Gerakan Radikal PRD

Standar

Membaca Radikalisasi PRD

“Dalam sejarah modern kita selamanya Angkatan Muda menjadi motor perubahan ke arah yang lebih maju, kecuali angkatan 66.”
Pramudya Ananta Toer

Kata-kata Pramoedya Ananta Toer tersebut tentu punya bukti yang bisa dipertanggungjawabkan. Melalui buku-buku sejarah, kita akan mendapat dengan istilah ‘angkatan’yang menjadi rujukan untuk menandai kiprah kaum muda. Sebut saja angkatan 1908, angkatan 1928, angkatan 1945, angkatan 66(?) dan angkatan 1990. Saking sentralnya peranan kaum muda, Benedict Anderson (1972) berani mengatakan, bahwa “peranan inti pada awal pecahnya revolusi di beberapa negara, seperti Belanda, Inggris, dan Indonesia diambil bukan oleh para cendekiawan yang terasingkan, bukan juga oleh kelas-kelas tertindas, melainkan oleh kaum muda, atau sebagaimana orang-orang Indonesia menyebutkan mereka, pemuda.” Mencatat kiprah kaum muda angkatan 1990, sejarah politik Indonesia tidak akan lepas dari keterlibatan para pemuda yang tergabung dalam Partai Rakyat Demokratik (PRD).Tanpa menafikan peranan pemuda di luar PRD, karya Miftahuddin ini cukup berhasil memotret peranan para pemuda yang disebut dengan ‘angkatan 1990. Sebelum menjadi partai politik, PRD dengan pemimpinnya, Budiman Sudjatmiko, merupakan sayap gerakan mahasiswa yang dikenal radikal, bahkan sangat radikal untuk ukuran partai-partai moderat lain. Di dalamnya diisi oleh anak-anak muda yang kritis dan radikal, “sangat radikal untuk ukuran generasi diskotik,”kata Romo Mangun Wijoyo. Radikalisme sebagai sebuh konsep yang dimaksud dalam buku ini adalah; “suatu paham atau aliran dalam gerakan social politik, yang ingin membangun suatu tatanan sosial politik yang lebih baik, dengan cara menghancurkan akar kejahatan sosial, dengan menghilangkan institusi-institusi lama yang dianggap penghalang bagi tegaknya demokrasi.”(hlm 12)

Membaca buku ini kita bisa menilai, bahwa radikalisasi PRD bukan hanya sekadar sikap waton wani (asal berani), tapi memakai landasan teori politik yang rasional, sistematis dan terorganisir. ”Memang banyak gerakan kaum muda, juga banyak gerakan radikal. Tapi gerakan kaum muda radikal, dan sekaligus terorganisir dengan rapi (memiliki struktur keorganisasian yang jelas, mekanisme yang jelas, ideologi yang jelas, paradigma yang jelas, memiliki pembukuan dan administrasi yang jelas dan seterusnya, sungguh tidak banyak.(hlm;19) Dan, PRD-lah yang menurut Miftahuddin memiliki kategori itu. Atas dasar inilah Miftahuddin memfokuskan penelitian pada gerakan radikal pemuda yang berada dalam barisan PRD beserta organ onderbouw-nya. Hal lain yang dijadikan alasan mengulas tentang seluk beluk PRD adalah, eksistensi PRD memiliki protret gerakan oposisi yang selalu ‘kontras’ dengan mainstream kebijkan rezim orde baru. Dari sini, PRD tampak memiliki signifikansi dengan kebutuhan demokrasi di Indonesia, yaitu kekuatan yang mengontrol kekuasaan secara konsisten. Kedua, PRD terbukti memiliki suatu intensitas yang tak gampang mengendur dalam memperjuangkan keyakinannya. Ini dibuktikan oleh tetap solidnya PRD sementara pada pemimpinya dipenjara, diculik dan mengalami penyiksaan yang hebat dari militer. Bahkan sebagian anggotanya dibunuh dan hilang entah kemana. (hlm; 20)

***

Pembahasan buku ini meliputi; bagian pertama, memaparkan kiprah kaum muda dalam sejarah bangsa Indonesia; masa pra-kemerdekaan, masa revolusi kemerdekaan, masa orde lama, dan masa orde baru. Bagian kedua; memaparkan situasi sosial-politik yang melatarbelakangi munculnya berbagai aksi mahasiswa pada tahun 1990-an, yang salah satu buahnya adalah berdirinya Persatuan Rakyat Demokratik yang kemudian menjelma menjadi Partai Rakyat Demokratik (PRD). Bagian ketiga; memaparkan sejarah lahirnya PRD yang dipilah ke dalam enam tahapan. Bagian ke empat; uraian yang merupakan analisa penulis terhadap data-data yang berhasil dikumpulkan. Sekalipun PRD adalah partai yang berorientasi kerakyatan, tapi lahir dari rahim gerakan mahasiswa. Situasi kehidupan mahasiswa di bawah pemerintahan Soeharto tahun 1980-1990-an nyaris termarginalkan. Depolitisasi dicanangkan melalui kebijakan “Normalisasi Kehidupan Kampus” dan “Badan Koordinasi Kemahasiswaan” (NKK dan BKK). Bagi sebagian kelompok, kebijakan ini dianggap wajar, sebab dunia akademik memang harus “murni” dari kegiatan politik. Tapi, bagi sebagian kelompok yang lain, khususnya para aktivis dan intelektual kritis, kebijakan NKK/BKK adalah buah dari pengingkaran hak politik mahasiswa. Mahasiswa yang sadar akan pentingnya partisipasi politik itulah yang kemudian membentuk PRD. Kebanyakan mereka para aktivis mahasiswa yang berada di Yogyakarta. Namun, dalam konteks yang lebih luas, kelahiran PRD juga didorong oleh situasi politik yang dinamis dalam beberapa tahun sebelum Soeharto jatuh. Dari hasil riset ini menunjukkan, “PRD lahir melalui suatu proses yang panjang, yang setiap penggal sejarahnya penuh diwarnai dengan dialektika (aksi-reaksi) dengan lingkungan sosial-ekonomi-politik) yang melingkupi.”(hlm;175)

Bagaimana radikalisasi PRD dijelaskan?

PRD sebagaimana pernah dikatakan Vedi Hadiz ke dalam kelompok “radikal”, bukan kelompok Organik, Islam dan Pluralis, karena PRD punya tuntutan perubahan struktur masyarakat dan bukan hanya perubahan pemerintah, seperti LSM atau kelompok mahasiswa lain. Dengan basis ideologinya “Sosial Demokrasi Kerakyatan” PRD memulai radikalisasi sebagai bentuk dasar dari gerakan perubahan. Aspek keradikalan PRD dapat dilihat dalam rencana program, strategi dan taktik perjuangan. (naskah terlampir dalam buku ini). Di situ PRD memperjelas konsetrasi kepemimpinan/kepeloporan politik guna meradikalisasi, memilitansikan kaum buruh dan petani. Lahirlah istilah “partai kader berbasis massa.” Para kader adalah mereka anggota-anggota partai yang maju baik dalam pemikiran politik maupun kemampuan mengelola organisasi dan memimpin massa. Radikalisasi para pemuda PRD memiliki beberapa tahapan. Ada tiga tahapan yang paling penting dicatat dalam buku ini. Pertama, tahapan internalisasi nilai dalam diri para aktivis.Kedua, eksternalisasi, dimana para aktivis PRD mulai melakukan respon berupa protes terhadap berbagai bentk ketidakadilan disekelilingnya. Ketiga, tahap mengkristalnya nilai-nilai perlawanan terhadap sistem sosial politik yang melingkupinya, dari yang semula hanya bersifat protes, menjadi bersifat ideologis. (hlm 223)

Sejarah membuktikan apa yang dilakukan PRD punya keberhasilan dalam banyak hal, terutama mempelopori isu politik. Isu pencabutan Dwi Fungsi ABRI/TNI, Referendum Timor-Timur, Pemilu Multi Partai misalnya, telah menjadi satu tonggak lahirnya sejarah baru di Indonesia pasca era orde baru. Hanya saja memang, PRD punya kegagalan dalam meraih konstituen dalam pemilu. Slogan “partai kader berbasis massa” tak terwujud, kecuali sebatas menjadi “partai kader,”- itupun dengan segala kerepotan gerak politiknya. Yang perlu dijadikan masukan atas kekurangan pada buku ini adalah, ketiadaan perdebatan wacana ideologi. Kita tahu, sosialisme yang dijadikan asas PRD adalah ideologi yang sudah bangkrut di berbagai negara. Mungkin karena ini pula para pemimpinnya sudah berubah pemikiran lebih memilih keluar. Baru-baru ini Budiman Sudjatmiko masuk ke Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Sementara bekas pemimpin PRD yang berada di luar gelanggang politik partai seperti, Hendri Kuok, Faisal Reza, Rahardjo Waluyo Jati, Margiono, Noor Hikmah, Mugiyanto sudah punya pandangan yang agak liberal dan lebih berwawasan. Akhirnya, hadirnya buku ini tetaplah penting dibaca, sebab di dalamnya banyak memberikan catatan politik nasional, terutama kiprah kaum muda dalam menentang tirani orde baru.(Faiz Manshur)

3 thoughts on “Gerakan Radikal PRD

  1. suwardi

    Kalo saya mau bilang…mungkin sekaran sudah terbalik karena,, suaranya gak kdengaran lagi tu… kali-lai ja lagi sibuk dengan partai barunya… biar mereka Anggota Dewan Gt Lho… begitu seh kata mereka.. maaf kalo salah…

    Boleh-boleh ja seh menurut gw… tapi jnagn lupa mengorganisir buruh dan tani dongk..karena merekalah yang menjadi kekuatan pokok perubahannya.

    Thanks

  2. PRD…

    partai apaan tuh…
    radikalnya mana…? Tak lebih cuma pinter bikin kelompok jadi jadian…
    kalau yang generasi awal masih bisa dihormati…lah PRD sekarang (2006)…?

    iya kapan kita bikin partai baru…

    kutub

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s