Benua Hitam Menjelang Piala Dunia Jerman

Standar

Menunggu Kiprah Benua Hitam di Jerman

 

      Ada yang menarik dari delegasi tim dari benua Afrika pada Piala Dunia di Jerman tahun ini. Afrika mendapat jatah 4 dari 5 wakil dari benua Afrika yang berhasil lolos ke putaran final Piala Dunia Jerman 2006.

 

Hanya Tunisia yang mewakili nama lama yang menjadi sering melaju ke putaran final Piala Dunia. Sementara Togo, Ghana, Pantai Gading, dan Angola merupakan nama-nama baru dari benua hitam yang kini sedang kita tunggu kiprahnya di Jerman tahun depan. Pada babak kualifikasi zona Afrika yang berakhir pertengahan bulan Oktober 2005 lalu keempat tim itu berhasil menyingkirkan para langganan wakil Afrika seperti Kamerun, Nigeria, Mesir, dan Afrika Selatan. Juga menyingkirkan Senegal negara yang pada Piala Dunia 2002 di Jepang dan Korea Selatan membuat kejutan lolos ke babak perdelapan final. Sebelumnya tidak ada yang memperhitungkan kans keempat negara ini untuk berhasil meraih tiket ke Jerman. Sebab menurut hitungan FIFA, negara-negara top sepakbola di Afrika seperti Kamerun berperingkat 22, Nigeria peringkat 29, Mesir di posisi 31, Afrika Selatan 42, dan Senegal 35 lebih banyak dinominasikan. Sementara peringkat versi FIFA dari keempat negara yang lolos ke Jerman adalah Togo berperingkat 54, Ghana 62, Pantai Gading 50, dan Angola 65. Selain faktor peringkat, faktor lain seperti popularitas maupun prestasi keempat negara tersebut tidaklah sehebat negara-negara yang telah disebut diatas. Keempat tim ini akan mendampingi Tunisia yang berperingkat 23, sebagai lima negara wakil dari Zona Afrika. Tunisia selama ini memang sudah dikenal sebagai salah satu tim tangguh di Afrika, setidaknya karena pernah tiga kali masuk putaran final Piala Dunia yaitu tahun 1978, 1998 dan 2002.

 

Miskin Berprestasi

      Yang yang unik dari fenomena sepakbola Afrika adalah ketiadaan korelasi antara kemampuan modal (finansial) yang sering dijadikan alasan bagi maksimal atau minimnya pretasi olahraga sebuah negara. Di Indonesia, alasan dana selalu menjadi perbincangan utama yang diabsahkan untuk melegitimasi alasan atas ketidakmampuannya untuk mewujudkan prestasi. Sementara kita tahu, negara-negara Afrika bukanlah negara kaya, namun toh dari kawasan ini telah melahirkan bintang-bintang kelas dunia. Bahkan negara-negara yang masuk dalam final piala dunia tidak kalah bersaing dengan negara-negara maju. Sekarang realitas khas kemajuan sepakbola di Afrika benar-benar nyata. Kelima negara yang lolos ke Jerman adalah negara yang terkenal dengan berbagai penderitaan, kemiskinan, keterbelakangan dan seterusnya. Pantai Gading dan Angola misalnya, menurut Human Development Report tergolong kelompok negara miskin. (United Nation Development Programme (UNDP); 2004)

           Human Development Index (HDI)-nya kurang dari 0,500 dengan gross domestic product (GDP) per kapita masing-masing US$1,476 dan US$2,344. Sementara dalam HDI tahun 2003, Angola adalah 0,455 ada di peringkat 160 dari 177 negara. Pantai Gading dengan HDI sebesar 0,420 menempati peringkat 163. Sedangkan tiga negara lainnya dikelompokkan ke dalam negara berkembang (HDI-nya antara 0,501-0,799). Tunisia dianggap negara paling maju karena mempunyai HDI 0,753 peringkat 89 dengan GDP per kapita sebesar US$7,161. Kemudian ada Ghana dengan HDI 0,520 peringkat 138 dengan GDP per kapita US$ 2,238. Sedangkan Togo pada peringkat 143 dengan GDP per kapita US$1,696. Dalam kondisi seperti itu nampaknya determinasi tentang majunya sebuah negara dalam hal ekonomi dan politik telah dipatahkan Afrika. Kemiskinan dan ketidakstabilan politik di negara-negara Afrika, jelas menjadi masalah. Namun toh mereka tidak patah semangat untuk menunjukkan dirinya sebagai manusia-manusia yang bisa sejajar dalam olahraga dengan negara-negara yang secara politik dan ekonomi telah maju. Bahkan sampai hari ini ketika perlakuan rasis masih sering menimpa para pemain yang di beberapa negara Eropa, mereka nampak mempunyai kesabaran yang luar biasa, tak bisa dibandingkan dengan kadar kesabaran orang-orang Eropa. Dari tampilan fisik mereka nampak “menyeramkan”, namun jiwa mereka seluas samudra. Mudah memaafkan, mau menerima kritik, lebih banyak mendengar ketimbang bicara, serta mau belajar dengan bangsa lain dan yang paling utama adalah mereka adalah para pemain yang profesional.

 

Julukan-julukan Tim

Piala Dunia ke 18 di Jerman tinggal tujuh bulan lagi. Kelima Tim Afrika akan mencoba menorehkan sejarah baru di belantika sepakbola dunia. Memang, kita tidak akan melihat lagi kiprah The Indomitable Lion (singa padang pasir) Kamerun karena sudah tersisih. Kita juga tidak akan menyaksikan tim Atlas Lions Maroko yang sudah masuk kandang. Demikian pula nasib Senegal (the Teranga Lions), tim perempat finalis Piala Dunia 2002 Korsel-Jepang. Ataupun tim ‘Simbas’ Republik Demokrasi Kongo (Simbas dalam bahasa Swahili juga berarti singa), tim yang lolos ke putaran final pada 1974 kala masih bernama Zaire. Kini, tim berjuluk ‘kucing besar’ itu tersisih dan digantikan dengan gajah, impala (rusa gurun), serta burung elang.

      Namun publik sepakbola dunia jangan khawatir. Kita masih akan menyaksikan kiprah anak-anak benua hitam itu tanpa perlu merasa kehilangan ciri khas sepakbolanya yang keras namun sportif. Ada the Elephants (gajah) julukan Tim Pantai Gading, Les Eperviers atau burung elang kecil julukan Tim Republik Togo, The Cathage Eagles (elang Carthage) adalah julukan dari Tim Tunisia. Ada juga the Black Stars (bintang hitam) julukan Tim Ghana, dan the Palacas Negras yang dikenal sebagai impala wajah hitam, sebagai julukan untuk Angola. Dalam dunia globalisasi, kekuatan negara adidaya selalu mengalahkan negara miskin. Tapi apakah globalisasi sepakbola yang kini sedang melanda akan selalu demikian? Laju bola di rumput hijau tak mudah diprediksi, bahkan oleh sang penendang sendiri. Apalagi jika Anda yakin bahwa semangat, militansi, heroisme adalah modal yang tak mudah dikalahkan oleh uang atau skill. Ada baiknya kita tidak gegabah menyimpulkan tim dari benua hitam sebagai pupuk bawang. Mari kita segera saksikan kiprah apa yang akan disuguhkan oleh new entry’s dari Afrika tersebut. Sebab, bicara tentang negara-negara Afrika dan Piala Dunia, adalah berbicara tentang hasil-hasil yang mengejutkan dan prestasi.(FAIZ MANSHUR)

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s