Untuk Jocky Suryoprayogo

05pmSun, 18 Jan 2009 17:06:58 +000006 at 18pm01 | In umum | Leave a Comment

Sungguh-sungguh terjadi.

Saya tulis demikian bukan apa-apa, itu semata karena saya ingat koran kedaulatan rakyat di yogya yang punya rubrik khusus sungguh-sungguh terjadi. Katanya takwa. Nah, kalau ini ada kesungguhan kejadiannya. Ceritanya begini:

Terhitung sejak 1 Desember 2008, sampai malam ini minggu 18 Januari 2009 saya nongkrong berlama-lama di komputer tanpa kenal hari, jam dan waktu. Pokoknya selama mata kuat melek, saya tongkrongi komputer. Nongkrong di komputer itu memang kebiasaan harian saya. Tapi kali ini agak spesial karena saya sedang fokus nulis novel, yang pada malam jumat kliwon beberapa minggu lalu saya putuskan berjudul Eunema Elish.(kalau mau tahu cari sendiri ke dukun google jenis makhluk apakah ini). Novel saya itu tentang kisah dunia pesantren, dunia lama saya, yang menyenangkan dan sekaligus menyebalkan. Sama seperti dunia Anda semua. Pasti ada yang menyenangkan dan sebaliknya. Dari 1 desember-18 januari itu kalau dihitung berarti 49 hari. Biasanya malam hari saya nulis sehabis magrib, sampai lupa waktu. Kadang Cuma tahan jam 2 malam, lalu nonton sepakbola, kadang pula sampai subuh. Jam 6 pagi tidur, lalu bangun jam 12 siang, atau jam 1nya. Istirahat sebentar nulis lagi sampai magrib. Begitulah seterusnya. Bukan tenaga yang capek, tapi pikiran. Edan tenan. Nulis untuk satu bahasan tema dengan setting panjang, plus imajinasi panjang sangat melelahkan. Stres itu pasti. Kalau sudah stres? Ya saya minggat keluar. Menyeruak ke tengah kota bandung, sekedar cari angin. Sejam dua jam lalu pulang, bawa buku, istilah penulis pemula, cari inspirasi dari karya orang lain. Tapi buku tak membuat cukup obat stres. Selera rokok saya tiba-tiba berubah. Kepinginannya aneh-aneh. Kalau biasanya saya suka merokok classmild sekarang rasanya gak enak. Gonta-ganti rokok lain. Pokokmen waton ngebul. La ndilalah kalau begitu. Saya jadi agak irit. Ternyata rokok murahan juga enak. Sayang di bandung tak ada rokok Togog seperti yang sering dirokok tetangga saya di Temanggung sono. Wah, kalau ada rokok togog pasti novelnya tambah seru kali ye….Klembak menyan.

Buku dan rokok tak mengobati stres saya. Selanjutnya? Musik. Ya. Setelah sepuluh hari menulis ada yang terasa kurang, saya lari ke musik. Yang paling saya cari tiada lain adalah lagu-lagu Kantata Takwa, yang sering diplesetkan teman-teman pesantren Krapyak Yogya dulu kala dengan istilah Katanya Takwa.

Buat saya lagu tua. Tapi terasa nyaman didengar. Entahlah kenapa, selera musik saya ini kok sejak dulu tak berubah dari masa-masa usia 10-19 tahunan. Rasanya musiklah yang mengisi kekosongan jiwa saya. Tak setiap musik yang mengisi kehampaan jiwa saya itulah yang saya sukai. Salahsatu, dan mungkin yang paling saya sukai adalah lagu-lagu Bento, kantata takwa dan sejenisnya. Kuno, Kata teman saya. Ya, memang. Soeharto sudah kita tentang kok masih ngelawan. Akh, biarin. Saya tak pakai logika untuk sebuah seni. Hanya suka. Titik. Ya kalau dipikir-pikir lagu kantata takwa itu kan syairnya konservatif untuk ukuran santri seperti saya….haha (boleh sombong kan?) Coba baca teksnya, itu isinya duka lara seorang hamba menghadap Tu(h)an. Hubungan hamba dengan Tuan yang sedang ngesot-ngesot minta diwelasi. Sementara seiring dengan perkembangan spiritualitas saya, saya ini tak punya Tu(h)an. Yang saya punyai adalah h. Ya, h saja lah. Atau kalau mau pakai istilah yang agak alim, ya ilah. Tetapi saya lebih suka la-ilaha illa ana. (Pasti anda tidak suka karena menganggap saya sombong bukan? “Emang gue pikilin…..kata keponakan saya.).

Tetapi sekali lagi, saya tak pakai logika kalau menikmati musik. Cengeng atau heoris asal menyentuh hati saya ya itulah yang saya sukai. Menikmati sesuatu kok harus pakai rasionalitas ya justru jadi beban dong. Nulis novel itu sudah meres otak je. Boleh dong sesekali saya tak rasional,-seperti Anda yang sedang tak rasional baca tulisan ini. Haha…

Kantata buat saya adalah sesuatu barang mewah. Bukan soal spiritualitasnya, tetapi soal ekspresi hebatnya para seniman itu. Rasanya gemetar saya dengar musiknya. Kalau mau produksi lagi dengan jenis musik seperti itu saya siap nulis liriknya, tapi dibuat yang lebih horisontal hubungan antara manusia dengan tuhannya. Jangan ngemis-ngemis minta tolong gitu. Ayat kursinya diganti dengan ayat meja atau ayat sofa….haha…(sombong banget deh….aku)

Akh…akh…akh…

Malah ngelantur. Tujuan saya menulis ini kan mau nyapa seseorang yang nampak misterius, aneh dan membuat saya kagum sejak saya masih SD dulu kala. Kenapa jadi nulis yang aeng-aeng…hehe.

Jocky Suryoprayogo. Pemijat organ God Bless. Matanya sayu (saya selalu terpesona dengan mata sayu lho). Wajahnya khas. Menyimpan kekhusukan (itu asumsi dulu waktu saya masih kecil), sekarang saya katakan, raut mukanya penuh kegelisahan. Pasti tepat kan?

Dulu kalau saya pandangi bungkus kaset God bless atau Kantata, atau gambar Mas Jocky di koran, kok perasaan saya bilang ndremena’ake. Kasihan tapi mengagumkan. Bayangkan, setiap saya lihat mukanya selalu saya ingat lirik-lirik lagu dan musiknya yang aduhai. Setiap karya lahir dari mas Jocky, entah dinyanyikan seniman edan atau artis cantik tetap saja merdu. Puitis. Cengeng pun menarik. Mas Jocky bisa menjaga jarak antara idealisme buta dengan pasar. Ia tak pernah terlalu larut dalam pasar, dan tak juga ngotot dengan warna musik idealismenya. Itulah jalan tengah. Itulah asumsi saya. Karena itu saya tak heran kalau lagu-lagunya tetap populer, dalam artian bukan budaya popnya musisi lain. Yang tak bisa saya tolak dari keunggulan Mas Jocky ialah kemahiran memilih nada dan suara organnya. Selalu punya warna khusus dan menarik. Kekaguman ini sama dengan suara gitar ian antono. Pokokmen, sesuatu yang dikerjakan dengan jiwa, itu pasti menarik. Sumpah. Dan karena itulah saya menyukai setiap hal yang berdasarkan penjiwaan.

Eit, sudah dulu ya Mas…

Saya ini kalau nulis gak bisa berhenti. Nanti bisa jadi buku biografi Anda malah repot….hehe….

Saya nerusin nulis novel dengan tetap mendengarkan musik-musik karya Anda. Saya janji akan saya sambung beberapa hari nanti, entah kapan.

Saalom

NB: e, nambah. Terus terang, website Anda ini kurang nyaman dibaca Mas. Aduh, sebagai seniman yang top, agaknya harus disesuaikan dengan konten Anda dong. Pasti bisa. Buatlah ruang-ruang yang nyaman dengan jenis huruf yang enak dinikmati. Ilustasi yang baik juga. Pasti bisa.

No Comments Yet »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment

You must be logged in to post a comment.

Blog at WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.