Nasionalisme, Globalisasi dan Kemerdekaan

Standar

 Tanggal 17 Agustus tahun ini mengantarkan Negara Kesatuan Republik Indonesia ke usia 60-tahun. Apakah usia ini tergolong tua atau muda itu sesuatu yang relative. Yang jelas, setiap hadir momentum peringatan dalam setiap tahun, selalu kita membutuhkan pemaknaan. Dan memang demikianlah, dalam momentum seperti itu kebutuhan memaknai akan terasa lebih baik ketimbang tidak.Bicara tentang peringatan 17 Agustus 1945 melalui perspektif politik erat kaitannya dengan ide besar nasionalisme (sebagai ide pembentukan bangsa Indonesia), Globalisasi (sebagai persoalan kontemporer) dan kemerdekaan rakyat (sebagai harapan). Ketiga terminologi besar ini sangat relevan kita bicarakan sekarang. Sekalipun ketiganya sifatnya abstrak, namun keberadaannya selalu terkait dengan persoalan-persoalan konkret yang setiap hari dihadapi rakyat Indonesia.Bicara tentang nasionalisme, tak perlu saya kutipkan pendapat Ben Anderson yang terkenal dan membuat banyak intelektual di Indonesia larut dalam polemik filosofis yang tidak membumi itu. Saya hanya ingin menjelaskan secara singkat bahwa ide nasionalisme tetap masih akan tetap bertahan dalam benak setiap orang, khususnya ketika membicarakan persoalan Negara. Soal privatisasi Badan Usaha Milik Negara, kebijakan kenaikan harga Migas, atau soal jual beli beras antar negara selalu berhubungan dengan kehidupan riil rakyat Indonesia. Dan nasionalisme, tak pernah absen dalam setiap perbincangan mengenai hal-hal semacam itu. Kita tahu, sebelum lahirnya bangsa Indonesia dengan perangkatnya berupa Pemerintahan Republik Indonesia, konsep nasionalisme sudah hadir mendahului sebelumnya. Perkembangan-perkembangan pokok pada masa pra-kemerdekaan, seperti dicatat M.C. Ricklefs, (1981) munculnya ide-ide baru mengenai organisasi dan dikenalnya devinisi-devinisi baru dan lebih canggih tentang identitas. Ide baru tentang organisasi meliputi bentuk-bentuk kepemimpinan yang baru. Sedangkan pemahaman tentang identitas meliputi analisis yang lebih mendalam tentang lingkungan agama, sosial, politik,  dan ekonomi.Dari sini kita bisa mengidentifikasi, di balik konsep nasionalisme, ada faktor dominan yang mendorong lahirnya Bangsa Indonesia. Tumbuhnya ide organisasi dan definisi-definsi sebagaimana dicatat Ricklefs di atas tidak lahir dari langit, melainkan melalui suatu proses panjang. Kenapa orang getol berorganisasi pada masa pra kemerdekaan, tak lain karena kuatnya keinginan lepas dari belenggu penjajahan ekonomi. Kaum elit borjuasi yang terdidik merasa sadar kemiskinan diakibatkan oleh monopoli penjajah. Mereka merasa memiliki sumberdaya alam, tetapi hasil panennya tidak mereka dapatkan. Tumbuhlah kesadaran untuk melawan. Tapi melawan tidak akan berhasil tanpa adanya kesatuan tindakan. Organisasi kemudian menjadi pilihan untuk menghimpun, mengatur dan mendidik barisan perlawanan. Identifikasi yang demikian itu menjelaskan kepada kita, bahwa nasionalisme yang tidak punya korelasi dengan nasib rakyat, nasib per-individu warga negara, adalah nasionalis-hipokrit. Nasionalisme kini memang dipertanyakan eksistensinya. Hadirnya globalisasi bukanlah sekadar ide hasil kecanggihan retorika para intelektual. Globalisasi serupa watak dengan nasionalisme,-yang lahir dan berkembang melalui proses panjang pergulatan ekonomi manusia. Bedanya, doktrin globalisasi adalah “pasar” yang pro internasionalisasi, universalitas dan kebebasan.  Sementara doktrin nasionalisme justru cenderung menutup diri pada lokalitas kebangsaan. Nasionalisme, tidak anti dengan dunia luar, namun agak phobi terhadap unsur asing. Baik globalisme maupun nasionalisme sama-sama bukan ide suci. Sekalipun gagasan nasionalisme pada mulanya adalah konsep pembebasan rakyat melawan kejahatan kolonialisme, namun varian di dalamnya cenderung mengajak orang berpikir sempit, sentimental, bahkan ada unsur rasisnya. Kalau tidak kritis, bisa membuat orang menjadi kumpulan hewan gembalaan. Di Jerman dan Italia, pada masa perang dunia kedua, lahirnya fasisme juga  tidak lepas dari kesadaran nasionalisme.Sekilas, globalisasi nampak memberikan peresepktif hidup yang lebih longgar. Kebijakan neoliberal memungkinkan setiap kekuatan berkompetisi secara terbuka. Informasi mudah menyebar ke seantero jagat. Di sini, globalisme nampak memiliki spirit pembebasan bagi manusia dari keterbelakangan, atau setidaknya membuka gerbang ke arah kemajuan. Namun demikian, mereka yang tidak kuat modal baik finansial maupun sumberdaya manusia handal, bisa jadi malapetaka. Berbagai negara berkembang yang sudah patuh oleh kebijakan pasar global, seperti Argentina dan beberapa negara di Afrika nasibnya semakin terpuruk. Rakyat Indonesia berharap agar bangsa ini segera merdeka dari penjajahan nasionalisme baik itu nasionalisme model orde lama, orde baru maupun nasionalisme orde reformasi. Rakyat berharap kemerdekaan ekonomi, kemerdekaan berpendapat, kemerdekaan menjadi manusia beradab segera terwujud. Benar, bahwa rakyat mendengar pekik merdeka yang diteriakkan oleh orang-orang “yang sudah merdeka” di jajaran elit politik.  Tapi, apakah rakyat miskin teraniaya itu benar-benar merasa merdeka? (Faiz Manshur)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s