Sekulerisme dalam Sepakbola

Standar

Sekularisme Sepakbola, Luput Fatwa

      

            Kelompok pro-syariat Islam bisa berargumentasi demokrasi sebagai sistem politik kafir, karena itu harus ditentang. Mereka boleh saja mengeluarkan sejuta fatwa dalam sebulan untuk menyatakan majalah Playboy haram beredar, bunga bank tergolong riba. Tapi anehnya, mereka tak pernah mengeluarkan fatwa haramnya sepakbola.

Ini sesuatu yang ganjil menurut saya. Dalam sepakbola banyak madlarat, banyak tindak amoral, banyak kejadian-kejadian di luar ketentuan syariat Islam. Lain dari itu, sepakbola bukan tradisi Islam, melainkan lebih dekat dengan budaya Barat. Lihatlah, stadion dipenuhi laki-laki perempuan berjejal tanpa batas. Hura-hura di stadion tak mengenal jenis kelamin. Bahkan pornografi dan porno aksi sudah menjadi bagian paling dekat dengan gelora penonton saat mendukung tim kesayangannya bertanding. Di stadion maupun di depan televisi, emosional penonton sering kelewat batas. Penonton mudah mengumpat, mengeluarkan kata jorok yang jelas dilarang syariat Islam. Di tengah lapangan, para pemain laki-laki membuka bagian auratnya. Sudah jelas, dalam syariat Islam, bagian tubuh laki-laki yang tergolong aurat adalah bagian paha hingga pusar. Sedangkan bagian perut hingga dada sangat dianjurkan tidak terlihat oleh publik, apalagi perempuan yang bukan muhrimnya.

      Apalagi jika aturan syariat Islam ditunjukkan kepada perempuan. Kaum berjenggot tak perlu lagi menggelar sidang bathsul masail untuk mengharamkan sepakbola perempuan, -kecuali jika para pemain itu tetap mengenakan busana muslimah ketat. Di luar stadion bandar-bandar judi menawarkan beragam model taruhan. Mulai dari judi melalui SMS (baca kuis), judi konvensional hingga judi online via internet semakin merajalela di tengah gegap gempitanya sepakbola. Pendeknya, semua yang berhubungan dengan sepakbola lebih mencerminkan gaya hidup liberalisme, bahkan kapitalisme. Kalau Anda termasuk kaum Islamisme (paham serba islam), yang percaya bahwa Islam mengatur semua aspek kehidupan, tentu dalam hati akan berkata; “naudlu billah min dzalik!”; tak ada satupun ulama yang di Indonesia ini yang menggagas lahirnya fatwa agar kegiatan jahiliyah bin munkar itu dilarang di Indonesia. Mungkin saja muncul alasan, bahwa negara Indonesia bukan berdasar agama, sehingga tidak bisa menerapkan syariat Islam seutuhnya. Namun, melihat banyaknya pelarangan melalui perda syariat, maupun sekadar fatwa haramnya pornografi, pornoaksi, bunga bank dan lain sebagainya, maka tidak adil jika sepakbola dibiarkan merajalela.

      Keharusan fatwa biasanya muncul dari “ketidakjelasan” status hukum praktek muamalah. Maka, sepakbola -sebagai kegiatan yang tidak memiliki landasan hukum yang jelas sesuai ajaran Islam, -kiranya membutuhkan kejelasan status hukum-nya. Di negeri Islam, Iran dan Saudi Arabia, sudah ada banyak fatwa tentang keharaman sepakbola, terutama fatwa yang melarang perempuan main bola, atau sekadar melarang perempuan masuk stadion. Alasannya jelas, sepakbola identik dengan pergaulan gaya liberal Barat, perjudian dan aneka warna tindakan yang bertentangan dengan ajaran Islam. Tentu, menjadi aneh jika organisasi seperti Majelis Ulama’ Indonesia (MUI) atau organisasi pengusung syariat Islam mendiamkan soal ini. Di Iran, kisah tentang pengharaman sepakbola sudah berulangkali terjadi. Banyak mullah yang mengharamkan sepakbola, apalagi sepakbola perempuan. Bahkan, sampai sekarang, beberapa mullah masih sering melontarkan fatwa keharaman perempuan masuk stadion. Seorang wartawan, Franklin Foer (2004) menceritakan, sekalipun Ayatullah Khomeini pada masa kekuasaannya melarang perempuan masuk stadion, tapi larangan itu tetap tak mampu mengekang hasrat kaum hawa penggila bola. Beberapa pria bercukur halus dan mengenakan pakaian kedodoran. Mulanya Foer agak heran dengan kelakukan kelompok penonton yang agak aneh ini. Setelah dicermati, ternyata mereka bukan pria, melainkan perempuan berpakaian pria. Dengan resiko dihukum berat oleh polisi Iran, kaum perempuan Teheran berani menembus stadion Azadi. mereka mempres payudara, gembung rambut yang panjang, berpakaian jubah pria, dan menyelinap masuk ke stadion.

      Hasil investigagasi Foer juga menyebutkan, kabarnya, para perempuan nekad dan gila bola itu termasuk putri-putri ulama ternama, satu-satunya perempuan di Iran yang punya suara dalam tata pemerintahan Iran. Di masa kepemimpinan Khomeini, pemerintah Iran memang berhasil menghabisi budaya pop, terutama lagu, film, dan kesenian impor dari Barat. Tapi mereka tak berhasil melarang sepakbola. Sebab, sekali mengusik sepakbola, berarti rezim sedang memposisikan diri berlawanan dengan gelora terbesar rakyat Iran. Sama halnya di Saudi, pemerintah hanya bisa membuat aturan “pengecualian” untuk sepakbola. Gelora politik demokrasi kaum muda mungkin saja bisa dibasmi. Tapi gelora rakyat di stadion tidak mungkin bisa dibungkam. Bahkan untuk urusan kompetisi sepakbola, pemerintahan Saudi memperbolehkan badan olahraga sepakbola Saudi tetap menggelar kompetisi pada saat bulan ramadlan, dengan catatan pertandingan dimainkan setelah salat tarawih.

      Sekalipun sepakbola tak bisa dibendung melalui syariat Islam, namun para mullah sudah memperjelas status hukumnya. Mereka mengharamkan, namun tidak bisa melarang kegiatan “munkar” tersebut. Mungkin, sepakbola adalah obyek hukum yang harus mendapat pengecualian. Persoalan yang diakibatkan sepakbola memang banyak terdapat madlarat, sekalipun di luar itu gengsi politik nasional, uang, dan lapangan pekerjaan tetap bisa disebut sebagai unsur maslahat. Tapi kalau kelompok Islamisme mau konsisten, baiknya memang bersikap tegas terhadap sepakbola. Bukankah yang tak sesuai syariat Islam adalah ajaran setan? Tanggal 9 Juni hingga 9 Juli 2006, adalah saat banyaknya setan bergentayangan. Ada baiknya fatwa keharaman sepakbola segera dikeluarkan. Bagi MUI, tak baik menunda sikap, sebab dengan demikian membuka ruang kemungkaran yang lebih luas.  Tak jadi soal di negeri-negeri Islam tersebut fatwa tinggal fatwa. Toh, sekalipun bunga bank diharamkan, perbankan konvensional tetap berjalan. Sepakbola di Iran memberikan pelajaran berharga kepada kita, bahwa memang kecenderungan berpikir Ulama kolot tidak perlu didengar. Rakyat Iran lebih percaya pada syariat produk FIFA. Percaya pada permainan bola yang sportif. Seolah-olah ada kesan, kemunafikan politisi Islam memang membosankan, sehingga mereka lebih memilih nila-nilai ke-Islaman yang mereka dapatkan dari sepakbola.

      Kalau mau konsisten berpikir ala “islam”, sepakbola jelas adalah kegiatan sekular dan liberal. Kalau kelompok Jaringan Islam Liberal (JIL) diharamkan karena mengusung pemikiran liberalisme dan sekularisme, maka sepakbola pun harusnya dikecam sebagai praktek haram. Jika tak ada fatwa, adakah dalil “pengecualian” dari syariat Islam berkaitan dengan liberalisme dan sekularisme dalam sepakbola? Ternyata, paradigma syariat Islam yang selama ini diagung-agungkan kelompok Islamisme harus kesulitan menghadapi si kulit bundar. Sekalipun akan muncul fatwa, barangkali kisah di Iran dan Saudi Arabia akan tetap berlaku di Indonesia. Ulama berfatwa, bola tetap bergulir. Anjing menggongong, kafilah berlalu. Dan, goollllll….hiruk pikuk jeritan laki-laki perempuan, ciuman di muka umum, tarian erotis tetap bisa kita saksikan di layar televisi!

      Adakah tempat bagi syariat Islam berhadapan dengan sepakbola? Selama pola pikir kita tidak mengikuti arus keterbukaan, maka kontradiksi antara ajaran agama dengan realitas kehidupan akan terus berlangsung. Sepakbola telah memberikan contoh kepada kita bahwa sikap dan pemikiran dogmatis hanya akan berujung pada jalan buntu.  Sepakbola juga membawa hikmah kepada kita, bahwa sekularisme dan liberalisme tidak harus dipandang sebagai problematika, melainkan sebagai sunnatullah. Sepakbola haram? Siapa takut?(FAIZ MANSHUR)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s