Jalan Lurus Islam Berbasis Tradisi

Standar

Jalan Lurus Islam Berbasis Tradisi

MENEMPATKAN ajaran Islam dalam dialektika kehidupan sosial, politik dan budaya adalah proyek yang harus terus-menerus dilangsungkan. Dari sisi keilmuan, dinamisasi ajaran Islam secara kontekstual dengan tradisi masyarakat akan memperkaya kajian agama. Dengan itu pula sejarah membuktikan kebesaran suatu ajaran sangat ditentukan keberhasilan beradaptasi dengan tradisi para pemeluknya. Penyebaran agama-agama besar dunia pun harus melewati proses panjang. Agama-agama besar itu menurut Polikarpus Ulin Agan (2003) selalu mengalami pengalaman pahit, penyebaran iman itu tidak sama dengan menerjemahkan kultus, doa-doa dan nyanyian ke dalam bahasa pribumi. Lebih dari itu, penyebaran dan penerimaan iman itu berhubungan erat dengan inkulturasi yang menyentuh kedalaman budaya masyarakat setempat. Tanpa sentuhan kedalaman budaya, penyebaran pewartaan agama-agama besar tidak mungkin mencapai keberhasilan seperti sekarang. Di Indonesia, kiprah penyebaran Islam mengalami kesuksesan luar biasa bukan melalui cara-cara legal formal, struktural politik. Dengan semangat injeksi kesadaran ajaran Islam, penyebar ajaran Islam yang tergabung dalam forum Walisongo misalnya, membuktikan kesuksesan strategi yang diterapkan. Islam, dari ajaran yang semula minoritas, berubah menjadi agama mayoritas di Indonesia. Proses tersebut menjelaskan kepada kita, perkembangan suatu ajaran agama perlu adanya proses inkulturasi, akulturasi, bahkan sinkretisme. Namun demikian, bukan berarti proses yang demikian tiada kontroversi. Sepanjang sejarah inkulturasi, akulturasi maupun sinkretisme, (juga termasuk adopsi ajaran agama) selalu menimbulkan ambivalensi.

Di satu sisi ajaran Islam punya identitas tersendiri, -yang jika dicampuradukkan dengan ajaran lain atau tradisi kebudayaan masyarakat akan menimbulkan distorsi ajaran. Namun dilain pihak mustahil suatu masyarakat bisa meninggalkan keyakinan tradisionalnya hanya karena alasan “kebenaran tunggal” yang dogmatis. Bagi saya, mengedepankan penerapan Islam-formal sembari mengabaikan kearifan budaya adalah bagian dari sakralisasi ajaran. Sakralisasi ini selain berpotensial mengabaikan kemaslahatan masyarakat juga cenderung mendistorsi sakralitas umat Islam terhadap Tuhan. Sakralisasi tersebut –menurut Muhammad Arkoun– bagaikan lapisan-lapisan geologis yang menyembunyikan inti bumi. Karena itu Arkoun menyerukan agar umat Islam mengetahui inti ajaran agama yang masih segar dan kaya nuansa pembebasan. Salah satunya adalah dengan cara pembongkaran terhadap literatur Islam masa lalu hingga kini. Sejalan dengan Arkoun, Abdullah Ahmed al-Naim melihat bahwa transformasi terhadap ketentuan-ketentuan Islam adalah sebuah keharusan demi untuk memperoleh formulasi hukum yang memadai bagi kehidupan islami kontemporer. Seiring dengan tuntutan zaman, maka formulasi hukum klasik “tradisional” dan parsial sudah harus ditinggalkan. Dengan cara itu Islam akan mampu tampil menjadi ideologi yang tetap dinamis dan membawa kesejahteraan semesta.

Mempertimbangkan Tradisi

Kalau kita berkaca ke masa lalu sebenarnya Islam itu sendiri bagian dari kebudayaan, lokal Arab. Melalui serangkaian proses historis yang panjang Islam hadir di tengah-tengah masyarakat Arab sembari mengikuti arus budaya tradisional Arab. Sebelum Tuhan mewajibkan salat, pemeluk Kristen Ortodoks Syiria beribu-ribu tahun sebelumnya sudah melakukan salat. Sebelum ada kewajiban Haji, orang Arab kuno sudah sering mengadakan upaya adat berlari berputar-putar mengelilingi ka’bah sebagai ritual wajib tahunan. Produk legalisasi hukum pun tidak pernah lepas dari alasan-alasan budaya. Sesungguhnya, Islam yang di bawa Nabi sebenarnya ajaran fleksibel yang diterapkan tanpa harus saklek merujuk pada kewajiban formal. Islam hadir untuk memberikan jawaban atas pelbagai persolan umat manusia. Substansi dari Islam sama, yakni mengesakan Tuhan, memanusiakan manusia, dan memuliakan moralitas hidup, namun penerapannya haruslah menimbang kehidupan tradisi setempat. Perlu diingat, tidak semua tradisi suatu masyarakat bersifat positif. Kita melihat ada banyak tradisi yang tidak semua dengan semangat Islam dan semangat emansipasi. Hadirnya Islam haruslah dalam kerangka emansipasi dan pembebasan kaum tertindas. Tradisi feodal yang menindas, tradisi kapitalisme yang eksploitatif tentu harus didudukkan sebagai musuh Islam.

Dengan mempertimbangkan tradisi, menurut Hasan Hanafi (1998) berarti kita sedang terjun dalam masalah kekinian. Tradisi senantiasa hidup di hati masyarakat. Ia memberi pengaruh terhadap masyarakat secara positif maupun negatif. Soal tradisi bukan sekadar mempertahankan identitas, sebab tidak semua tradisi mempunyai identitas. Tradisi, -sebagaimana ajaran Islam- bukanlah tujuan, melainkan alat, cara dan kiat. Islam dalam pengertian teologis jelas subyektif; karena itu individualistik. Islam dalam dimensi sosial adalah Islam yang selalu harmonis dengan transformasi sosial-budaya masyarakat setempat. Persinggungan satu ajaran dengan ajaran lain sangat cepat bergerak. Di Abad ini, Islam yang substansial adalah Islam yang sanggup berinteraksi dengan lokalitas budaya; Jawaisme, Melayuisme, Betawiisme, Sundaisme, Papuaisme dan seterusnya. Islam yang Islami adalah Islam yang cakap berinteraksi dengan tradisi pemikiran modern seperti marxisme, postmodernisme, eksistensialisme, strukturalisme, liberalisme, protestanisme, humanisme dan seterusnya.(Faiz Manshur)

Naskah ini pernah dimuat Harian Kaltim Pos 21 Oktober 2005

One thought on “Jalan Lurus Islam Berbasis Tradisi

  1. Orang sering mengklaim bahwa “ini-itu” bid’ah, khususnya tradisi Islam-nya orang NU karena tidak ada dasar hukum atau perintah dari Nabi. Aku sering kewalahan kalau menghadapi orang2 semacam ini. Piye Kang le njawab kanti enak lan kepenak ya???

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s