Kualitas Karya adalah Tujuan Utama


Judul: Meracik Buku Menjadi Bestseller

Penulis: Agung Prihantoro

Editor: Mathori Al-Elwa & Agus Salim

Penerbit: Nuansa Cendekia (anggota IKAPI) Bandung

Edisi: 1, 2007

Tebal; 150 halaman

Si pengarang punya peluang untuk menekuni sesuatu yang menyenangkan, menarik, dan membesarkan hati, yang nantinya hanya akan ditawarkan kepada seorang pembaca personal. Sungguh sial baginya bila tidak ada orang yang dibuatnya senang….(Robert Louis Stevenson)

Seorang pengarang mati dikubur oleh teksnya sendiri. Ini bukan soal penting. Yang paling penting bagaimana sang “almarhum” benar-benar meninggalkan warisan yang baik. Alangkah ruginya jika para “ahli waris” mengumpat sial gara-gara apa yang diwariskan itu ternyata jelek, tidak bermanfaat, tidak membahagiakan. Pembaca butuh sesuatu yang berharga. Karena itu, sebelum sang penulis “mati”, sebaiknya bekerja secara baik. Sebab hal itu untuk kebaikan, baik bagi pembaca maupun penulis sendiri.

Ya, bekerja dengan baik akan menjelma amal kebaikan. Karena itu, meracik buku juga harus berdasarkan proses yang baik, tidak grusa-grusu, asal terbit dan ambisius memimpikan untung besar. Salah-salah malah menimbulkan caci-maki pembaca. Fakta di pasar membuktikan, banyak penerbit yang gagal memenangkan persaingan di pasar buku bukan karena kualitas karya penulisannya, melainkan karena ketidakcerdasan mengemas buku secara baik.

Bagaimana membuat buku yang baik?

Sekalipun judul buku ini lebih menonjolkan sisi komersil ketimbang nilai esensial dalam dunia karya penulisan, namun maksud di dalamnya tidak demikian. Istilah bestseller di sini pengertiannya adalah sebuah ending yang baik dari proses yang baik. Sebab larisnya buku di pasaran dibuktikan oleh Agung Prihantoro lebih banyak banyak disebabkan karena faktor kualitas karya, bukan sekadar karena popularitas penulis atau fungky-nya kemasan sampul buku.

Dengan memahami prinsip dasar menerbitkan buku yang baik, Agung memberikan pemahaman bahwa ada empat komponen dasar yang harus dijadikan pijakan secara serius baik oleh penulis maupun penerbit. Keempat komponen itu ialah, menulis, menerjemahkan, menyunting dan mengemas. Empat hal ini dibahas secara berurutan dalam empat bagian, yang masing-masing berisikan tujuh bab. Bagian menulis dan mengemas lebih berkenaan dengan bestseller, sedangkan menerjemah dan menyunting dengan kepentingan dan kebutuhan pembaca.

Buku ini adalah hasil karya kumpulan artikel seputar dunia penulisan dan penerbitan yang sebagian besar pernah diterbitkan majalah Matabaca antara tahun 2003-2005,-diedit dan ditambahkan esei baru guna memenuhi penjelasan lengkap.

Bagian ‘Menulis’ membicarakan pandangan kontemporer tentang tulis-menulis dan hubungannya dengan penerbit. Di era kompetitif sekarang ini, kata Agung, menuntut para penulis untuk tak sekadar menulis, melainkan juga memikirkan cara menjual gagasan yang ditulisnya. Hal ini mengantarkan para penulis ke pintu penerbit. Mengingat adanya penerbit-penerbit nakal, para penulis harus hati-hati dalam menawarkan naskah agar tidak dirugikan (hlm 11). Sedangkan pada bagian kedua, Agung menjelaskan tentang keruwetan tradisi penerjemahan di lingkungan penerbit. Salahsatu penyebabnya adalah menjamurnya karya terjemahan yang tergolong buruk.

Bagian III mengupas teknik-teknik penyuntingan dan tugas editor. Editor memikul tanggungjawab untuk mengolah naskah menjadi buku yang memuaskan pembaca laiknya kepuasan tamu restoran yang menyantap makanan lezat bin nikmat (hlm 12). Selain itu, editor juga bertugas mengemas buku sebaik mungkin dengan tujuh komponen penting buku yang perlu dirias untuk menggaet pembaca: sampul, tentang penulis, judul, kata pengantar, indeks, sinopsis, dan endorsement (pengesahan).

Dengan beberapa tips, kiat dan arahan tersebut pembaca akan lebih mengenal dunia penulisan dan perbukuan secara lebih mendalam. Empat sila utama di atas merangkum hal ihwal dapur redaksi penerbitan. Di dalamnya memang tidak sekadar memuat tips dan kiat secara normatif, melainkan menyertakan fakta buruk dunia penerbitan Indonesia yang sampai kini belum teratasi.

Langkah ini disampaikan oleh penulisnya, tentu bukan untuk menjelek-jelekkan penerbit, melainkan lebih sebagai bentuk kritik terbuka agar penerbit tidak larut terbawa arus comberan, baik dalam proses penyuntingan, penerjemahan, editing maupun penjualan, termasuk kebiasaan buruk ‘menilep’ royalti penulis.

Apa yang dilakukan penulis dalam buku ini saya kira relevan dengan salahsatu tujuan esensial menerbitkan buku, yakni menyenangkan pembaca. Senang di sini tentu bukan dalam pengertian humor, melainkan meluas dalam arti memberi pengetahuan, memudahkan sesuatu yang sulit, kemudian menjelmakan buku sebagai lentera pencerahan para pembaca.

Penulis maupun penerbit yang sial adalah mereka yang telah melukai hati pembaca dengan menyajikan buku tidak berkualitas. Di Indonesia, para penerbit mungkin paling besar dosanya. Sampai sekarang masih saja buku-buku bermutu jelek dijual mahal. Pembaca tidak hanya tertipu dengan sampul bagusnya, melainkan ditipu hak mendapat ilmu pengetahuannya karena kualitas terjemahan yang bobrok dan editing yang ngawur.

Sebagian besar isi buku ini telah mengurai benang kusut dunia penulisan dan penerbitan di Indonesia. Barangkali satu hal yang paling penting ditambahkan adalah, bahwa sampai sekarang pembaca (konsumen) belum menyadari status dirinya sebagai pemegang hak penuh jika dirugikan oleh penerbit buku yang telah merusak banyak karya dengan kualitas buruk terjemahan.

Sayangnya, media massa sampai sekarang juga belum memberikan kesempatan pada rubrik-rubrik buku untuk mewadahi protes pembaca. Atau, jangan-jangan karena pembaca kita yang tidak kritis terhadap buku?

FAIZ MANSHUR, Penulis Lepas tinggal di Bandung

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s