Neo Liberalisme di Negeri Cina

Standar

Judul Buku : Belajar Dari Cina
( Bagaimana Cina merebut peluang dalam era globalisasi)
Penulis: I Wibowo
Editor : P. Cahanar
Penerbit: Penerbit Buku Kompas, Jakarta
Edisi: Cetakan Pertama Januari 2004
Tebal: 238+viii
Harga: Rp 36.000

Setiap kali pembicaraan mengenai Cina berlangsung, kerapkali pembicaraan itu mengarah pada isu komunisme yang selama sekian abad telah menjadi hantu menakutkan bagi kapitalisme. Tapi kini, hantu itu sudah pergi entah ke mana. Komunisme di Cina kini bisa dikatakan tinggal simbol yang tidak menakutkan lagi. Kebijakan ekonomi Cina di masa sekarang ini telah berubah drastis. Ini tak lain karena pemerintahan Republik Rakyat Cina (RRC) turut serta terlibat dalam konstelasi perdagangan neo-liberal yang kini bergema di seluruh penjuru dunia. Slogan “gaige kaifang” yang pernah dipekikkan pemimpin tertinggi komunis pada 1978 silam telah berubah karena perubahan haluan ekonomi-politik Cina. Terlebih lagi ketika pemerintahan RRC bergabung dengan WTO dan terlibat aktif di beberapa organisasi perdagangan Asean.

Melalui buku karya I Wibowo inilah perubahan arah kebijakan ekonomi, politik, sosial, dan kebudayaan itu bisa kita saksikan. Pergeseran dari kebijakan ekonomi-politik monopolistik, ke arah kebijakan neo-liberal di Cina itu rupanya berhasil memperlihatkan perubahan yang signifikan. Jika ditengok lebih detail, selama semester pertama 2003, volume perdagangan mencapai US$ 4,4 miliar atau naik 24,4% dibanding periode yang sama pada 2002. Negara berpenduduk 1,4 miliar jiwa ini memiliki GDP 8,2% pada semester pertama 2003. (halaman 98) Pada 1997, Bank Dunia menilai Cina sebagai negara yang akan berprestasi di dalam ekonomi 2020 mendatang. Serangkaian bukti pun dikemukakan, Dalam catatan yang sarat dengan angka statistik tersebut, Bank Dunia menyimpulkan perkembangan negeri Cina lebih bagus dibandingkan negara-negara kapitalis lainnya. Untuk melipatduakan pendapatan perkapita, misalnya, Cina hanya membutuhkan waktu 9 tahun (1978-1987), sementara Inggris membutuhkan 100 tahun (1780-1838), Amerika Serikat 47 tahun (1839-1886), Jepang 34 tahun (1885-1919), dan Korea Selatan 11 tahun (1966-1977).

Bagi Cina, keterlambatan dalam pembangunan bukanlah sebuah hambatan, malah suatu keuntungan. Bank Dunia menilai, Cina termasuk sedikit negara yang dapat memanfaatkan pengalaman dan pelajaran dari negara-negara yang mengadakan pembangunan pada periode sebelumnya. (hal: 162) Di bidang teknologi, Cina juga telah memperlihatkan kemampuannya sebagai salah satu negara maju karena keberhasilan meluncurkan pesawat Shenzhou V. Ini artinya, Cina telah berhasil menunjukkan kemampuannya untuk menjadi sebuah kekuatan adidaya baru yang setara dengan AS. Dari sinilah fenomena kebudayaan baru di Cina juga semakin menunjukkan perubahan signifikan, terutama bergersernya kelas menengah yang semakin independen dan punya kebebasan politik. Mengenai ciri khas perubahan yang terjadi di Cina, para analis belum bisa memberikan istilah khusus. Tapi, yang jelas perubahan di Cina yang khas dan unik, dan semua faktor yang melatarbelakangi perubahan itu belum pernah ditunjukkan dalam buku teks ekonomi-politik baik liberal maupun sosialis. Memang, kemajuan negeri Cina, bukan berarti tanpa masalah. Ada banyak persoalan krusial yang menghadang seperti membengkaknya pengangguran, budaya korupsi, kerusakan lingkungan, melebarnya jurang antara kaya dan miskin, serta ancaman sengketa perdagangan dengan negara lain sebagai konsekuensi ekspor yang teramat cepat. Tetapi sekalipun demikian, Cina masih layak menjadi pelajaran bagi bangsa lain. Di saat negara-negara berkembang seperti Indonesia mengalami dis-orientasi menghadapi globalisasi, Cina justru melangkah mantap tanpa beban ideologis. Sekalipun buku ini bukan hasil penelitian khusus, tetapi setidaknya kita bisa mengenali potret negeri Cina dalam tahun-tahun belakangan ini.

faiz manshur, peresensi di Jakarta
Naskah ini pernah dimuat Koran-Tempo 18 Juli 2004

One thought on “Neo Liberalisme di Negeri Cina

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s