Ledakan Penduduk

Standar


 

 
Kecemasan atas Pelipatgandaan Manusia

Faiz Manshur (10/05/2005 – 10:42 WIB)

Jurnalnet.com (Bandung): Data Lembaga Bank Dunia bulan Juli lalu memperkirakan, populasi global akan meningkat menjadi lebih dari 8,3 miliar pada tahun 2025, dari hanya sekitar Rp5,3 miliar saat ini. Persoalannya riil, bahwa semakin banyak manusia hidup, kebutuhan dasar seperti pangan, sandang, perumahan, pendidikan, lapangan kerja, persoalan kriminalitas, serta penciptaan kedamaian menjadi tuntutan utama umat manusia. Kita cemas karena itu tuntutan selalu kalah dengan ledakan demi ledakan penduduk di berbagai negara.

Adalah Thomas Malthus telah jauh-jauh hari memberikan perhatian soal ini. Melalui Essay on the Principle of Population, yang kontroversial itu ia hadir dalam buku ini bersama dua pakar kependudukan lain, Julian Huxley dan Frederick Osborn. Malthus melihat, kelahiran yang tidak terkontrol, menyebabkan penduduk bertambah menurut deret ukur. Ia mengawali esai itu dengan paradigma evolusi perkembangbiakan. Dari proses itu, manusia akan terus berevolusi dengan pelipatgandaan.

Memang, pelipatgandaan dengan sendirinya terkontrol oleh hukum alam berupa kematian. Tapi sekalipun kematian terjadi, bahkan terjadi secara massal karena terjadi bencana alam misalnya, tetap tidak sebanding dengan jumlah pelipatgandaan. Lalu, muncullah kecemasan atas pelipatgandaan.

Masalahnya sederhana, bahwa seluruh manusia yang ada harus tetap makan, dengan standar gizi yang meningkat, karena itu produksi makanan harus dinaikkan beberapa ratus persen, dari tingkat produksi saat ini. Dari sini, sektor pertanian secara langsung terkena beban untuk menghasilkan pangan yang mencukupi.

Kekhawatiran Malthus ini sudah terjadi jauh kita hidup, tepatnya tahun 1830. Sekarang tentu lebih banyak masalahnya. Sebab, selain ledakan penduduk, kita melihat kenyataan di mana tuntutan meningkatkan kuantitas dan kualitas produksi makanan, pertanian sebagai basis persediaan makanan harus bersiap menerima kenyataan ketidakpastian iklim dan jatuhnya waktu cuaca yang semakin tak menentu, di samping harus ‘melawan’ ledakan penduduk.

Bunga rampai dari tiga penulis dalam buku ini dapat dikatakan sebagai himpunan esai yang “bernafsu” untuk sama-sama memperkenalkan persoalan krusial kehidupan umat manusia berkaitan dengan ledakan pelipatgandaan spesies bernama manusia. Huxley dan Osborn yang secara tidak langsung banyak berutang budi pada ‘seniornya’ Malthus menyumbangkan banyak perspektif baru dari seniornya.

Sekalipun Malthus kita kenal sebagai bapak doktrin sosial yang menaruh besar terhadap prinsip dasar kehidupan, tapi doktrin itu tidak bisa dipakai sepenuhnya untuk era sekarang. Abad 19, di mana Malthus hidup kondisi global dengan berbagai penciptaan teknologi mutakhir belum terpikirkan olehnya. Malthus hanya mengawali bagaimana umat manusia memperhatikan prinsip kehidupan bersama dalam situasi makin banyaknya manusia.

Soal kesuburan reproduksi misalnya, oleh Malthus dianggap satu-satunya persoalan kenapa ledakan penduduk terjadi. Karena itu, ia menawarkan solusi preventif agar masyarakat menahan laju pertumbuhan penduduk dengan pembatasan dan penangguhan.

Solusi ini tentu benar dan tepat, tapi tidak serta-merta dipraktikkan masyarakat. Berbagai catatan survei yang ditulis Huxley menunjukkan, masyarakat cenderung mengabaikan soal pembatasan, sekalipun mereka dalam kondisi penderitaan dan kemiskinan.

Di beberapa daerah di negara miskin misalnya, derita kehidupan mereka tidak menyurutkan hasrat reproduksi massal. Soal kemauan masyarakat menerima pembatasan anak sangat terkait dengan tingkat kualitas sumber daya manusia (SDM). Masyarakat yang sadar akan pentingnya kehidupan yang berkualitas, akan dengan sendirinya memahami pembatasan anak sebagai hal yang penting.(Hlm 98)

Berbeda dengan Malthus, Huxley, dan Osborn melihat regulasi tingkat kesuburan, bukan sebagai karunia Tuhan tempat yang harus disyukuri setiap kali seorang perempuan mengandung. Atau, sebagaimana pendapat Malthus, sebagai problem. Keduanya justru menempatkan regulasi tingkat kesuburan sebagai tempat menggiring manusia ke arah keseimbangan dengan alam dan lingkungannya

Kedua penulis itu memberikan apresiasi tentang pentingnya keterlibatan teknologi modern bukan semata-mata untuk bekal masyarakat, tapi juga untuk membawa manusia secara keseluruhan kepada tingkat kesehatan, pendidikan, dan kemerdekaan yang baru. Huxley menekankan perlunya memasuki era keseimbangan dengan lingkungan fisik dan biologis, dan peranan-peranan yang dapat dimainkan oleh pengendalian angka kelahiran dan tanggung jawab manusia dalam pengembangan konservasi dan ekonomi.

Melanjutkan pemikiran Huxley, Osborn lebih mempertimbangkan persoalan pelik dalam menumbuhkan perlunya mengurangi kesuburan dan cara Barat modern membantu dunia lain yang memiliki kepekaan agama, politik, untuk mencapai tingkat kesuburan rendah.

Terlepas dari lapuknya teori Malthusian dalam mencari solusi atas persoalan kependudukan modern, buku ini sangat berharga bagi siapa saja yang ingin memahami pemikiran sosio-ekonomi abad ke-19 dengan berbagai varian konflik antar manusia. (miol)***

Judul : Ledakan Penduduk
(Prinsip-Prinsip Kependudukan dan Pengendaliannya)
Judul Asli : Three Essay On Populations, A Mentor Books, New York 1960
Penulis : Thomas Malthus, Julian Huxley, Frederick Osborn
Penerbit : Nuansa Cendekia, Bandung, Desember 2004
Penerjemah : Didin Solahuddin
Tebal : 226 Halaman

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s