Spritualitas Puasa Sebagai Kontrol Kehidupan

Standar

 Ada banyak manfaat positif dari puasa. Salahsatunya adalah mengembalikan ketegangan, labilitas, keterasingan manusia ke arah normalitas kehidupan. Kita tahu, keseharian gerak hidup yang serba semrawut selama 11 bulan membuat manusia alpa akan suatu kewajaran. Pada hari-hari biasa kita berhadapan dengan berbagai kecenderungan nafsu duniawi yang tiada tepi. Dalam lingkar yang serbaneka ragam kepentingan, target, tuntutan dan keharusan, manusia sering lupa garis kebenaran hidup. Seseorang yang tadinya alim, ketika masuk dalam keseharian dunia yang korup bukan mustahil akan menjadi koruptor. Namun kita sadar betul, realitas keseharian selalu bertentangan dengan idealitas hidup manusiawi. Semua manusia pada dasarnya baik, dan selalu ingin menjadi yang baik. Kejahatan dan pelaku amoral sejenisnya sering muncul dari kenyataan hidup sehari-hari. Dalam realitas keseharian, antara kebenaran dan kebatilan, antara kejujuran dan kebohongan, antara yang baik dan buruk selalu menjadi menyertai kita dalam keseharian. Puasa sebagai kontrolYang utama dan pokok dari ibadah dalam ajaran Islam memang lebih diperuntukkan sebagai bentuk pengabdian manusia kepada Tuhan. Namun demikian, bukan berarti ibadah tiada guna bagi manusia. Ibadah mempunyai dimensi vertikal sekaligus horisontal. Dalam jangka pendek, setiap hari umat Islam diwajibkan menjalankan shalat 5 waktu. Ada banyak makna dari solat. Salah satunya adalah agar manusia tidak merasa lebih unggul dari sesama. Saat shalat antara majikan dan ajudan, antara guru dan murid sama-sama berdiri setara, duduk setara, dan sama-sama menjadi hamba Tuhan yang tiada berbeda derajat. Yang membedakan derajat satu manusia dengan manusia lain dihadapan Tuhan hanyalah ketakwaan seseorang.Puasa adalah cara kita menyadari sisi kemanusiaan kita dalam jangka panjang. Setelah 11 bulan melewati gurun tandus nan gersang kehidupan duniawi, pada bulan ramadlan kita bersinggah. Semua berhenti pada terminal keheningan, saling instropeksi diri, saling membagi rasa. Hadirnya puasa membuat kehidupan kita tidak monoton. Kita tahu, manusia makhluk yang gampang bosan dengan situasi. Dengan adanya bulan puasa sebulan penuh, hari-hari kita terasa lain.Soal pola makan misalnya, pada hari biasa hanya para dokter saja yang sudah terbiasa menetapkan pola makan yang baik. Kebanyakan orang makan tiada kontrol, baik waktu makan, jenis makanan maupun kadar sedikit banyaknya makanan yang dimasukkan ke perut.Dengan puasa kita menyadari bahwa soal pola makan memang perlu dikontrol secara khusus. Sehat tidaknya seseorang sangat banyak ditentukan oleh pola makan. Makanan memang sumber energi manusia yang paling pokok, tapi sekaligus bisa menjadi sumbernya penyakit pada tubuh manusia. Di rumah sakit banyak dipenuhi pasien, yang terbanyak bukan karena kecelakaan, melainkan disebabkan penyakit dalam yang ujung-ujungnya dampak dari pola makan yang tidak sehat. Puasa juga bermanfaat bagi kontrol terhadap hasrat seksual, hasrat konsumsi dan hasrat materialisme. Rutin melakukan hubungan seks adalah kegiatan yang sangat manusiawi, bahkan menyehatkan fisik dan psikis manusia. Namun hasrat sekual yang berlebihan akan menjerumuskan manusia kearah sikap konsumerisme seksual.Ada banyak masalah rumah tangga rumahtangga yang carut-marut gara-gara salahsatu, atau keduanya dari pasangan suami istri tidak mengontrol nafsu seksualnya.  Pasangan suami istri misalnya, sebenarnya normal-normal saja dalam melakukan hubungan seks. Tapi karena selera seks yang beranekamacam memungkinkan seseorang harus melakukan rekreasi seks dengan lain pasangan resminya. Spritualitas dan solidaritasDalam puasa terkandung dimensi spritualitas yang teramat kuat. Namun kalau sudah rutin dijalankan tak jarang membawa pada rutinitas. Seperti dalam hal shalat, banyak orang melakukannya, namun lupa substansi dan tujuan salat. Banyak orang berpuasa, namun tiada yang bisa diambil manfaat, kecuali lapar dan dahaga.Bahkan kini, puasa bukan hanya rutinitas ibadah, melainkan juga menjadi rutinitas yang sifatnya duniawi. Dimana-mana panggung religus digelar. Semua nampak Islami, semua nampak religus. Namun dibalik itu sebenarnya materialisme, hedonisme merajalela. Seharusnya dengan puasa orang bisa sedikit ngirit belanja. Namun anehnya, konsumsi justru merajelela di bulan ramadlan. Berpuasa seharusnya sebagai sarana belajar menghayati derita kemiskinan, namun orang justru berbondong-bondong bergaya hidup selebritis berjilbab dengan busana serbamewah. Selebritis tanpa kenal malu berlagak sebagai santri-santri alim yang seolah-olah tanpa tendensi materi tampil di televisi. Padahal dibalik itu mereka memasang tarif khusus untuk acara syiar yang serba semu itu.Berhadapan dengan kenyataaan yang serba tidak islami tersebut, agaknya kita harus lebih cerdas dan kreatif memanfaatkan ibadah puasa. Agar puasa tidak sia-sia, harusnya dijadikan sarana latihan dan juga menjadi motivator yang sungguh-sungguh dalam rangka tindakan praksis aplikasi solidaritas sosial. Puasa seyogianya dimaknai secara lebih humanis sebagai pengetuk hati yang sering lupa bahwa tugas sebagai khaliffatulah fil ard (pengemban amanah Allah) adalah menjaga keharmonisan kehidupan dengan melakukan kerja sama dalam bentuk solidaritas yang semuanya haruslah diabdikan bagi tegaknya keadilan sosial. Upaya ini bukanlah hal yang mudah tentunya. Bagi banyak orang ritual puasa — sesuai tuntutan formal syariah selama sebulan penuh — bukanlah beban yang begitu berat. Namun, pada wilayah perjuangan penegakan keadilan sosial inilah setiap orang harus mempunyai mental dan sikap keimanan yang kuat.

Agar bulan ramadlan ini semakin baik kualitas ibadahnya, marilah kita meningkatkan kualitas berpikir kita dalam menafsirkan berbagai makna peribadahan. Ibadah bagi orang-orang berilmu akan lebih berkualitas di mata Allah ketimbang ibadahnya orang bodoh. Beribadahlah dengan mentalitas kemanusiaan yang kuat.*** (Faiz Manshur)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s