Olahraga Atlet dan Buku

Standar

[detikSport, 8 Januari 2006] Jakarta – Olahraga dan buku. Yang pertama adalah kata subyek, kedua kata benda. Ada keterpisahan yang jauh pada keduanya. Namun jika disatukan dalam istilah Buku-Olahraga, akan mudah dimengerti maknanya; suatu benda berupa kertas bundel yang di dalamnya memuat tulisan tentang olahraga.

Buku-olahraga jelas luas pengertianya. Isinya mungkin tentang teknik olahraga, tentang kiprah atlet, sejarah salah satu cabang olahraga, atau jenis lainnya. Dalam padanan kata ini, jelas olahraga dan buku mempunyai korelasi.

Di berbagai negara, terutama negara yang masyarakatnya gemar membaca, akan banyak buku tentang olahraga yang kita temukan. Tapi di negara kita, buku-olahraga masih terbatas pada dunia akademik.

Di Eropa, jenis buku-olahraga beragam jumlahnya, bahkan melebihi jenis buku akademik. Tiap tahun, selalu ada saja yang menulis tentang olahraga. Para atlet menceritakan pengamalan di gelanggang dan pengalaman hidupnya dalam bentuk buku. Para pelatih membuat sistematika ide-ide dan pengalaman dalam sebuah buku. Para analis bahkan lebih rajin menulis kisah-kisah, kritik dan wacana olahraga.

Sudah ribuan buku-buku itu beredar. Tingkat penjualannya pun tergolong laku. Kabar terbaru adalah terbitnya buku tentang Michael Ballack Oktober 2004 lalu. Seorang mantan wartawan, Dino Reisner, yang menulis buku itu memberinya judul; Michael Ballack Die Story des Fussball Superstar.

Kabarnya, buku yang mengisahkan tentang kehidupan kapten kesebelasan Jerman itu dicetak 800 ribu eksemplar. Dan kini, sudah hampir cetak ulang. Diramalkan, buku itu akan semakin laris mencapai 2 juta eksemplar hingga digelarnya Piala Dunia 2006 Juni-Juli nanti.

Delapan ratus ribu eksemplar? dua juta eksemplar? Dahsyat! Tidak pernah kita mendengar di Indonesia ada buku selaris itu dalam waktu setahun. Paling-paling kita mendengar buku best seller di Indonesia terjual 70-100 ribu eksemplar. Dan itu tak pernah terjadi dalam buku olahraga, kecuali buku proyek Departemen Pendidikan yang dijual dengan cara memaksa kepada murid-murid sekolah.

Buku olahraga, apalagi buku tentang atlet. Sungguh tak bisa kita bayangkan dalam waktu sekarang ini bisa menyeruak masuk ke dalam pasar buku Indonesia yang kian hari kian marak. Kita masih melihat minat baca, terutama minat beli di masyarakat kita belum kondusif. Paling-paling kalau menerbitkan sebuah buku, penerbit hanya mampu mencetak sekitar 2 ribu eksemplar.

Jika bisa dicetak ulang, paling banter 2 kali lipat. Itupun beberapa tahun kemudian. Akibatnya, penulis yang bekerja esktra tak akan mendapatkan upah yang sepadan. Di Indonesia, honor penulis rata-rata mendapat 10-12 persen dari harga jual buku. Kalau dijual dengan harga Rp 30 ribu per buku, maka penulis mendapatkan Rp 3.000 rupiah.

Jika dikalikan jumlah cetaknya yang 2000 eksemplar, maka penulis akan mendapatkan royalti sebesar Rp 5 juta. Duh, suatu angka yang sangat memprihatinkan. Menulis berbulan-bulan kok hanya mendapat 5 juta.

Tragisnya, sang penulis harus menunggu buku tersebut laku di pasaran. Dan setiap 3 bulan, penerbit akan memberikan honornya secara cicil. Bisa-bisa uang 5 juta total akan diterima dengan menunggu selama 2 tahun. Sebab rata-rata penjualan 2 ribu eksemplar harus menunggu waktu yang lama itu. Itupun jika benar-benar laku. Jika tidak? Kacian deh loe!

Masalahnya memang bukan hitungan nominal rupiah yang sedikit itu. Semua penulis di dunia hanya akan mendapatkan royalti tidak lebih dari 15 persen. Yang jadi kendala utama adalah penerbit tidak berani mencetak buku dalam jumlah puluhan ribu eksemplar. Sebab daya beli masyarakat teramat rendah untuk zaman modern sekarang ini. Tentu akan lain jika buku yang dicetak mencapai 200 ribu atau bahkan 800 ribu eksemplar. Silahkan hitung saja jumlah penghasilan penulis dari royalti sebesar 10 atau 15 persen! Ini memang menjadi problem fundamental. Tapi tak berarti kita fatalis menerima kenyataan, sebab itu bukan takdir.

Buku tentang olahraga, tentang atlet, atau tentang apapun yang berkaitan dengan olahraga mestinya mulai dikembangkan di Indonesia. Hanya sedikit sekali atlet yang sudah menerbitkan buku, seperti Taufik Hidayat, Icuk Sugiarto dan Rudi Hartono. Bagaimana dengan yang lain? Bagaimana dengan atlet, mantan atlet, terutama pelatih sepakbola kita?

Para atlet mungkin mengalami hambatan dalam menulis, namun bukan berarti kita mengharapkan para atlet bersusah payah belajar menulis lazimnya para jurnalis. Yang diperlukan adalah bagaimana ada transfer pemikiran, pengalaman, dan pengetahuan dari seorang atlet kepada para jurnalis.

Dengan begitu, sang jurnalis-lah yang akan mengeksekusi dalam bentuk tulisan. Jika tidak dalam bentuk buku langsung, bisa saja sang atlet mengemas tulisan dalam bentuk artikel. Publikasinya bisa memanfaatkan media massa, terutama media massa olahraga yang sudah ada di Indonesia, jika perlu, tulisan itu “diekspor” ke media-media massa luar negeri.

Soal biaya memang jadi kendala, tapi jika keinginannya bukan soal duit melulu, sekadar menerbitkan buku biasa biaya produksi bisa dijangkau. Untuk sementara, tak jadi soal jika pada kenyataannya peredaran buku hanya berkisar pada angka, seribu, dua ribuan. Sebab yang paling penting adalah memulai tradisi pengembangan olahraga melalui buku.

Apa perlunya?

Kita sadar, ide para atlet terutama mereka yang berprestasi, lebih-lebih lagi mereka yang kini sudah pension punya segudang pengalaman dan pengetahuan. Dari sinilah masyarakat perlu mendapatkan pengetahuan tersebut. Secemerlang apapun prestasinya, jika tidak ditularkan kepada generasi berikutnya dan masyarakat luas tentu hanya akan jadi museum. Penuh kenangan indah tapi tak bermakna secara praktis.

Buku adalah mutiara tiada tara harganya. Hanya melalui buku, seorang pelatih Rahmad Darmawan yang musim lalu berhasil mengantarkan Persipura Jayapura menjuarai Liga Indonesia hanya akan bisa menyalurkan ilmunya kepada masyarakat.
Fenomena Persipura menjadi juara dilatarbelakangi banyak hal. Dan proses –bukan hasil– itulah yang ingin kita dapatkan. Bagi seorang Rahmad, menerbitkan buku bertajuk “Setahun Melatih Persipura” misalnya, akan menjadi pengalaman yang berharga bagi pelatih lain, atlet lain dan masyarakat luas.

Demikian juga bagi seorang Bambang Pamungkas atau Elie Eboy, pengalaman bermain sepakbola di Malaysia jelas sangat perlu disajikan dalam sebuah buku.

Selama ini kita banyak teledor, membiarkan banyak hal, terutama pengalaman pahit getirnya perjuangan olahraga tanpa mencatatnya. Memori yang berharga seolah-olah hanya menjadi milik pribadi masing-masing pelaku. Padahal, bagi sesama warga negara, yang punya kesamaan pandangan untuk kemajuan prestasi olahraga, memori itu adalah pijakan yang akan menentukan sukses gagalnya loncatan kita ke depan.

Mengupayakan tradisi baru, atlet menjabarkan pengalaman melalui pena, jelas sebagai hal yang penting. Kita harus mencoba menuju ke arah sana. Dan itu selalu bisa dilakukan. Kalau artis saja kini sudah berani menerbitkan buku, kenapa para atlet tidak?

Buku yang baik memang harus mengarah pada jalur edukatif. Namun jika tidak, buatlah buku yang biasa saja. Sebab, apapun pengalaman, pengetahuan secara otomatis akan menjadi pengetahuan berharga bagi yang membutuhkan. Kata pepatah, “pena lebih tajam dari sebilah pedang.” Nah, bisa jadi prestasi olahraga kita kurang tajam karena mengabaikan pena.(Faiz Manshur)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s