Sajak-sajak
05pmMon, 08 Sep 2008 17:11:52 +000011 at 8pm09 | In ungkap | Leave a CommentTuhan yang tertelan
-saat khusuk tanpa sembahyang telah tiada ialah Tuhan
tertelan nafas menuju awan
bersamaku berbaling-baling melangit
melupakan yang fanabumi yang tertinggal
kabut menggantinya
bukan, bukan janggal
ini kehendak hukum kekalyang biasa menjadi luar biasa karena dialpakan
yang luar biasa menjadi biasa karena diamalkanIa benar kasih berbagi
meniadakan diri
menjelma aku-kau
melupakan kau
menjadi akubegitulah kasih-Nya
rela dirinya meleburkan menjadi aku
aku-Kau bisa dalam kau
kapan saja kau mewujudkanyang bebal tak beraku-kau
karena takabur kau merasa mampu tanpa-Nya26-11-2008
Sang pemimpi
tak ada cinta di kota yang tak berhati
tapi desa tak memberi materi
kita pun pergi
menyusuri arah pelangi“kenapa harus mengejar materi jika kehilangan cinta,”
katamu ketika kita masih di desa
“kenapa menyembah cinta jika kita perlu materi,”
katamu berubah saat sudah jadi orang kotamemang bukan soal desa atau kota yang kita masalahkan
hati dan pikiran yang merdeka tak kan diperkosa suasana
tetapi terkadang kita lelah dengan semua;
nyatanya hidup adalah perjalanan tak berlautansuatu ketika aku bermimpi tentang masa depan
sebuah keindahan tanpa petaka
tentang kota yang indah di jauh desa
tentang desa yang jauh di keindahan paronamapada akhirnya kitalah pejalan itu
pemimpi yang berpindah-pindah ranjang
untuk selalu memimpikan impianapa kabar kenyataan?
26-11-2008
No Comments Yet »
Blog at WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.