Aktivis Pergerakan dan Pilihan Partai-Populis

Standar

Jumat, 3 Desember lalu, Budiman Sudjatmiko, bekas Ketua Umum Partai Rakyat Demokratik (PRD) menyatakan diri masuk ke Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Budiman tidak sendirian, tetapi bersama dengan 51 aktivis pro-demokrasi yang berdomisili di Jakarta. Di kalangan aktivis politik, masuknya Budiman menjadi isu yang cukup menarik dibicarakan. Pasalnya, sosok Budiman selama ini lebih dikenal sebagai aktivis gerakan kiri yang idealis, dan berbeda dengan kebanyakan politisi PDIP atau politisi partai-partai lain yang dikenal pragamatis dan korup. Terlebih saat ini, PDIP sudah semakin banyak mengalami perubahan orientasi politik. Platform PDIP yang selama ini dikenal membela wong cilik, sudah semakin kabur orientasinya. Bahkan kecenderungan pragmatisme politik di tubuh PDIP baik sebelum maupun sesudah Megawati berkuasa sudah semakin terlihat. Salah satu pengurus PDIP, Kwik Kian Gie pernah menyatakan secara terbuka, PDIP sebagai partai terkorup. Di sinilah kemudian, seorang sosok aktivis radikal, idealis, seperti Budiman Sudjatmiko kini bergaul dengan para politisi itu. Banyak yang kontra tentunya. Di mailing list organisasinya, Pergerakan-Indonesia (PI), Budiman bahkan dituding sebagai aktivis oportunis, tak tahan lapar, lupa diri. Ini adalah kenyataan di mana seorang aktivis/politisi mendapatkan tantangan atas pilihan politiknya. Kalau memang benar Budiman dkk. hendak melakukan eksekusi visi politiknya pro rakyat, orang akan terus menunggu. Kalau ke depan tidak ada realisasi program, barangkali orang akan berkata good bye Budiman, bahkan bisa jadi good bye para aktivis. Karena itu, dalam tahap awal ini, Budiman harus mampu menjelaskan secara argumentatif tepat kepada publik; kenapa ia memilih PDIP. Di mata publik, sosok Budiman Sudjatmiko lekat dengan dunia politik. Dia bukan aktivis Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), sekalipun hampir kegiatan politiknya selama ini bergandeng tangan dengan aktivis LSM. Sejak awal keterlibatannya, Budiman sendiri sudah tampil sebagai aktivis partisan dengan memimpin organisasi Pergerakan Rakyat Demokratik (1996-1997), yang tidak lama kemudian berubah menjadi Partai Rakyat Demokratik (1997-2000). Setelah keluar dari PRD karena alasan visi dengan kawan-kawannya, Budiman untuk sementara waktu melanjutkan studinya di London, sambil tetap aktif di organisasi Pergerakan Indonesia pimpinan Faisal Basri. Setelah melalui pertimbangan politiknya, ia merasa harus mengambil sikap politik. Pilihan Budiman masuk dalam partai tentu tidak menjadi soal. Sebab, perjuangan politik jalur parlemen lebih strategis ketimbang jalur non parlemen. Perjuangan politik tanpa kekuasaan sudah jelas naifnya. Para aktivis pergerakan tidak mungkin terus-menerus berada di jalanan untuk menentukan arah perubahan bangsa Indonesia. Benar, kekuasaan sarat dengan pragmatisme, tapi dalam kekuasaan pula jalan lapang bagi tindakan konkret perjuangan politik. Di negara manapun, ketika iklim liberalisasi politik sudah matang, aktualisasi politik mesti memakai jalur parlemen. Ini bukan hanya berlaku bagi aktivis politik yang partainya berkuasa, tapi juga berlaku bagi mereka yang partainya kalah, atau berada di luar kekuasaan melalui gerakan oposisi parlementer. Lain urusannya, jika para aktivis yang bergerak dalam gerakan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang cenderung “non politis.” Karena itu, pilihan para aktivis (Budiman Sudjatmiko, dkk) masuk ke dalam partai politik, hanya relevan jika dimulai dari pertanyaan, kenapa PDIP yang menjadi pilihan? Kenapa tidak membentuk partai baru? Lalu, strategi apa yang tepat agar para aktivis ini tidak terjebak pada pragmatisme politik?

***

Dalam diri para aktivis, kuat adanya kesadaran membentuk suatu partai ideal; mempunyai visi-misi yang jelas, profesional mengatur organisasi, tampil dengan sumber daya manusia yang handal, serta menjadi kebutuhan rakyat mayoritas. Tapi, sampai saat ini, keinginan itu masih sebatas angan-angan. Kombinasi antara partai intelektual-populis yang didambakan, ternyata belum bisa menemukan kombinasinya yang tepat. PRD yang didirikan dan dipimpin oleh Budiman Soedjatmiko, cenderung kelewat elitis. Isu kerakyatan dan sosialisme-demokratik ternyata hanya milik segelintir anak muda yang heroik tanpa pernah menyentuh kesadaran politik rakyat. Demikian juga dengan Partai Uni Demokrasi (PUDI), sampai sekarang tidak ada gaungnya. Partai Amanat Nasional (PAN), Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) yang mencoba bereksperimen menjadi partai modern pun sampai sekarang belum beranjak dari kecenderungan ‘sektarianisme-politik’ massa tradisionalnya. Akibatnya perolehan suara kedua partai ini tidak jauh dari hitungan basis massa organisasinya, Muhamadiyah dan Nahdlatul Ulama. Terbukti, PDIP masih menjadi pilihan rakyat dengan bukti kemenangan pemilu 1999 dan kemenangan Partai Golkar pada pemilu 2004. Menjelang Pemilihan Umum tahun 2004 lalu, kita masih mendengar akan munculnya partai ideal yang digagas Dr. Syahrir dengan nama Partai Indonesia Baru (PIB) jelmaan dari organisasi Perhimpunan Indonesia Baru. Tapi naas, sekalipun dalam tubuh partai PIB diisi oleh mereka yang berlatar belakang aktivis LSM dan kaum cendekiawan akademis, partai ini tidak banyak dilirik massa. Justru partai Demokrat (PD) dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) cukup mendapat suara dari massa. Tapi, PD tidak bisa direpresentasikan sebagai partai intelektual berbasis massa. Partai ini tidak lebih dari kepentingan mengantarkan Susilo Bambang Yudhoyono menjadi Presiden RI. Sementara PKS, sekalipun mengedepankan profesionalitas politik modern, tapi tidak bisa dikatakan partai pluralis dan populis, karena basis ideologisnya sektarian. Masihkah ke depan akan muncul partai baru yang ideal? Pertanyaan ini sangat sulit dijawab. Basis-basis massa populis sudah berada di partai-partai besar, yakni PDIP, Golkar, PPP, PKB, dan PAN. Saya kira, dalam lima hingga sepuluh tahun ke depan, kalaupun partai idealis muncul, belum bisa menyedot massa dari partai-partai itu. Tanpa usaha keras membangun organisasi dan penyatuan platform politik di kalangan aktivis pergerakan, barangkali partai idealis akan senasib dengan PRD, PUDI, atau PIB. Dari sinilah kemudian, sikap politik para aktivis pergerakan ditantang. Apakah tetap akan beridealisme dalam ruang kecil organisasinya, atau masuk dalam ruang politik besar yang sudah tersedia. Karena itu, jika ada pilihan dari para aktivis pergerakan untuk masuk ke dalam partai populis besar seperti PDIP, Golkar, PKB, PAN, PD tidaklah keliru. Partai-partai ini tidak sektarian, bervisi demokratis dan pluralis, serta punya basis massa populis. Terutama PDIP, PKB, PAN dan Golkar, massa pemilihnya tidak sekadar merepresentasikan sebagai kenyataan politik an sich, melainkan sebagai representansi sosial. Sebagai kenyataan sosial, massa pendukung keempat partai ini mempunyai ikatan struktural dan kultural berkaitan dengan ideologi massa yang ada di Indonesia. PDIP dipilih oleh massanya karena memiliki magnet ideologi marhaenisme yang ternyata masih lekat dengan kesadaran ideal kaum abangan. Massa di kalangan abangan lebih cenderung suka memilih PDIP karena imajinasi politiknya tersalurkan. Golkar punya ideologi modern yang luwes untuk semua kalangan. Tidak frontal mengedepankan ide modernisasi dan tidak masuk dalam konfrontasi dengan ideologi lain. PKB jelas adalah representasi politik kaum santri tradisional, dan PAN representasi politik kaum santri modernis. Jika kita mau obyektif melihat partai-partai sebagai kenyataan sosial, maka tidak ada salahnya para aktivis, intelektual, cendekiawan yang memilih garis perjuangan politik partai masuk dalam salahsatu partai tersebut. Memang, partai-partai populis itu bukan tanpa masalah. Baik Golkar, PDIP, PKB, maupun PAN sama-sama punya problem mendasar, yakni kepentingan status-quo para seniornya dan masalah akut bernama KKN. Tapi dengan demikian, bukan berarti kita tidak boleh memilih partai-partai itu untuk menyalurkan idealisme. Problem-problem mendasar dalam organisasi seperti minimnya pengalaman berorganisasi, cenderung korup, pragmatis, tak punya visi, akan muncul terus di partai manapun, tak terkecuali partai baru. Problem-problem di atas menurut saya juga termasuk persoalan sosial yang merata. Dengan buruknya realitas yang ada, saya kira pilihan para aktivis masuk dalam partai-partai populis menjadi salahsatu yang perlu diwacanakan lebih mendalam.

Tinggal partai mana yang dianggap cocok dari partai-partai populis yang pluralis itu. Yang menjadi tantangan terberat adalah, sudahkan para aktivis pergerakan yang ingin atau yang sudah masuk dalam partai populis yang penuh dengan problem itu punya strategi jitu untuk mewujudkan partai ideal? (Faiz Manshur)

Naskah ini pernah dimuat di Harian Pro-Aksi 7 Desember 2004

3 thoughts on “Aktivis Pergerakan dan Pilihan Partai-Populis

  1. setelah membaca tulisan ini hatiku jadi tergugah…

    “bahwa menjadi aktivis partai politik beken itu penting, syukur syukur bisa dompleng terkenal dan cari makan disana”

    kutub. aktivis terlarang.

  2. qahar

    Saya tidak tahu harus berkomentar apa. Saya tetap memiliki kepercayaan bahwa selalu ada orang2 yang memiliki idealisme di dalam partai dan struktur negara. Hanya saja, dalam pluralitas yang besar di Indonesia, aktivis-idealis justru terkadang terjebak untuk memilih membangun identitas -korpus tertutup- di tengah pilihan yang kejam.
    Entahlah, tapi saya salut atas keberanian Bang Budiman, dan saya masih berkeyakinan.. bahwa harapan sekecil apapun, layak untuk diperjuangkan. Meski harus di bayar dengan kegagalan dan caci maki.

  3. tidak dapat dipungkiri bahwa aktivis pasti terlibat dalam kegiatan politik praktis. artinya bahwa, aktivis untuk dapat melaksanakan fungsi intelektualnya (menyampaikan dan memperjuangkan kebenaran dan keadilan bagi seluruh masyarakat), harus berpolitik. dengan kata lain, politik praktis adalah salah satu cara bagi aktivis untuk melaksanakan fungsi intelektualnya.

    aktivis yang terlibat dalam politik praktis tidak dapat dikatakan menghianati fungsi intelektual mereka. aktivis dikatakan menghianati fungsi intelektualnya apabila dalam berpolitik praktis memiliki tujuan untuk memenangkan suatu gairah awam (kepentingan dan kesombongan)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s