Rasionalitas Puasa untuk Orang Modern

Standar

Resensi Buku:

Judul Buku: Madrasah Ruhaniah: Berguru pada Ilahi di Bulan Suci
Penulis: Prof Dr Jalaluddin Rakhmat MSc
Penerbit: Mizan & Muthahhari Press, Bandung, Cetakan: II 2006
Tebal: 250 Halaman 

Ritual atau ibadah dalam setiap agama lebih menampakkan wajah dogmatis ketimbang rasionalitasnya. Ibadah puasa, misalnya, cenderung terlihat sekadar bagian dari sikap tunduk seorang manusia kepada yang gaib. Bagi seorang rasionalis tulen, hal ini tentu merupakan bagian dari perilaku tiada guna jika tetap dijalankan.

Asumsi yang demikian itu memang bagian dari perkembangan pemikiran di era modern. Dalam kaidah hukum Islam (ushul fikih) disebutkan bahwa ibadah adalah cara manusia menghadap Tuhannya.

Manusia tidak perlu bertanya kenapa Tuhan mewajibkan, termasuk tidak boleh mengganti tata cara ibadah dengan cara yang mereka inginkan sendiri. Ushul fikih menetapkan bahwa setiap hal yang berhubungan dengan ibadah, umat Islam tinggal mengikuti praktik yang telah dilakukan oleh Nabi Muhamad SAW, sang pembawa ajaran Tuhan. Sedangkan dalam bidang sosial (muamalah), kita bebas melakukan rasionalisasi, termasuk ijtihad.

Jika demikian, apakah puasa dalam bulan Ramadhan memang tidak memiliki sisi rasionalitas dan fungsi sosial dalam kehidupan di zaman modern ini? Bagaimana ajaran Islam menjawab tantangan rasionalitas modern tersebut?

Buku karya cendekiawan dari Bandung ini memang tidak secara khusus ingin menjawab pemahaman para pengritik ritual keagamaan. Namun, melalui kekuatan logikanya, Jalaluddin Rakhmat mampu melakukan terobosan akan pentingnya ibadah puasa bagi kita yang hidup di era modern sekarang ini. Arti puasa bagi Jalaluddin bukan sekadar menaati kewajiban ritual keislaman, melainkan lebih sebagai upaya umat Islam agar masuk ke dalam proses besar perbaikan kehidupan individu dan sosial secara revolusioner dan radikal.

Puasa dalam ajaran Islam adalah kelanjutan dari ritual yang pernah diwajibkan Tuhan (QS Al-Baqarah; 183-185). Dalam ayat ini disebutkan tujuan puasa adalah ketakwaan. Jelas, ayat ini ingin menyatakan bahwa puasa adalah cara yang spesial agar manusia menjadi takwa, menjadi lebih dekat kepada Tuhan, serta memenuhi kebutuhan spritualitasnya.

Menurut Jalaluddin, ada lima tanda orang-orang bertakwa. Pertama, iman kepada yang gaib (Al-Baqarah 2:3). Kedua, pengabdian kepada Allah >small 2<Swt>small 0<, antara lain dengan menegakkan shalat. Ketiga, perkhidmatan kepada sesama manusia. Keempat, kepercayaan kepada apa yang diturunkan Rassulullah SAW, dan nabi-nabi sebelumnya. Kelima, keimanan kepada hari kiamat. Apabila rukun takwa itu dipenuhi, Tuhan berjanji akan memberi dua anugerah kepada kita berupa petunjuk dan kebahagiaan.

Dari penjelasan ini tampaknya kita belum terpuaskan secara rasional. Penjelasan di atas masih sebatas “rasionalisasi” doktrin yang bisa dengan mudah dibantah dengan berbagai cara. Bagaimana Jalaluddin menjawab tuntutan ini?

Melalui perspektif psikologi perkembangan (development psychology), Jalaluddin menjelaskan bahwa dalam perkembangan kepribadiannya, manusia mengubah-ubah kebutuhannya. Dengan kata lain, kenikmatan manusia berganti-ganti sesuai dengan perkembangan kepribadiannya. Pada tingkat yang masih awal sekali, kebutuhan manusia masih sebatas hal-hal yang konkret atau hal-hal yang berwujud dan kelihatan. Pada tingkat ini, kebutuhan itu memerlukan pemuasan yang segera (immediate grafitification).

Mengutip pandangan Sigmund Freud, Jalaluddin mencoba melihat sisi kepribadian manusia secara lebih detail (hal 22). Menurut Freud, ada tiga tahap perkembangan kenikmatan dalam diri anak-anak. Semua tahap ini memiliki persamaan. Semuanya bersifat konkret, bisa dilihat, dan sifat pemenuhannya yang sesegera mungkin. Kalau orang itu lapar, ia makan. Ia sesegera memuaskan kebutuhannya pada makanan dan minuman. Di sini Freud melihat letak kenikmatan pada periode paling awal terletak pada mulut. Masa ini disebut periode oral.

Perkembangan selanjutnya adalah mendapatkan kenikmatan ketika mengeluarkan sesuatu dari tubuhnya. Seperti ketika seorang anak buang air besar atau buang air kecil. Masa ini disebut periode anal. Pada periode ini seorang anak bisa berlama-lama di toilet. Dia senang melihat tumpukan kotorannya dan kadang-kadang ia mempermainkannya.

Periode selanjutnya adalah periode genital. Periode ini memasuki jenjang masa kedewasaan. Tanda-tandanya adalah kegemaran seorang anak mempermainkan alat kelaminnya dan memperlihatkan kepada orangtuanya. Di sini pandangan Freud ingin menyatakan bahwa pada masa kanak-kanak hanya bersifat fisik, tidak ada kebutuhan spiritual.

Jalaluddin lalu menjabarkan, manusia tidak cukup dengan itu. Hal-hal yang bersifat abstrak setelah kebutuhan fisik terpenuhi pasti menjadi kebutuhan selanjutnya. Semakin dewasa, semakin abstrak kebutuhan manusia. Pada orang-orang tertentu, kepribadiannya itu terhambat dan tidak bisa berkembang. Hambatan kepribadian itu disebut fiksasi. Jalaluddin mencontohkan, walaupun seseorang sudah masuk kategori dewasa, tetapi dia hanya mencukupkan diri pada kebutuhan makan dan minum. Perbedaannya, dia mengubah makan dan minum itu ke dalam bentuk simbol, misalnya dalam bentuk kepemilikan kekayaan.

Apa yang dikatakan Jalaluddin adalah relevan untuk melihat bagaimana manusia-manusia modern adalah sosok manusia yang terhambat kepribadiannya. Atau paling tidak, mereka terhambat pada periode genital. Mereka seperti anak-anak, masih mencari kenikmatan dalam “mempermainkan alat kelaminnya”.

Dari fenomena yang paling mencolok kita lihat adalah munculnya lembaga-lembaga modern yang dibuat untuk sekadar memenuhi kebutuhan itu: makan, minum, dan seks. Bisnis makanan dan minuman sampai menyedot triliunan rupiah, begitu juga bisnis seks yang semakin marak seiring dengan perkembangan modernitas di suatu tempat.

Manusia yang tidak terhambat perkembangan kepribadiannya adalah mereka yang membutuhkan akan sisi abstrak dari kehidupannya: misalnya, kebutuhan intelektual, kebutuhan akan ilmu pengetahuan, dan informasi, termasuk kebutuhan spiritual (hal 25). Jalaluddin merujuk pada pemikiran Abraham Moslow dengan konsep piramidanya. Kata Moslow, semakin tinggi bagian piramida, semakin abstrak pula kebutuhan-kebutuhannya.

Pada tingkat paling bawah, manusia hanya memenuhi kebutuhan makan dan minum. Ia hanya memuaskan kebutuhan biologisnya. Bila kebutuhan biologis itu sudah terpenuhi, kebutuhannya akan naik pada tingkat selanjutnya. Kebutuhan di atasnya adalah kebutuhan akan kasih sayang, ketenteraman, dan rasa aman. Lebih atas lagi adalah kebutuhan akan perhatian dan pengakuan. Lebih tinggi daripada itu adalah kebutuhan akan self actualization atau aktualisasi diri.

Sejalan dengan ajaran Islam, Jalaluddin mengatakan, kebutuhan akan hal itu disebut al-takamul al-ruhani, proses penyempurnaan spiritual. Itulah tingkat yang paling tinggi dalam kebutuhan manusia. Jadi, puasa bulan Ramadhan, menurut Jalaluddin, bukanlah sisi tradisional yang tidak relevan dengan kehidupan modernitas. Justru dengan memahami sisi fundamental dari kehidupan manusia, puasa memperkenalkann strategi yang baik guna menjawab problematika kehidupan modern.

Penjelasan-penjelasan rasional seperti itu sangat banyak memenuhi bagian per bagian dalam buku ini. Ibadah yang selama ini kita kenal sebagai ritualnya kaum puritan, kebiasaan turun-temurun tradisional, di tangan Jalaluddin Rakhmat jadi sesuatu yang realistis dan menjadi alternatif atas persoalan-persoalan kehidupan modernitas.

Sekalipun Jalaluddin lebih banyak berbicara mengenai puasa dari paradigma ilmu-ilmu modern, seperti psikologi, komunikasi, sosiologi, sejarah, budaya dan filsafat, Jalaluddin tidak kehilangan pijakan dasar teks-teks kitab suci yang notabene menjadi landasan utama kaidah hukum Islam.

Bahkan, buku ini teramat menyegarkan dibandingkan dengan buku lain karena memuat lengkap sisi-sisi perbedaan berbagai aliran pemikiran dalam Islam. Kekuatan teks-teks kitabiah maupun kekuatan paradigma kritis ilmu modern yang disajikan oleh Jalaluddin Rakhmat menjadikan buku ini memiliki bobot keislamanan sekaligus bobot rasionalitas. Buku ini layak dibaca oleh siapa pun, termasuk Anda yang beragama non-Islam. Faiz Manshur

 

One thought on “Rasionalitas Puasa untuk Orang Modern

  1. Ketika manusia menjalankan ibadah puasa, ada satu hal yang sulit untuk ditahan yaitu lidah. Tidak heran jika puasa bukan hanya menahan makan, minum dan sek. Melainkan puasa pun adalah sebuah latihan tetang penahan diri yang kita sebut hawa nafsu. Bukankah puasa itu dibagi menjadi tiga tingkatan, pertama puasa berdasarkan syariat. Kedua, puasa berdasarkan tarekat, dan yang ketiga puasa berdasarkan hakekat.

    Yang membatalkan puasa berdasarkan syari’at adalah makan, minum dan sek. Sementara dari tarekat, adalah berbakata tidak jujur, mempergunjingkan orang lain, mencaci, mengina dll. Sementara yang membatalkan puasa dari segi hakekat adalah berimajinasi atau menghayal tetang sesuatu yang bersifat negative.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s