Pramoedya dan Mentalitas Produktif

Standar

Pramoedya dan Mentalitas Produktif

Pramoedya Ananta Toer telah meninggal. Apa yang perlu kita warisi dari seorang sastrawan hebat asal Blora Jawa Tengah itu?

Karya sastra adalah bagian terpenting yang kita miliki dari seorang Pram. Dalam khazanah susastra, Pram bukan lagi sosok asing. Ia sastrawan hebat. Berbagai karyanya telah diakui dunia internasional. ini dibuktikan oleh berbagai penghargaan internasional yang pernah Pram dapatkan.

Bukti lain adalah diterjemahkannya karya-karya Pram dalam 41 bahasa asing. Ia adalah penulis Prosa terbaik di Indonesia tiada tanding. Ia juga seorang ahli sejarah, ahli dokumenter dan seorang pejuang politik kerakyatan. Kita sudah mafhum semua itu bisa dapatkan dari seorang Pram. Tapi bagaimana cara kita mewarisi ilmu-ilmu dari seorang Pramoedya? Apakah kita harus menjadi seorang sastrawan seperti Pram abis? Apakah kita harus menganut paham komunis, menjadi ateis seperti Pram?

Kaum muda produktif

Pram tidak anti dengan pluralitas. Ia seorang yang paham betul bagaimana sebuah isme harus dihargai oleh pemeluknya. Ia tak pernah menyuruh orang menjadi ateis seperti dirinya, tak pernah memaksa siapapun harus menjadi komunis. Pram hanya menginginkan bagaimana kita manusia Indonesia menjadi manusia sejati, mandiri, produktif dan bertanggung jawab. Pram selalu menaruh perhatian kepada kaum muda Indonesia agar terus konsisten berjuang untuk rakyat Indonesia. Pram tidak mempercayai orang-orang tua, bahkan dirinya sendiri (setelah menjadi tua). Kata Pram, sejak tahun 1915 sampai puncaknya pada Sumpah Pemuda, revolusi 1945, hingga tergulingnya diktator fasis-Jawa Soeharto, semua dilakukan oleh pemuda. “Sejarah politik Indonesia, adalah sejarah kaum muda,” ungkapan ini selalu diulang-ulang oleh Pram. Hanya saja, menurut Pram, kaum muda Indonesia punya kelemahan, yakni tidak mampu menjadi pemimpin, kecuali Soekarno.

“Kenapa itu bisa terjadi Pak?” tanya saya.

“Why? saya tidak tahu. Itu problem kalian anak-anak muda. Saya sendiri tidak habis mengerti”, ujarnya dengan suara parau dua tahun lalu di kediamannya, Bojong Gede Bogor. Pram tak mau ambil pusing dengan pertanyaan saya. Namun begitu, Pram melihat mentalitas individu bangsa kita sudah rusak parah. Di mana-mana tawuran terjadi, masing-masing kelompok menyatu dan menyerang kelompok lain. Amarah massa mudah dibakar oleh isu-isu SARA. Hal seperti ini menurut Pram adalah bukti kegagalan individualitas manusia Indonesia. Bagi Pram, mentalitas individu yang masih tertanam kokoh hanya dimiliki bangsa Aceh. Bangsa lain di Indonesia nampaknya sudah kehilangan individualitasnya. Ada apa dibalik kerusakan mentalitas ini? Menurut Pram hal itu disebabkan perkembangan manusia Indonesia yang belum beres. Orang Indonesia secara umum tidak terdidik berproduksi. Padahal, produksi itulah yang akan membentuk nation menjadi kokoh, menjadi bangsa digdaya. Karena ketidakberesan ini, Pram menilai korupsi menjadi akibat yang paling jelas kita saksikan di Indonesia. Orang yang tidak punya mental produksi maunya jalan pintas. Di sinilah akar persoalan kenapa negeri ini tidak bangkit dari keterpurukan. Tanpa kultur produksi, rakyat Indonesia semakin kehilangan karakter. Manusia akan menjadi kanibal, satu kelompok menindas kelompok yang lain. Panggung kekuasaan dijadikan arena balas dendam rebutan posisi. Lahan-lahan ekonomi hanya dimiliki para penguasa. Dan benar kata Pram, tanpa mentalitas produktif, manusia Indonesia kini menjelma kawanan ternak!

Bukan Pram kalau tidak keras mengkritik. Bukan Pram kalau tidak cerdas menilai akar persoalan bangsa. Ia seorang sejarawan yang kritis dan mampu menuliskan dalam bentuk novel maupun prosa, termasuk cerita pendek. Semangat produktifnya sebagai seorang “Pramisme” terus berkobar meskipun musuh-musuhnya terus memojokkan dirinya. Pram tak pernah takut oleh represi tentara. Sejak jaman Penjajahan Belanda, Jepang, hingga pemerintahan orde baru sosok Pram selalu menjadi hantu para penguasa. Mungkin saja tubuh Pram bisa ditaklukkan, tapi pikiran dan jiwannya tidak akan pernah mati oleh siapapun. Pram adalah manusia produktif, karena itu ia selalu merdeka jiwanya. Pram ibarat “the eagle flies alone,” kata Afnan Malay, seorang aktivis politik angkatan 1980-an.

“Produksi apa saja,” begitu jawabnya ketika penulis bertanya lebih jauh tentang pentingnya manusia Indonesia bermental produktif. Pram tak menganjurkan semua orang untuk menjadi pejuang politik. Tak mengharuskan setiap orang menjadi seniman. Yang ia inginkan adalah produktivitas kerja dari masing-masing individu, apapun bidang pekerjaan itu. Produksi memang identik dengan individualitas seseorang. Tanpa memiliki tradisi ini, mentalitas seseorang akan turun menjadi pengemis. Parahnya, kalau sifat ketergantungan ini dimiliki para pemalas yang angan-angan hidupnya selangit, mereka akan kehilangan rasa malu. Tanpa produksi, “Jangankan mengemis, nyolong pun mau” kata Pram.

Konsumerisme

Bagi Pram, manusia tanpa individu produktif adalah kawanan ternak yang mudah digiring oleh orang lain. Yang paling jelas kita lihat adalah, bahwa di negara-negara yang mentalitas manusianya tidak produktif seperti Indonesia, masyarakatnya menjadi konsumtif. Mereka mudah digiring oleh ideologi pasar. Mereka mudah menjadi kawanan hewan konsumeris. Kurang apa dengan negeri ini? Berbagai macam bahan baku untuk industri dari Sabang sampai Merauke melimpah. Kapitalis asing menganggap Indonesia adalah negeri primadona. Bisa dimanfaatkan sumber daya alamnya, sekaligus bisa diperalat untuk mengonsumsi kembali. Produksi menjadi kata kunci kemenangan, sedangkan konsumerisme adalah jalan ke neraka. Konsumsi jelas maknanya; belanja untuk memenuhi kebutuhan dasar hidup. Sedangkan konsumerisme adalah sikap berlebihan dalam belanja. Kaum konsumeris, adalah mereka yang membeli bukan karena dorongan kebutuhan pokok, melainkan untuk gaya hidup. Untuk tidak menjadi manusia konsumeris tentu dibutuhkan mentalitas. Dan apa yang Pram berikan kepada kita adalah sesuatu yang bisa diterapkan. Selamat jalan Pak Pram! (FAIZ MANSHUR)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s