Sepakbola dan Globalisasi

Standar


Apa yang kita pahami tentang sepak bola? Secara sosiologis kita akan menjelaskan sebagai permainan paling populer sejagat, namun popularitasnya merepresentasikan permainan masyarakat kelas bawah. Maklum, media massa sebelum era 1995-an masih senang mengejek sepak bola milik kelas proletar di Eropa, milik masyarakat negara dunia ketiga di
Asia dan Amerika Latin, dan miliknya penduduk negara terbelakang di benua Afrika. Lewat tahun 1995, sepak bola telah masuk dalam jajaran elite sosial, bahkan politik. Di Eropa, terjadi perubahan revolusioner dalam dunia persepakbolaan. Klub-klub sepak bola tidak lagi mencerminkan solidaritas nasionalisme kampung, melainkan menjelma sebagai raksasa bisnis. Sepak bola tak lagi identik apresiasi kolektif
gaya komunis, melainkan lahan basah kaum kapitalis untuk mengeruk uang.
Namun, jangan merasa lengkap pemahaman Anda tentang sepak bola modern sebelum tuntas membaca buku karya Franklin Foer, seorang jurnalis berkebangsaan Amerika Serikat ini. Investigasi Foer di kawasan Serbia-Bosnia setelah pecahnya
Yugoslavia membuktikan sepak bola memainkan peranan politik penting. Tiap-tiap negara bagian bekas
Yugoslavia punya stereotip etnis yang diakui umum. Orang
Slovenia memiliki stereotip bek yang andal tanpa kenal lelah. Orang Kroasia memiliki kecenderungan Jerman untuk menyambar peluang mencetak gol. Orang Bosnia dan
Serbia penggiring dan pengumpan bola yang kreatif, walau kurang tajam secara taktik. Di klub raksasa Red Star, campuran berbagai pecahan orang
Yugoslavia ini menyatu bakat-bakat khusus mereka untuk menghajar tim-tim unggulan Eropa Barat (hal 8). Situasi perang yang melanda kawasan itu harus dijelaskan lebih lanjut oleh para sosiolog. Orang
Yugoslavia yang tercerabut akar tradisionalnya dan ditumbangkan dari martabat patriarkinya membuat mereka ingin menegaskan kejantanannya kembali. Kalau para suporter di
Yugoslavia berkubang dalam rasisme dan nasionalisme radikal, itu karena ideologi-ideologi tersebut berfungsi sebagai kiasan bagi kehidupan pribadi mereka. Bangsa dan ras mereka telah dikorbankan oleh dunia, sama buruknya seperti hidup mereka sendiri (hal 10). Maka, jangan heran saat situasi kekacauan meruntuhkan legitimasi lembaga negara, termasuk partai politik, gerombolan suporter Red Star berani menyatakan diri sebagai “organisasi” oposisi terhadap Milosevik, dan sekaligus menyatakan diri sebagai agen perubahan politik kebangsaan.
Di kawasan Britania Utara, negeri Skotlandia, memperlihatkan sepak bola menjadi pemicu radikalisasi antarumat beragama. Kesebelasan Glasgow Rangers yang Protestan sekian puluh tahun bertarung menghadapi lawan sekota, Glasgow Celtik yang Katolik. Setiap bertanding, olok-olokan suporter saling menyerang identitas agama kedua pihak. Hari menjelang atau sesudah pertandingan antara Celtik dan Rangers selalu menjadi hari-hari penuh horor dan menjelma menjadi pertentangan di luar urusan stadion.
Ada yang ditolak kerja lantaran mendukung tim lawan.
Ada fans dibunuh karena mengenakan kaus yang salah di lingkungan yang salah (hal 31). Seperti halnya kaum Protestan di Jerman sering mengolok-olok kesebelasan Bayern Munchen yang dianggap warisan Yahudi. Namun, sepak bola dan agama juga bukan berarti selalu konflik. Kisah lain, di Ukraina membuktikan sepak bola juga bagian apresiasi religiusitas masyarakat. Saat tim Ukraina hendak bertanding, misalnya, pemerintah secara khusus menggiring para pemain berdoa khusyuk di altar selama beberapa jam, meminta kepada Tuhan agar diberikan kemenangan. Akan tetapi, di Iran sepak bola juga berarti gerak sekulerisasi. Imam Khomeini adalah penguasa yang bersikeras melarang perempuan masuk stadion, apalagi bermain bola. Tapi, usaha Khomeini tetap tak mampu membendung hasrat kaum hawa yang gemar bola. Suatu ketika Foer melakukan investigasi, ia menemukan suatu keanehan pada rombongan pria bercukur halus dan mengenakan pakaian kedodoran. Setelah dicermati, ternyata mereka bukan pria, melainkan perempuan berpakaian pria. Dengan risiko dihukum berat oleh polisi
Iran, kaum perempuan Teheran berani menembus stadion Azadi. Di masa kepemimpinan Khomeini, Pemerintah
Iran memang berhasil meredam budaya pop, terutama lagu, film, dan kesenian impor dari Barat. Namun, mereka tak berhasil melarang sepak bola.
Di Brasil tak kita saksikan hubungan sepak bola dan agama menjadi persoalan. Mungkin ini dikarenakan sepak bola adalah agama itu sendiri. Jika anak laki-laki tak bisa bermain bola, maka akan dipertanyakan identitas kebangsaannya. Brasil tak pernah kehilangan pemain-pemain berbakat nan hebat dibandingkan negara mana pun di dunia ini. Ini sesuatu yang mengherankan Foer sendiri. Pasalnya, di berbagai negara yang persepakbolaannya maju, sangat ditentukan oleh kondisi politik dan ekonomi. Semakin stabil pemerintahan suatu negara, akan semakin makmur kehidupan rakyatnya. Secara otomatis, semakin stabil perekonomiannya, semakin maju pula sepak bolanya. Brasil tampaknya pengecualian. Kompetisi di negeri sendiri tidak seprofesional negeri-negeri Eropa. Pendeknya, dalam pengelolaan dan pembinaan sepak bola yang tak kalah buruk dengan
Indonesia, ternyata Brasil tetap menjadi negara kuat sepak bolanya. Tak berlebihan jika Foer lantas menyimpulkan bahwa “sepak bola sudah telanjur menjadi bagian hakiki dari kepribadian bangsa Brasil.”
Sebenarnya wacana sepak bola sebagai permainan warga kelas bawah nyaris tak punya legitimasi lagi, kecuali bagi kebanyakan orang kolot di Amerika Serikat yang, seperti dikatakan Foer, memang xenophobia terhadap globalisasi. Orang Amerika kebanyakan takut identitasnya hilang kalau sepak bola benar-benar laku di pasar domestiknya. Mereka akan merasa dijajah oleh tradisi bangsa asing. Dari sini, Foer berhasil membuka “aib” kebanyakan orang Amerika Serikat yang sebenarnya antiperubahan, cenderung bangga dengan dirinya sendiri, dan tak kenal kawasan lain. Sekalipun ulasan dalam buku ini tidak menyertakan kajian historis sepak bola di masa lalu, namun tetap bermanfaat, bukan saja bagi tetangga-tetangga Foer di Amerika Serikat, melainkan sangat bermanfaat bagi orang Indonesia yang, maaf, sangat miskin bacaan tentang sepak bola. Di negeri ini, sepak bola masih dianggap permainan kampungan, olahraganya para bonek, tempatnya koruptor mencari popularitas lewat organisasi persepakbolaan. Maka, jangan heran kalau petinggi negara ini pun lebih suka menyalami seorang pembalap yang akan kebut-kebutan, ketimbang menyalami sebelas pemain PSSI menjelang kick of di rumput hijau. (FaizManshur, Kompas 23 Juli 2006)

One thought on “Sepakbola dan Globalisasi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s