhnya adalah hasil dari proses perkembangan sejarah masyarakat? Bukankah eksistensi pendidikan memang harus berkembang sesuai dengan denyut nadi peradaban manusia? Kenapa masih ada kritik wacana tentang netralitas tersebut?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut tentu saja tidak mungkin dinafikan, bahkan mengandung kebenaran juga sebab bagaimana pun juga eksistensi pendidikan di suatu negara tidaklah mungkin mengingkari proses sejarah. Bahkan lebih dari itu, untuk kepentingan memajukan peserta didik prosesi pendidikan mau tidak mau harus berjalan sesuai dengan jalur globalisasi. Lalu apa maksud sesungguhnya dari paham strukturalisme yang gencar mengkritik ideologi dominan dalam dunia pendidikan?

Sesungguhnya kritik paham strukturalisme (atau lebih tepatnya disebut dengan paham kritis-sosial) tersebut lebih menekankan pada substansi dari tujuan pendidikan itu sendiri. Dalam bingkai kehidupan kapitalisme yang saat ini mendominasi dengan ideologi pasarnya, pendidikan seolah-olah hanya sekadar sebagai proses penyesuaian peserta didik untuk masuk dalam arus pasar (industrialisasi) yang berkembang. Akibatnya pendidikan tidak lagi sebagai sarana bebas, otonom dalam memberikan pemahaman tentang nilai-nilai kemanusiaan, keadilan, pembebasan dll, melainkan hanya mengarah pada kepentingan-kepentingan pragmatis politik-ekonomi tertentu. Bahkan lebih dari itu, moralitas dan nilai-nilai kebajikan yang selama ini menjadi substansi dari dasar pendidikan telah mengalami degradasi digantikan dengan semangat pragmatisme ekonomi dan politik.

Memanusiakan manusia

Pendidikan di bawah kendali aparatus ideologi dominan ini pada hakekatnya hanya digunakan demi melanggengkan kekuasaan status quo. Pendidikan juga tidak lebih dari sebagai sarana untuk mereproduksi sistem dan struktur sosial yang tidak adil seperti sistem relasi kelas, relasi gender, relasi rasisme ataupun sistem relasi lainnya. Dalam konteks pendidikan yang tidak lagi mengindahkan nilai-nilai kemanusiaan inilah Freire kemudian memulai gagasannya secara radikal untuk mengembalikan proses kemanusiaan yang telah hilang. Dengan slogan proses memanusiakan manusia kembali, ia melihat bahwa sistem kehidupan sosial, politik, ekonomi, dan budaya, membuat masyarakat mengalami proses dehumanisasi. Dalam kaitannya dengan ini ia juga melihat ada efek-efek pemikiran (kesadaran) dalam pandangan hidup masyarakat. Freire menggolongkan kesadaran manusia tersebut menjadi tiga; kesadaran magis (magical consciouness), kesadaran naif (naival consciousness), dan kesadaran kritis (critical consciousness).

Kesadaran magis biasanya diyakini oleh masyarakat yang masih tradisional dan kurang memahami ilmu pengetahuan dalam menjalankan aktivitas kehidupannya. Sementara kesadaran naif biasanya berkembang dalam masyarakat yang telah mengalami rasionalisasi ilmu pengentahuan namun kurang tepat membaca kebenaran sejati terhadap realitas sosial yang ada. Barangkali kesadaran naif inilah yang kini banyak berkembang dalam masyarakat kapitalisme yang telah mereproduksi sarana pendidikan sebagai bagian dari kepentingan-kepentingan ideologinya. Sementara kesadaran kritis adalah paham yang bisa melihat relasi sosial secara radikal beserta perangkat-perangkat visionernya mengenai pentingnya proses memanusiakan kembali manusia.

Melihat proses perkembangan pendidikan yang selama ini berjalan, pada akhirnya kita dituntut kembali untuk mengevaluasi model pendidikan yang tepat dalam rangka memanusiakan kembali manusia. Bagaimana pun, pihak-pihak dominan telah melakukan penjinakan sehingga mengakibatkan peserta didik hanya sebagai objek kepentingan pragmatis yang pada akhirnya menjerumuskan masyarakat pada kesadaran yang tidak manusiawi.*** Penulis adalah Peneliti Yayasan Nuansa Cendekia
Bandung.

http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/0703/10/0802.htm

One thought on “Pendidikan dan Ideologi Dominan

  1. ketika membaca tulisan tersebut hati saya tergugah,dan saya berfikir ternyata yang dijelaskan dalam tulisan ini nyata karna setiap hari saya sering mengalami dilingkungan pendidikan,bahwa ternyata kepentingan dalam dunia pendidikan sudah tidak diragukan lagi.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s