Melihat Modernitas dari Sisi Mentalitas

Standar

modernitas1.jpg

 

Judul Buku: Filsafat Modern (Dari Machiavelli sampai Nietzsche). Penulis : Dr F Budi Hardiman. Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

SECARA general, ada dua cara untuk memahami modernitas. Pertama, memakai perangkat analisis sosiologi. Kedua, memakai analisis filsafat itu sendiri. Yang pertama lebih cenderung melihat modernitas sebagai gejala sosial di mana transformasi masyarakat bergerak maju ditentukan oleh determinasi ekonomi. Yang kedua lebih melihat modernitas sebagai bentuk kesadaran/pemikiran manusia. Dengan kata lain, modernitas dipandang dari sisi internal yang menekankan paradigma epistemologi.

Buku ini hadir sebagai buku sejarah pemikiran yang menekankan sisi epistemologi dalam melihat modernitas. Sisi ‘mentalitas modern’ yang notabene menjadi fundamen peradaban Barat modern diulas secara rinci, detail, namun padat. Hardiman juga menekankan bahwa filsafat harus dipahami bukan sebagai pengetahuan murni sebagaimana pemahaman para filsuf pramodern, melainkan terlibat praktis para pemikirnya. Sebab, bagaimanapun juga, ‘filsafat modern tidak bisa kita pahami dalam vacuum, sebab filsafat, betapapun murni dan transendentalnya, dihasilkan oleh para pemikir yang hidup dalam semangat zaman tertentu’ (hlm 1). Sisi ‘mentalitas modern’ perlu dilihat secara khusus dan mendetail, sebab sains, teknik, ekonomi kapitalis, negara hukum, dan demokrasi modern berpangkal dari sebuah pemahaman filosofis yang lalu menjadi elemen modernitas, yakni: subjektivitas (rasionalitas), ide kemajuan (the idea of progress), dan kritik. Ada 50 filsuf yang dibahas dalam buku ini, di antaranya dibahas secara rinci mengembangkan ketiga elemen itu dalam berbagai ajaran, mulai dari humanisme renaisans, rasionalisme, empirisme, kritisisme, idealisme, materialisme, sampai dengan vitalisme.

Istilah ‘modern’ berasal dari kata Latin ‘moderna‘ yang artinya ‘sekarang’, ‘baru’ atau ‘saat kini’ (Jerman: jetztzeit). Atas dasar pengertian asli ini Hardiman berpendapat bahwa manusia senantiasa hidup di zaman ‘modern’, sejauh kekinian menjadi kesadarannya. Apa yang membedakan pemikiran modern dengan pemikiran zaman sebelumnya yang disebut ‘tradisional’ itu? Pemikiran abad pertengahan ditandai oleh kesatuan, keutuhan, dan totalitas yang koheren dan sistematis, yang tampil dalam bentuk metafisika atau ontologi. Dalam corak pemikiran ini kenyataan dilukiskan sebagai sebuah tatanan sistematis yang hierarkial: mulai dari kenyataan yang tertinggi sampai terendah, dari yang terabstrak sampai yang paling konkret. Dari sini, kita bisa melihat hadirnya filsafat modern sebagai suatu pemberontakan terhadap filsafat abad pertengahan yang didominasi oleh metafisika tradisional.

Karakter khas dalam filsafat modern adalah memasukkan kesadaran bukan sebagai agenda tambahan, melainkan sebagai proyek utama. Ada tiga hal yang memperlihatkan hal ini, yaitu: subjektivitas, kritik, dan kemajuan. Dengan subjektivitas dimaksudkan bahwa manusia menyadari dirinya sebagai subjectum, yaitu sebagai pusat realitas yang menjadi ukuran segala sesuatu. Hardiman memberikan satu ilustrasi dalam konteks apa subjektivitas modern itu lahir. Sembari mengutip karya Jacob Burckhart (1859), seorang sejarawan Swiss, Eropa pada abad pertengahan lebih mengenali dirinya sebagai ras, rakyat, partai, keluarga, atau kolektif. Lewat modernisasi yang dimulai di Italia di zaman Renaisans manusia lebih menyadari dirinya sebagai individu. Menjelang akhir abad ke-1334, kata Jacob, sekonyong-konyong Italia dipenuhi pribadi-pribadi; penghalang individualisme telah dibobol; ribuan wajah individual menspesialisasikan dirinya tanpa batas (hlm 3).

Menyimak sejarah filsafat modern, terasa bahwa proses dalam pemikiran manusia tidak mengenal terminal. Setiap lahir satu pemikiran yang baru, di masa kemudian akan lahir kritik sebagai paham pemikiran yang baru. Ragam pemikiran silih berganti tanpa mengenal kebenaran tunggal. Dan F Budi Hardiman, si jago filsafat itu, memberikan kesadaran pada kita untuk tidak berpuas diri atas satu aliran pemikiran, sebab sebuah pemikiran hanya relevan untuk masa tertentu. (Faiz Manshur)

Naskah ini pernah dimuat di Harian Media Indonesia 14 Mei 2005

2 thoughts on “Melihat Modernitas dari Sisi Mentalitas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s