Politisi dan Polilisasi Bom

Standar

Politikus Memolitisasi Bom

Lagi-lagi negara kita diguncang bom. Kali ini menimpa Hotel Marriott yang berada di pusat Ibu Kota negara. Masyarakat kembali dicemaskan oleh aksi ini. Ledakan Bom Bali yang masih kuat dalam ingatan kita dengan berbagai korbannya ternyata kini terulang kembali. Karena meledak di Jakarta, tingkat sensitivitasnya pun lebih besar dari yang meledak di Bali. Ironinya, ledakan berlangsung ketika sistem pengamanan di Jakarta diperketat sehubungan penyelenggaraan Sidang Tahunan MPR. Aparat pemerintah pun kini dibuat malu lagi. Pasalnya rangkaian aksi teror yang selama ini terus menghantui kita tidak berhasil dihentikan. Sebagaimana biasanya, aparat pemerintahan pun lebih suka berspekulasi untuk sekedar menutup-nutupi kelemahannya. Kini spekulasinya mengenai siapa pelaku peledakan itu tidak jauh berbeda dari yang sebelumnya, yakni mengarah pada kelompok-kelompok yang selama ini dianggap sebagai musuh pemerintah, semisal Gerakan Aceh Merdeka (GAM), kelompok militan agama. Mungkin sebagian besar masyarakat pun hampir berpikiran sama. Bedanya masyarakat sering juga berspekulasi terhadap kekuatan sisa-sisa rezim lama, sementara pemerintahan sekarang tidak menganggapnya demikian.

Analisis lain adalah bahwa aksi bom ini juga bisa bermotifkan politik yang sedang berlangsung sekarang ini. Hal itu tentu saja tidak bisa disalahkan. Sebab, pada tahun depan, negara kita akan melaksanakan pemilu. Sementara saat ini baru saja digelar Sidang Tahunan MPR-RI. Dalam konteks ini bisa saja aksi tersebut terjadi karena ada pihak-pihak tertentu yang menginginkan kekacauan dan kemudian bisa menuai hasil panennya dari teror bom tersebut. Terutama mereka yang tidak suka proses politik berjalan demokratis, maka kekacauan dengan jalan teror besar-besaran akan dijadikan legitimasi politik agar peranan politiknya terakomodasi. Dengan adanya kekacauan maka dengan sendirinya pihak tersebut akan bisa melapangkan politiknya karena berhasil menyapu kekuatan demokrasi yang selama ini selalu menentangnya. Jalan itu sangat logis memuluskan karier politiknya, atau setidaknya pertahanan statusquo-nya karena hanya dirinya, kelompoknya yang bisa mengatasi situasi kacau. Bahkan di beberapa negara, setiap kali kudeta, sebelumnya seringkali terjadi kekacauan politik yang telah didesain. Biasanya yang menerapkan strategi dan taktik seperti ini adalah pihak militer, baik yang masih berkuasa maupun mereka yang telah berada di luar arena kekuasaan namun menginginkan kekuasaannya lagi. Barangkali hal ini agak gegabah untuk dijadikan sandaran analisis militer di negara kita. Pasalnya kita belum melihat faktanya, hanya sedikit indikasi yang mengarah ke hal-hal yang demikian itu. Misalnya, kalau selama ini aparat pemerintahan (baca; Menko Polkam, dan Kepolisian) tidak punya legitimasi untuk menerapkan UU Terorisme yang represif dan bertentangan dengan HAM, maka dengan adanya bom seperti ini memungkinkan dirinya untuk mengatakan bahwa UU Terorisme itu, sekalipun bertentangan dengan HAM tetap harus diberlakukan.
Dengan meledaknya Bom di Hotel Marriott Selasa minggu lalu, tentu saja dampak politik dan ekonominya sangat mempengaruhi kehidupan sosial-politik di negara kita. Kepercayaan dunia internasional, terutama dalam kalangan bisnis dan pariwisata pasti turun, pemulihan ekonomi pasti terhambat. Lebih luas dari itu, kehidupan masa mendatang sangat sulit diprediksikan lagi dengan dengan berbagai ”teori-teori” optimisme. Sebab, seka-lipun seperangkat teori dan pengalaman sanggup membaca gejala-gejala fenomenal, namun jika ledakan bom terus menghantui masyarakat, terutama pelaku bisnis, maka pelaku bisnis akan punya pikiran untuk tidak memilih masuk dalam ling-karan setan tersebut. Memang, ledakan bom yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab ini, sekarang telah menjadi salah satu bagian dari fenomena kehidupan masyarakat Indonesia. Tidak ada kata aman, damai, dan tenteram bagi negara kita kalau serangkaian aksi terorisme terus terjadi. Harapan kita untuk melepaskan diri dari lingkaran setan terorisme ini tentu saja pada pihak pemerintah yang sedang berkuasa membawa mandat rakyat. Namun sayangnya, pemerintah dengan aparatnya selalu saja gagal mengatasi persoalan-persoalan seperti ini. Bahkan lebih dari itu, karena sebagian besar para pejabat tinggi negara kita bermental ”politikus”, maka tragedi bom pun dijadikan alat politik untuk memperkuat posisi kekuasaanya, atau paling tidak mencari muka di depan publik. Para politisi ini tak malu-malunya ikut berkoar-koar di depan umum, sementara untuk menghentikannya tidak pernah punya prestasi yang bisa dikatakan baik.
Ironis pula apa yang terjadi selama ini, dalam setiap kali negara kita tertimpa tragedi kekerasan seperti itu, pihak-pihak yang bertanggung jawab (baca; aparat) yang seharusnya menjalankan tugasnya menyelidiki, menangkap para pelaku-nya, justru sibuk menebar sensasi-sensasi politik yang menyesatkan. Mereka sibuk menuding pihak-pihak tertentu yang sama sekali belum bisa dibuktikan. Dan karena itu pula, berbagai kasus dengan sendirinya seringkali hilang ditelan arus politisasi para petinggi negara.
Melihat hal-hal tersebut tentu saja kita semakin prihatin. Hidup dalam situasi krisis seperti sekarang ini, masyarakat masih harus menanggung kejamnya politisasi para petinggi negara yang sama sekali tidak punya sensivitas kemanusiaan. Hidup di negara Indonesia sekarang ini memang teramat repot. Negara yang notabene sebagai satu-satunya institusi ternyata tidak bisa melindungi warganya. (Faiz Manshur)

Naskah ini pernah dimuat di Harian Sinar Harapan 13 Agustus 2003

 

One thought on “Politisi dan Polilisasi Bom

  1. setelah membaca tulisan ini hatiku jadi tergugah…

    “bahwa menjadi aktivis partai politik beken itu penting, syukur syukur bisa dompleng terkenal dan cari makan disana”

    kutub. aktivis terlarang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s