Bernuzulul Quran Bersama Bung Karno

Standar

Ber-Nuzulul-Quran Bersama Bung Karno (1)

Oleh FAIZ MANSHUR Bagi umat Islam, bulan suci Ramadhan memiliki sekian banyak keistimewaan. Selain kemuliaan malam Laitaul Qadar (Lailat Al-Qadar), suatu malam yang oleh Al-Quran dikatakan sebagai bulan yang “lebih baik dari seribu bulan,” juga ada peringatan hari kemuliaan yaitu malam Nuzulul Quran. Peristiwa itu sangat monumental mengingat Nabi Muhamad untuk pertamakalinya menerima wahyu di gua hira’. Di negeri kita, peringatan Nuzulul Quran sudah tidak asing lagi. Bahkan secara resmi, Presiden Republik Indonesia tak pernah absen memberikan pidato pada tiap-tiap peringatan dilaksanakan. Tradisi ini sudah dimulai semenjak Presiden pertama RI, Ir Sukarno. Tulisan ini sengaja ingin mencatat kembali pemikiran Bung Karno yang secara khusus disampaikan pada pidato peringatan Nuzulul Quran. Dalam sebuah buku “Bung Karno dan Wacana Islam” (Kenangan 100 Tahun Bung Karno), penulis menemukan lima naskah Pidato Bung Karno masing-masing berjudul; Islam, Agama Amal, (15 Maret 1960). “Al-Quran Membentuk Manusia Baru”(6 Maret 1961). Teks pidato bertajuk “Mencari dan Menemukan Tuhan”, (12 Pebruari 1963). Teks pidato “Api Islam, Motor Terbesar Umat Manusia”, ( 1 Pebruari 1964). Dan teks pidato “Islam Adalah Agama Perbuatan”( 10 Januari 1966). Kelima teks pidato itu disampaikan di Istana Negara pada saat memperingatan malam Nuzulul Quran. Karena konteks persoalan yang dihadapai Bung Karno tiap tahun berbeda-beda, materi pidato pun nampak seragam. Tulisan ini tidak bermaksud mengulas lengkap semua pemikiran Bung Karno, apalagi mengkritik, melainkan hanya sekadar ingin menyajikan suatu ‘romantisme-historis’ di mana Bung Karno dengan cara pandangnya yang khas berbicara mengenai ajaran Islam, sejarah Al-Quran, Ketuhanan, dan beberapa persoalan yang terkait.

Soekarno dan Al-Quran

Sebagaimana seorang muslim, Bung Karno jelas mempunyai kedekatan emosional terhadap Al-Quran. Tanpa keraguan sedikitpun, ia meyakini Al-Quran adalah wahyu Ilahi; kitab keramat, penuh teka-teki, nilai-nilai sakral, dan karena itu harus dijunjung tinggi oleh umat Islam. Bagi Bung Karno, Al-Quran memberikan konstribusi bagi perubahan kehidupan yang revolusioner, bukan saja di tanah Arab, melainkan di seluruh dunia. Ia katakan; “Satu revolusi yang bukan lagi sebagai kita punya revolusi, satu revolusi pancamuka, 5 macam, tetapi mungkin ini revolusi yang diadakan oleh Tuhan via Quran itu adalah revolusi dasamuka. Sebagaimana revolusi yang 10 macam sekaligus.” Pada teks ini menyiratkan ciri khas pemikiran Bung Karno sebagai pemimpin nasional berhaluan nasionalis, Jawa dan Islam menyatu padu. Kesadaran revolusioner yang ia dapatkan dari tradisi keilmuan kaum kiri (Marxian) diserap dan dipadukan secara luwes dan khas. Pada masa itu, hal tersebut sangat menarik perhatian banyak orang. Secara politik, pandangan tersebut bisa diterima oleh tiga golongan besar rakyat Indonesia, yakni kaum nasionalis, komunis dan Islam. Dalam konteks yang lain, Al-Quran bagi Soekarno adalah salahsatu pilar ideologis yang ia miliki. Al Quran menurutnya, mendatangkan revolusi batin, revolusi ekonomi, revolusi moral. Satu pengalaman pribadi yang ia rasakan berhubungan dengan Al Quran adalah ketika ia dalam kondisi terdesak, ditangkap oleh Belanda di Yogyakarta 22 Desember 1948 di Yogyakarta. Penangkapan itu bagi Bung Karno adalah klimaks; suatu keadaan di mana dirinya tak punya harapan lagi untuk hidup. Sebab sebelumnya beredar informasi Bung Karno bakal dibunuh oleh Belanda jika tertangkap. Dalam situasi terjepit dibalik jeruji penjara, Bung Karno memanfaatkan banyak membaca Al-Quran dan rajin beribadah. Totalitas penyerahan hidupnya pada Tuhan dalam doanya ia yakini dapat merubah garis nasib kehidupannya. Tiada diduga, suatu pagi hari, Bung Karno dibebaskan oleh Belanda. Pengalaman religus ini pada akhirnya disadari oleh Bung Karno sebagai tonggak kokohnya keimanan dirinya pada ajaran Islam, pada Al-Quran, pada Tuhan.

Soekarno dan Tuhan

Sekalipun Soekarno sejak kecil adalah seorang teis, namun bukan berarti pemahaman teologinya konvensional. Ia sadar Tuhan adalah sesuatu yang besar bagi dirinya, yang patut disembah dan diyakini sebagai tempat perlindungan yang tepat. Namun keyakinan tersebut bukan datang secara tiban,melainkan melalui proses pencarian yang teramat panjang dan berliku. Dalam teks pidatonya yang berjudul “mencari dan menemukan Tuhan” (1963) Bung Karno mengisahkan bahwa sepanjang perjalanan hidupnya dirinya selalu mencari dan mencari Tuhan. Dengan latarbelakang pemikiran filsafat Marxian yang kuat, pemikiran Soekarno menjadi lebih rasional didengar ketimbang perspektif teologi para ulama yang irasional. Sekalipun Bung Karno menjunjung tinggi rasionalitas barat, namun dalam soal teologi ia lebih memilih tidak banyak mempersoalkan eksistensi Tuhan. Bagi Bung Karno, ilmu pengetahuan hanya bisa menjelaskan hal yang riil. Sementara untuk menjelaskan eksistensi Tuhan, ia lebih memilih melalui pendekatan agama (Al-Quran). Kesadaran seperti ini diyakini tepat saat dirinya berusia 28 tahun. Sebelumnya, Bung Karno sering berusaha menyibak hakikat Tuhan melalui ilmu-pengetahuan positivisme, namun selalu kandas, bahkan mengarahkan dirinya ke jurang nilihisme. Setelah memperdalam Al-Quran, ia baru merasa puas bahwa Tuhan itu ada, dan keberadaannya bisa dijelaskan melalui Al-Quran secara rasional. Harap maklum, apa yang sering dibaca Soekarno adalah ilmu sosiologi, bukan ilmu tauhid. Tak heran jika kemudian eksistensi Tuhan tidak ia temukan melalui pengetahuan sosiologi. Yang ia temukan dari ilmu sosiologi adalah sejarah mengenai beragam pemahaman tuhan di masa lalu seperti tuhan petir, tuhan api, tuhan batu dan seterusnya.*Penulis, Mantan Santri Al-Munawwir Krapyak Yogyakarta

Ber-Nuzulul-Quran Bersama Bung Karno (2)

Terlepas dari faktor-faktor politik, Al-Quran bagi seorang Soekarno adalah kitab suci yang sakral. Apakah bagi seorang yang mensakralkan sesuatu (Al-Quran) seperti Bung Karno lantas menjadi seorang Islamis yang dogmatis? Untuk menjawab pertanyaan itu tentu tidak mudah. Namun penulis berkesimpulan, Bung Karno tidak tepat jika disebut pemeluk Islam dogmatis, seperti halnya kaum fundamentalis. Alasannya, ia percaya nalar kritis sebagai upaya memahami Al-Quran. Sakralitas Bung Karno terhadap Al-Quran justru dimaknai sebagai bentuk penghargaan untuk tidak gegabah, tekstualis dalam memahami Al-Quran. Ia selalu melihat Al-Quran punya kekuatan yang dahsyat sehingga seseorang tidak boleh sembarangan menafsirkan dan menerapkan tanpa landasan pengetahuan yang memadai.

Soerkarno dan Al-Quran

Bagaimana cara memahami Al-Quran menurut Bung Karno? Di sinilah masalahnya. Bung Karno bukanlah seorang penafsir Al-Quran. Ia hanya mengaku sebagai seorang muslim, seorang awam yang terus berupaya konsisten mengamalkan ajaran Islam. Lalu apa alasan dirinya mengatakan Al-Quran sebagai kita suci yang maha hebat? Pertama, Bung Karno lebih melihat Al-Quran sebagai kitab sejarah. Dalam konteks ini, ia sering membandingkan dengan ilmu pengetahuan, atau kitab suci lain. Sejauh mana Al-Quran mempengaruhi perubahan dunia? Bung Karno yang kutu buku itu memiliki berbagai alasan untuk mengatakan Al-Quran sebagai kita yang hebat. Ia paling suka mengutip pendapat-pendapat ilmuan-ilmuan Barat tentang Al-Quran. Jika komentar itu sifatnya positif, ia akan kabarkan kepada seluruh rakyat Indonesia berulang-ulang dan dengan nada provokatif yang membuat orang merasa yakin akan pendapat Bung Karno. Namun jika ada pendapat non muslim itu cenderung tendensius, menghujat Islam, merendahkan Al-Quran, atau menghina Nabi, Bung Karno tak segan-segan menyerangnya dengan argumentasi yang sekiranya membuat pernyataan para penghujat itu irasional. Kedua, Bung Karno punya keyakinan bahwa para ulama-ulama, imam-imam besar yang dikenal dalam Islam, seperti Imam Hambali, Hanafi, Syafii dan Maliki. Bagi Bung Karno, imam-imam ini sudah cukup dijadikan sandaran dalam menjalankan ajaran Islam. Sebab yang dimaksud ijtihad menurutnya adalah “bersungguh-sungguh menyelidiki, bersungguh-sungguh investigate, bersungguh-sungguh memeriksa, bersungguh-sungguh memikirkan.” Sejarah ijtihad bagi Bung Karno sudah cukup di tangan para imam-imam Islam tersebut. Karena itu, ketika menanggapi tuntutan ijtihad dari mahasiswa-mahasiswa Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Bung Karno berpesan agar tidak usah repot-repot memikirkan ijtihad. Katanya; “Sudah, jangan pikir! Jangan selidiki! Ini imam-imam besar sudah habis-habisan menyelidiki, memikirkan, mengalisis. Ikut sajalah salahsatu daripada Imam-imam itu. Dan itulah yang dinamakan mazhab,”ujarnya berapi-api. Dari sini kita bisa melihat, bahwa pemahaman Bung Karno tentang pemikiran-Islam nampak konvensional, seperti pandangan ulama-ulama di kalangan Nahdlatul Ulama. Dengan kata lain, pemahaman Islam Bung Karno dalam hal syariat nampaknya tidak terlalu neko-neko, apalagi diarahkan pada politik praktis, menegakkan syariat Islam atau Negara Islam. Api Islam Yang Bung Karno harapkan dari umat Islam adalah membangkitkan kembali semangat keislaman yang menurutnya adalah agama revolusioner. Dengan semangat ajaran Islam, Bung Karno menilai umat Islam di Indonesia belum sepenuhnya mampu menangkap api, atau ruh Islam yang sesungguhnya. Ajaran Islam di Indonesia memang dipraktekkan setiap hari oleh jutaan pemeluknya, namun praktek keislaman masih sebatas dalam urusan ritual. Ia katakan; “tidak ada gunanya kita satu hari duduk di dalam masjid putar tasbih Allahu Akbar…Allahu Akbar, kalau tidak betul-betul di dalam kita punya hati, kita berbuat.” Bung Karno melihat Islam adalah agama revolusioner yang sanggup menjadi spirit perubahan, api revolusi bagi pembebasan kaum tertindas. Karena itu, Islam harus dimengerti sebagai agama amal kebajikan, membela kebenaran, membela kaum mustadafin (proletar), menegakkan keadilan, memakmurkan rakyat Indonesia dan berani melawan kolonialis/imperialisme. Menurutnya, kejayaan Islam bukan disebabkan oleh kekuatan pedang, atau untuk zaman sekarang bom dan dinamit. Islam menjalar dari tempat kecil menjadi satu agama besar, karena kekuatan ajaran yang konsisten menegakkan kebenaran, kekuatan hak, kekuatan kesucian. Dari sini kita bisa mencerna makna Api Islam yang dimaksud Bung Karno adalah, menciptakan negara/bangsa yang gemah ripah loh jiwani, tata tentrem kerta raharja; baldatun tayyibbatun wa rabun gafur.. Dari prinsip di atas, kita dapat melihat keinginan besarnya untuk menjadikan Islam sebagai agama berbasis nilai (bukan formalitas), nilai ideologis, nilai humanis, dan seterusnya. Kita tahu, selain sebagai seorang Muslim, Bung Karno juga kental menganut ideologi nasionalisme dan marxisme (Nasakom). Ini juga memberikan kesaksian, bahwa Bung Karno tidak melihat Islam sebagai ajaran eksklusif dari ajaran lain, melainkan bisa disandingkan, dipadukan sebagai kekuatan bersama. Yang menarik dari Bung Karno adalah, kesadaran akan Iman kepada agama, kepada Tuhan, kepada Al-Quran tidak serta merta membuat orang antipati terhadap perbedaan ajaran. Bahkan dari sikap keimanan yang kuat, justru seseorang akan fleksibel menerima perbedaan. Api Islam menurut Bung Karno bukan untuk tujuan melawan kaum kafir (beda agama), melainkan sebagai inspirasi amal kebajikan; menegakkan yang ma’ruf dan mencegah yang munkar. Jelaslah bahwa Bung Karno lebih memilih persoalan rakyat, persoalan bangsa dan persoalan kemanusiaan lebih utama ketimbang sekadar mementingkan umat Islam. Sebab Bung Karno sadar, bahwa inti ajaran Islam adalah rahmatan lil alamin, bukan rahmatan lil Islam.*

Penulis, Mantan Santri Al-Munawwir Krapyak Yogyakarta

One thought on “Bernuzulul Quran Bersama Bung Karno

  1. rusia81

    Anda menggunakan dalil Protokl Yahudi ud dalam tulisan Saudara. Padahal Protokol Yahudi itu dibuat oleh Kaum Nazi dengan pimpinannya Hitler untuk sebagai propaganda anti yahudi di Eropa. Untuk menggalang anti Yahudi, maka Hitler menggalang orang-orang Arab untuk menghancurkan Yahudi juga sebab Hitler tahu siapa musuh Yahudi yang paling gampang disulut untuk menghancurkan Yahudi, ialah Islam. Diperbanyaklah Protokol tersebut di negara-negara Arab. Protokol Yahudi itu adalah propaganda palsu terhadap Anti Yahudi di Arab. Protokol tersebut akhirnya diyakini kebenarannya oleh orang Arab2 Jahiliyah yang memang bodoh dan gampang disulut tanpa dilihat kebenarnnya. Protokol tersebut akhirnya dibawa oleh peajar-pelajar dari Hindia Belanda (Indonesia) yang belajar di negara-negara Arab dan disebarkan anti Yahudi di Indonesia. Jadi kebohongan yang diyakini kebohongannya disebarluaskan di Indonesia sampai saat ini.

    Yang kita takuti saat ini adalah bahaya neoliberalisme yang diusung oleh Barat (Imperilisme USA) dan Radikalisme Kanan dalam bentuk Jihad sebagai teror yang merupakan strategi USA agar Indonesia tidak aman sehingga punya kepentingan untuk masuk di Indonesia bahkan pendirian Khilafiyah Islamiyah di Indonesia adalah dalam rangka memecah Indonesia seperti balkanisasi sebab apabila Indonesia jadi negara Islam maka Indonesia bagian Timur akan meminta merdeka. Lihat siapa pengusung Khilafiyah Islamiyah, rata2 adalah jebolan Afghanistan yang tidak diterima lagi di negara meraka masing2 bahkan di negara arab serta mereka adalah didikan tentara USA untuk menggempur komunisme di Afghanistan. selain itu adalah Hizbut Tahrir yang merupakan pecahan dari Ikhwanul Muslimin yang diharamkan di negara-negara Arab bahkan dijdikan partai terlarang seperti PKI di Indonesia. Yang herannya mengapa Hizbut Tahrir diterima di Inggris bahkan markas besarnya adalah di London. Aneh bukan? Inggris memeusuhi teroris tetapi menerima mereka bahkan membesarkan mereka untuk mengimpor mereka di negara2 yang mayoritas muslim dan kaya untuk menyulut perpecahan di negeri tersebut.

    Maka dari itu hati-hati dalam menulis suatu tulisan dan bertindak. sebab anda terjebak dalam jeratan USA yang anda yakini sebagai musuh. Ini disebut permainan intelijen.

    salam,

    Intel Indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s