Islam dan perlindungan Minoritas

Standar

 

Judul buku: Fiqh Baru bagi Kaum Minoritas
Judul asli: Nahwa Fiqhin Jadidin lil Aqalliyat (Kairo: Dar al-Salam, 2003)
Penulis: Prof Dr Jamal al-Din Athiyah Muhammad
Penerjemah: Shofiyullah Mz.
Penerbit: Marja (Nuansa Cendekia), Bandung
Cetakan: I, Oktober 2006
Tebal: 240 halaman

Wacana tentang minoritas sampai kini masih terus menarik diperbincangkan, terlebih jika diskursus itu masuk wilayah agama. Mungkin ini disebabkan oleh sensitivitas yang dimiliki para pemeluk agama. Kelompok yang berada dalam mayoritas agama sering kali merasa lebih superior ketimbang minoritas. Sedangkan yang minoritas merasa tertekan oleh dominasi ataupun hegemoni mayoritas. Akibatnya, yang terjadi adalah hubungan tidak nyaman di antara keduanya.

Dari realitas ini, masyarakat kita membutuhkan tata pergaulan yang lebih toleran, humanis, dan antidiskriminatif. Baik mayoritas maupun minoritas diharapkan tidak terperangkap dalam kubang prasangka suku, ras, agama, dan antar golongan (SARA). Pemeluk agama yang biasanya cenderung ideologis dan sentimental dalam pergaulan antarmayoritas dan minoritas tentu harus hadir dengan konsep yang lebih ramah, toleran, dan antidiskriminatif. Mungkinkah? Hal itu bukan hal yang mustahil dilakukan. Sebab, agama-agama besar, seperti Yahudi, Nasrani, dan Islam, pernah punya pengalaman historis dalam hal ini. Hampir semua umat beragama di dunia ini akan selalu berhadapan realitas ini: baik berada dalam posisi minoritas maupun mayoritas. Nah, hadirnya buku ini menjawab pertanyaan kemungkinan tersebut. Penulisnya Prof Dr Jamaluddin Athiyah Muhammad, ilmuwan dalam bidang hukum Islam dan hak asasi manusia berkebangsaan Mesir. Pemikiran baru Athiyah tentang minoritas ini adalah buah keprihatinannya atas stagnasi dalam pemikiran Islam.

Athiyah melihat selama ini para tokoh dan ilmuwan agama dari berbagai agama cenderung hanya melihat problem minoritas-mayoritas dalam ruang sempit kajian historis-analitis. Ironisnya lagi, umat Islam masih kuat mewarisi tradisi pemikiran fikih lama yang sebenarnya sangat tidak relevan untuk melihat kompleksitas persoalan minoritas sekarang ini. Kita tahu, pemikir-pemikir lama dalam bidang fikih kebanyakan masih terbatas dalam hubungan Islam, Kristen, dan Yahudi. Pada masa lalu, tepatnya abad pertengahan, Islam adalah agama yang banyak tertekan oleh dominasi Kristen. Akibatnya, para ulama dalam menafsirkan ayat-ayat Al-Quran dan Sunnah cenderung ideologis dan provokatif menyerang agama lain, terutama kelompok agama minoritas. Tentu ini suatu hal yang harus dikritik ulang untuk kemaslahatan umat manusia di masa kini. Karena itu, Athiyah mencoba melihat persoalan masa lalu sebagai bagian terpenting dalam buku ini. Menurut dia, pandangan ulama-ulama lama tidak perlu disakralkan. Mereka sama juga seperti ulama yang lain yang melakukan ijtihad melalui cara pandang mereka sendiri. Setiap pemikiran dipastikan terkait dengan konteks sosio-historis. Karena itu, wajar jika pemikiran ulama-ulama dulu, seperti Ibnu Hazm atau Al-Razi, untuk era sekarang sudah tidak relevan lagi. Menurut Athiyah, kitab-kitab fikih merupakan produk ijtihad manusia yang tidak punya kekuatan mengikat secara hukum. Apalagi seluruh ijtihad itu merupakan respons terhadap ruang dan waktu di masa lalu. Sementara itu, ruang dan waktu senantiasa berubah.” Menurut Athiyah, “Apa saja yang masih relevan perlu dipertahankan dan dijadikan titik tolak, serta apa saja yang tidak relevan perlu ditinggalkan.” (halaman 16)

Selain berfokus pada ijtihad pemikiran klasik, Athiyah merekonstruksi konsep-konsep minoritas yang selama ini diyakini para pemikir modern. Jika selama ini konsep minoritas terbatas dalam kategori agama, etnis, dan ras, Athiyah menemukan kategori lain, seperti minoritas dalam bahasa, urbanisasi, dan identitas penduduk asli, serta minoritas dalam akses ekonomi. Ia berhasil mengidentifikasi banyak kelompok minoritas yang sering menjadi korban mayoritas dan minoritas yang mengancam eksistensi mayoritas di berbagai bangsa. Ia melakukan riset ilmiah di beberapa negara, terutama yang pernah terlibat konflik, seperti Indonesia, Cina, India, Pakistan, dan Afganistan, juga persoalan etnis minoritas di Uni Soviet dan Yugoslavia, serta beberapa konflik yang terjadi di Afrika Tengah dan Timur. Bahkan kaum minoritas penduduk asli Amerika, Australia, Irlandia Utara, dan Inggris juga dimasukkan sebagai bahan kajian. Melalui buku ini, Athiyah menawarkan konsep baru berupa paradigma Islam yang menekankan kemaslahatan bersama. Islam dalam pengertian Athiyah adalah ajaran yang toleran, humanis, universal, dan selalu menekankan pentingnya keadilan. Tawaran Athiyah dalam bentuk pasal-pasal undang-undang dalam buku ini sangat relevan untuk mengatasi kelemahan undang-undang perlindungan hak asasi manusia di Perserikatan Bangsa-Bangsa.

faiz manshur, penulis lepas, tinggal di bandung
naskah ini pernah dimuat Koran Tempo, 28 januari 2007

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s