Mata Pena Kaum Muda untuk Perubahan

Standar

Mata Pena Kaum Muda untuk Perubahan
Oleh FAIZ & FENDRY PONOMBAN

“Tidakkah kita, bangsa Indonesia, ikut pula berdebar-debar hati, kalau kita mendengar kabar tentang madjunja usaha Ghasi Zaglul Pasha membela Mesir? Tidakkah kita ikut berhangatan darah kalau kita mendengar kabar tentang haibatnja pergerakan Mohandas Karamchand Gandhi atau Chita Ranjau Das membela India? Tidakkah kita berbesar hati pula mendjadi saksi atas hasilnja usaha Dr. Sun Yat Sen, “Mazzini Negeri Tiongkok” itu?. Bahwasanja, bahagia jang melimpahi negeri-negeri Asia jang lain adalah kita rasakan sebagai melimpahi diri kita sendiri; malangnja negeri-negeri itu adalah malangnja negeri kita pula.” (“Soekarno, Indonesianisme dan Pan-Asiatisme, Soeloeh Indonesia Moeda, 1928 dalam Di Bawah Bendera Revolusi”, Djakarta, 1963)

BEGITULAH gaya pemuda Soekarno membangkitkan semangat bangsa Indonesia, kaum inlander yang tertindas pada zaman penjajahan. Soekarno muda dengan berapi-api membesarkan semangat rakyat Indonesia akan keniscayaan suatu perubahan. Kepada rakyatnya, ia kabarkan peristiwa-peristiwa penting mengenai pembebasan nasional negeri-negeri di Asia. Tulisan Soekarno ini ditulis untuk bangsanya pada awal abad ke-20, di tengah-tengah perjuangan melawan sistem yang menindas melalui wajah kolonialisme. Masih di abad yang sama, di pengujung abad ke-20, gerak sejarah di republik ini juga mengalami situasi yang hampir sama. Bedanya, sang penindas adalah rezim Orde Baru, yang sejak empat tahun lalu secara simbolik berhasil dipatahkan melalui lengsernya figur Soeharto setelah berkuasa selama tiga dasawarsa. Era reformasi yang dipelopori mahasiswa telah membawa Indonesia dalam fase sejarah baru bernama era transisi demokrasi. Sayangnya, situasi transisi yang kita harapkan terwujudnya perbaikan di segala bidang ini justru dimanfaatkan oleh elite politik untuk kepentingan-kepentingan sempit kekuasaan tanpa pernah sedikit pun menaruh perhatian pada demokratisasi dan keadilan sosial. Bahkan, lebih ironis pula para kaum reformis (gadungan) tersebut kini terus-menerus merayakan pesta pora harta rakyat melebihi parahnya kejahatan politik Orde Baru. Melihat situasi buruk dalam masa transisi ini tentu saja kita kaum muda — terutama mahasiswa — memiliki tugas mengevaluasi dan mencoba terus konsisten memperjuangkan idealisme yang belum tuntas kita raih. Saatnya berbenah dan menuntaskan proses perubahan ini ke arah Indonesia baru yang lebih baik.

Dalam rangka mencapai idealitas tersebut tentu saja ragam cara, strategi, dan taktik akan kita gunakan dalam proses ini. Apabila di masa-masa akhir kejatuhan rezim diktator Soeharto, mahasiswa lebih mengedepankan aksi-aksi reformasi berbentuk demonstrasi, kini saatnya mahasiswa memadukannya dengan aksi-aksi informasi yang diharapkan dapat menjadi sarana sosialisasi ide dan gagasan terhadap publik luas. Sosialisasi ide demokrasi, liberalisasi wacana keilmuan dll., menjadi penting bagi mahasiswa ketika ternyata elemen-elemen rakyat selama ini tak lebih dari kawanan kerbau yang dicocok hidungnya oleh para elite politik yang tega mengelabuhi rakyatnya lewat janji-janji pemilu. Barangkali jika rakyat memiliki kecerdasan yang lebih berkaitan dengan apa itu demokratisasi, penegakan hukum dan HAM, ekonomi kerakyatan dll., mungkin reformasi ini tidak akan mengambang dalam situasi ketidakpastian seperti saat ini. Oleh karena itu, gerakan kaum muda terutama mahasiswa yang sering disebut sebagai agen perubahan sosial (agent social of change) suatu bangsa haruslah mengembangkan aksi-aksinya dalam bentuk lain dari sekadar demonstrasi.

Memang penting demontrasi sebagai bentuk kontrol terhadap kekuasaan, namun jika hal itu tidak diimbangi dengan penyebaran ide dan gagasan berkaitan dengan isu-isu sosial, politik ekonomi, dll. kepada masyarakat, jangan kaget jika isu-isu tersebut terpisah dari kekuatan massa bawah (civil society) yang kita dambakan selama ini untuk bangkit dan sadar menuntut hak-haknya. Keterpisahan tersebut bisa kita saksikan dari berbagai aksi-aksi demontrasi yang konon membela rakyat, namun ternyata rakyat sendiri tidak merasa diperjuangkan oleh mahasiswa. Dan karena ini, kaum muda, akhirnya semakin terpuruk dalam wilayah sosial berwatak elitis nan jauh dari persentuhan sejatinya dengan rakyat.

Bagaimana menjembatani pertautan ide-ide kaum muda mahasiswa yang selama ini terpisah dengan rakyat?

Sesungguhnya jalan keluarnya adalah melalui tulisan. Berkaca dari pengalaman sejarah pergerakan di mana pun di dunia ini, ternyata para pemimpin pergerakan selalu tidak melupakan metode pergerakan dengan menggunakan tulisan. Tengoklah bagaimana Soekarno, pemimpin besar pergerakan negeri ini melakukan aksi-aksi melawan penguasa kolonial. Pemuda Soekarno yang dikenal pemberani dan kritis menggunakan media sebagai sarana mempertemukan gagasan-gagasannya mengenai Indonesia baru. Koran Soeloeh Indonesia Moeda, antara lain adalah tempat yang sering digunakan Soekarno untuk menyosialkan ide-ide segarnya. Konsekuensinya, hidupnya menjadi taruhan karena ia telah menjadi incaran Belanda. Akan tetapi, ia menuai simpati dari rakyat yang membaca tulisan-tulisannya. Rakyat semakin bersemangat dalam perjuangan menentang kesewenangan Belanda. Di era pergerakan sebelum Soekarno, para aktivis juga melakukan hal yang sama. Sebutlah Mas Marco Kartodikromo di Surakarta yang mengelola terbitan Sinar Djawa. Tulisan-tulisan pemuda ini membawa semangat solidaritas bangsa terjajah yang pada gilirannya bermuara pada semangat perlawanan. Sebelumnya dapat disebut Raden Mas Tirtoadhisuryo, seorang jurnalis pertama bumiputera. Ia mengelola Soenda Berita (1903) dan Medan Prijaji (1907). Melalui mata pena-mata pena merekalah, semangat, strategi, dan obor perjuangan tetap menyala-nyala. Beberapa tokoh pergerakan serta organisasi-organisasi pergerakan lain yang pantas disebut di sini adalah Dr. Wahidin Soedirohoesodo (Retno Dhoemilah), Abdul Muis (Pewarta Hindia), Serikat Islam (Oetoesan Hindia-dengan redaktur Tjokroaminoto, 1912), Indische Partij, De Expres-diredakturi oleh Douwes Dekker), Haji Misbach di Surakarta menerbitkan Medan Moeslimin, 1915 dan Islam Bergerak, pada 1917.

Tokoh seperti Tan Malaka misalnya, lebih memilih tulisan sebagai media perjuangan daripada muncul di depan publik untuk memimpin pergerakan. Ia justru menjadi mitra debat para tokoh pergerakan seperti Soekarno, Hatta, dan Sjahrir. Tulisan-tulisan Tan Malaka, selain berisi taktik dan strategi perjuangan juga berisi pandangan-pandangan konsepsionalnya mengenai Indonesia baru. Hari-hari setelah proklamasi kemerdekaan, barulah Tan Malaka tampil secara terbuka di antara tokoh-tokoh pergerakan politik. Ia muncul di rumah Ahmad Subardjo di Jakarta. Suasananya menjadi haru dan menggemparkan karena Tan Malaka telah terlanjur dianggap sosok yang misterius. Kancah revolusi membuat komunikasi antartokoh pergerakan ini tidak bisa berjalan intim. Hari-hari setelah kemerdekaan, ia juga sempat bertemu Soekarno. Saat itu Tan Malaka mengemukakan pemikirannya mengenai jalannya revolusi nasional, seperti apa yang harus dilakukan bila Soekarno-Hatta mati atau ditangkap. Tulisan-tulisan Tan Malaka antara lain “Het Vrij Woord” (kata yang bebas) untuk surat kabar Bolshevik berbahasa Belanda yang terbit di Semarang. Artikel pertamanya keluar pada akhir Maret 1920 yang berjudul “Aemoedeland” (Negeri yang Miskin).

Artikel ini berbicara mengenai kemiskinan yang menimpa rakyat Indonesia sejak akhir Perang Dunia I yang semakin parah. Ia menceritakan ironi sebuah bangsa memiliki kekayaan berlimpah. Artikel pendeknya yang berjudul “Engelsche Arbeldstoestenden in 1919” (Keadaan Kaum Buruh Inggris pada tahun 1919) terdiri atas kutipan dari surat kabar Labour Gazette tentang pengangguran, pemogokan, upah, harga, dan serikat-serikat pekerja. Tulisan ini mampu menyemangati kaum buruh pada waktu itu. Sementara itu, “Verbruikscooperaties voor Javansche proletariaat” (Koperasi-koperasi Konsumsi untuk Proletar Jawa) berisi tulisan mengenai kemiskinan dan harga yang melambung. Tulisan-tulisan mengenai strategi dan taktik perjuangan dapat ditemukan antara lain dalam brosur berjudul “Sovyet atau Parlement”. Ini berisi suatu pandangan teoretis mengenai bentuk pemerintahan, yang membandingkannya dengan teori kiri pada waktu itu. Konsep Indonesia Baru dapat ditemukan dalam “Naar de Republik Indonesia” (Menuju Republik Indonesia). Di sini ia menyampaikan banyak hal seperti politik, ekonomi, sosial, pendidikan, dan bahkan militer.

Tan Malaka sempat mengecam pemberontakan PKI 1926 melalui karya berjudul “Massa Actie” (Aksi Massa), pada tahun 1927 ketika ia berada di Singapura. Dalam buku ini Tan Malaka menggarisbawahi revolusi Indonesia sebagai sebuah revolusi yang hanya mungkin terjadi dan berhasil kalau didukung oleh massa rakyat terorganisasi. Demikian pula dengan Mohammad Hatta. Tokoh pergerakan yang dikenal kalem, namun cerdas dan kaya konsep ini adalah juga seorang penulis setia semasa perjuangan. Tulisan-tulisan Hatta hingga saat ini dapat kita temukan dalam buku “Demokrasi Kita” serta dalam “Kumpulan Karangan”. Dalam buku ini dapat ditemukan bagaimana pandangan Hatta mengenai demokrasi Indonesia, sistem ekonomi Indonesia, serta peran pemuda. Betapa dahsyatnya hasil goresan suatu mata pena di tangan kaum intelektual sehingga dalan sejarah dunia pun kita melihat bagaimana rezim-rezim diktator kewalahan menghadapinya. Pramoedya Ananta Toer misalnya telah membuat penjajah Jepang, pemerintah Orde Lama, dan pemerintah Orde Baru harus kerepotan menangkap dan memenjarakannya hanya karena ia menulis. Hanya menulis!

***

BERKACA dari perjalanan sejarah, memang sudah saatnya para kaum muda mengedepankan sosialisasi ide dan gagasannya untuk terus mengawal jalannya transisi yang kini belum menemukan titik cerah ini. Mereka yang memang dekat dengan tradisi akademis seperti menulis suatu karya ilmiah, kiranya tidak membatasi dirinya sekadar demi memenuhi tugas-tugas akademik. Jangan sampai kemampuan ini hanya teronggok begitu saja di dalam menara gading universitas. Situasi ketidakberdayaan mahasiswa menulis yang selama ini diprihatinkan para pengamat dan kaum jurnalis kiranya harus segera dijadikan kritik terbuka bagi mahasiswa, terutama para mahasiswa yang aktif dalam organisasi-organisasi gerakan oposisi. Kecenderungan malas menulis dan lebih suka menggagas idenya secara monoton lewat lisan sesungguhnya bukanlah tradisi yang membangun karakter kaum muda sebagai calon pemimpin bangsa yang baik. Oleh karena itu, menjadi penting jika organisasi-organisasi pergerakan mahasiswa seyogyanya menerbitkan media sendiri untuk menjembatani ide-ide reformasi dan demokratisasi terhadap publik yang lebih luas. Keuntungan metode seperti ini sedikit demi sedikit akan membawa transformasi kesadaran demokratisasi di kalangan rakyat. Alasannya, selain itu mereka bisa berdebat mengenai konsep strategi dan taktik gerakan agar terjadi dialektika yang lebih sehat.

Perjalanan masih panjang. Kaum muda Indonesia masih harus terus tekun dan tak kenal lelah mengawal proses perubahan yang berlangsung. Kerja-kerja untuk demokrasi dan terutama untuk kemanusiaan tidak boleh dihentikan. Sosialisasi ide melalui tulisan adalah alternatif metode perjuangan yang efektif untuk saat ini. Dalam penuangan ide-ide, kaum muda ini bisa memakai dua hal yang kita kombinasikan, yakni melalui media kreativitas organisasi dan jangan lupa menulis di media massa yang kini terus bertambah dengan ragam kolom yang telah disediakan. Dengan menulis dan menulis, apa pun bidang keilmuan yang digeluti, dalam waktu singkat wajah media kita pun akan berubah menjadi ajang kreativitas dalam menyampaikan pesan-pesan tercerahkan. Dengan banyaknya tulisan apa pun bentuknya, niscaya wajah media massa di Indonesia tidak lagi didominasi oleh pemikiran-pemikiran tua yang kurang mampu menangkap realitas perubahan zaman yang sedang bergolak. Dengan ragam tulisan yang terus digulirkan kaum muda, niscaya tradisi debat terbuka tanpa harus terikat oleh sebuah pertemuan langsung akan menjadi alternatif menukar ide-ide kritis. Dengan tulisan pula kemudian kita akan mengejawantahkan kehidupan ini melalui pemaknaan nilai-nilai ilmiah karena salah satu mewujudkan penulisan yang baik dipastikan dituntut untuk rajin membaca karya bermutu. Lewat tulisanlah kita bisa menjaga semangat reformasi, melalui tulisanlah kita tetap hidoep.

Ya, dengan menulis pula kehidupan kita menjadi lebih hidup, memiliki makna kehidupan bagi diri sendiri sekaligus memberikan makna hidup kepada orang lain. Dan, Mas Marco Kartodikromo salah seorang “Bapak Jurnalis” kita pernah berkata, “Apakah sebabnja ini soerat kabar kami namaken ‘hidoep’? Tidak lain soepaja jang merasa hidoep dengan lekas mengoempoelkan tekatnja boeat bergerak goena mentjapai “hidoep” kita sedjati, jang gilang gemilang dan soetji, tidak tertjampoer dengan pikiran jang kedji. Menilik aliran doenia dan menetepi koewadjiban kita sebagi manoesia, seharoesnja kita tidak poetoes pengharepan boeat berdaja oepaja goena melakoekan koewadjiban mendjoendjoeng kemanoesiaan kita.” (Marco, Hidoep, Hidoep, 1 Juli 1924).***

Naskah ini pernah dimuat di Harian Pikiran Rakyat 17 April 2003

2 thoughts on “Mata Pena Kaum Muda untuk Perubahan

  1. banus

    perubahaan…

    saat ini sering dimotori atau digerakan oleh kaum muda khususnya mahasiswa. saya melihat bahwa sejak gerakan mahasiswa di tahun 1965 dan sekitarnya dan tahun 1998 dan seterusnya memiliki persamaan sifat.

    mahasiswa melakukan aksi demonstrasi dalam menuntut adanya perubahaan, namun disisi lain mahasiswa tidak mampu menyiapkan dirinya sebagai orang yang menjalankan perubahan pasca gelombang aksi demonstrasi.

    sejarah mencatat,
    bahwa reformasi berjalan sangat lambat karena mahasiswa hanya mengharapkan pemerintah. sampai hari ini keadaan rakyat belum jauh berubah. masarakat tetap miskin. sekolah tetap mahal, malah mau dibisniskan.

    lalu, dimanakah mahasiswa?

    menurut hemat saya,
    mahasiswa belum mampu bertindak lebih jauh untuk menyelamatkan bangsa karena mahasiswa belum memiliki visi sejauh dan sebesar para pemuda seperti soekarno, hata dan tan malaka.

    karena itu,
    kita perlu menaikan standar mutu para mahasiswa agar mereka mampu memimpin perjalanan perubahaan manakala perubahaan belum menunjukan perbaikan yang signifikan.

  2. Mahasiswa adalah agen of change, yang bisa memberikan perubahan kepada rakyat.nggak usah nunggu pemerintah mas kelamaan. salam kenal mas mahasiswa dari kami yang ada didesa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s