Mengarungi Bencana Bersampan Akal Budi

Standar

 

Mengarungi Bencana Bersampan Akal Budi

berguru pada Siti Jenar


Di suatu tempat di Pengging, siang hari. Sebelum layar dibuka atau lampu dinyalakan terdengar gemuruh bencana gempar bercampur dengan teriakan dan jeritan orang….

Begitulah cara Saiki KM mengantarkan pembaca sebelum menyimak kisah sejarah dalam naskah dramanya, “Jenar: Lakon Syekh Siti Jenar dalam Babad Tanah Pengging; 2005”. Di sini, Saini mencoba meracik sejarah dalam pandangan yang berbeda dengan yang lain, -sebagaimana saya memandang dengan cara lain dalam naskah ini.

Alkisah, awal abad 15, negeri Demak Bintoro dilanda bencana. Gempa bumi bertubi-tubi. Petani gagal panen. Nelayan tak melaut. Wabah penyakit merajela seantero negeri. Orang-orang mati mengenaskan. Yang hidup dicekam cemas dan takut. Tak tahu harus bagaimana mereka bersikap menghadapi situasi gawat ini. Keluhan mereka kepada penguasa berbuah kecaman. “Bertobatlah! Pegang buhul syariat. Tuhan menimpakan bencana karena kalian banyak maksiat,”demikian kurang lebih jawaban Sultan Demak Bintoro.

Tragis! Maunya dimanusiakan malah dikambing-hitamkan. Begitulah kawanan ternak. Tugasnya menerima perintah dan tanggungjawab. Dari patuh ke taat. Dari abdi ke pengabdian. Saat bencana menerpa, kesalahan dilimpahkan pada mereka. Mana mungkin sang khalifah beserta para wali melakukan kesalahan? Atas perintah Sultan, doa pertobatan digemakan penduduk seantero negeri. Setiap hari rakyat berdoa khusuk di rumah sendiri. Usai salat jumat ratusan jamaah melakukan istighotsah pertobatan. Hari demi hari dilewati. Dengan doa, orang-orang mampu melewati derita. Hidup pun membuka kemungkinan atas harapan. Harapan melahirkan masa depan. Tapi, menunggu adalah pekerjaan yang membosankan. Menanti terlalu lama akan membuahkan kecemasan. Sampai kapan harus bersabar?

Di tengah-tengah kebingungan, beberapa santri ditemani puluhan orang-orang desa mengadu kepada seorang wali yang tak suka berada di lingkar kekuasaan. “Kanjeng Sunan”, begitu mereka memanggilnya. Jenar namanya. Sosok sederhana berhati mulia. Ucapannya terpercaya. Selalu adil melihat setiap perkara. Orang-orang desa meminta agar ia berkenan memimpin doa dan pertaubatan. Mereka berharap dengan kesucian hatinya, Tuhan berkenan menghentikan bencana. Jenar menolak. “Seandainya bencana ini karena perbuatan dosa, kenapa tidak berhenti juga setelah kalian bertobat? Kalau benar Tuhan mengirim bencana karena dosa, kenapa yang tertimpa orang-orang kecil dan bukan para penguasa yang lalim? Bencana itu sunnatullah; akan terus terjadi dengan berbagai macam bentuknya. “

Bagi Jenar, Tuhan menimpakan musibah semata-mata karena kehendakNya. Kehendak merdeka. Tak juga karena dosa hambaNya. (Q.S Al-Baqarah 155). “Jangan lancang berspekulasi karena sesuatu hal, termasuk dosa. Terimalah bencana ini. Ya, terimalah sebagai peringatan Tuhan bahwa kita manusia yang rapuh dan fana. Yang fana harusnya menyesuaikan yang kekal. Yang naïf harus menyesuaikan kepada yang sejati. Tawakal!,” ucapnya pasti. Bukan santri kalau tidak bingung dengan logika ini. Bukan politisi jika tak pandai memanfaatkan pemikiran ini untuk menggebuk lawan politiknya. Di tengah kebingungan orang-orang desa, Jenar berkata, “jangan dikira orang menderita karena bencana. Bahagia atau menderita seseorang tidak bisa diukur dengan mata kepala. Maha murah dan adil Tuhan yang berkuasa.”

“Tapi, Kanjeng Sunan”, kata seorang Santri. “Rakyat menderita tak terkata. Kita harus memohon kepada Tuhan untuk menghentikan bencana ini.”

“Selama kalian masih memanusiakan Tuhan, selama itu pula kalian tidak akan paham hakekat kehidupan alam dan hakekat Tuhan. Inilah kesalahan fatal. Saat Tuhan menimpakan bencana, Tuhan tergambar sebagai raksasa kejam. Saat kalian kelimpahan rezeki, Tuhan jadi berhala,”tutur Jenar. Jenar mendeskripsikan kasih Tuhan dalam bentuk yang sangat ekskusif. Kasih-Nya tak tergambar sebagaimana kasih ayah terhadap anaknya. Tuhan menyayangi manusia, tapi alam punya hukum kodrat sendiri. Bencana dan anugerah tak ada kaitannya dengan kasih-sayang. Penderitaan maupun kebahagiaan bukanlah pada ukuran manusia. Maha suci Tuhan, yang tak mudah dijangkau pikiran manusia.“

Interpretasi dekonstruksionis ini mengingatkan kita kepada Friedrich Nietzsche, sang filsuf tercerahkan abad 19 asal Perancis. Dalam dunia ini katanya, “tak ada fakta, yang ada hanyalah interpretasi”. Adil, benar, salah, kafir, sedih, bahagia, selalu membuka kemungkinan dicerna dengan beragam pemahaman, beragam kesadaran. Kematian, bencana, kemiskinan, tekanan sudah sepaket dengan alam. Sebelum manusia berbuat dosa, bencana telah digariskan ada. Alam, manusia, Tuhan memiliki ‘hukum’ tersendiri. Salah menafsirkan berakibat reduksi. Tuhan di luar manusia, bak raja, raksasa atau bunda pengasih. Sedangkan Tuhan dalam diri manusia menjelma; ‘aku’, ‘yang subjektif’.

KeberadaanNya tak terjangkau tangan. Karena Ia bersemayam dalam ruh (QS 15:29). Ia menyatu, lebih dekat dari urat leher manusia. Kematian badan adalah tragedi badani, bukan tragedi ruhani. Justru yang hidup tanpa akal budi itulah yang tertimpa tragedi; serupa bangkai gentayangan di dunia. Jenar. Selalu membuka kemungkinan yang lain. Tak ada hitam-putih dalam kehidupan. Mengklaim sesuatu adalah pendapat Tuhan, adalah kemunafikan paling vulgar. Paradigma liyaning liyan (lain dari yang lain) bukan berarti waton sulaya (asal beda) melainkan hasrat untuk menuju pemaknaan yang hakiki. Tuhan di sana, Tuhan di sini, adalah soal interpretasi. Dan kitab suci pun memberi kesempatan pada pikiran kita untuk mengatakan Tuhan ada di sini, bukan di sana.

Tuhan ada. Bukan sekadar menyatu dalam subjek bernama manusia. ‘Mewujud’ dalam ‘diri’. Adakah orang mati bisa berucap Tuhan ada? Subjek dan diri yang benar-benar menyejati dengan ilahi, kata Jenar, menjadi ‘anna Allah”. Sebagai subjek, manusia “berkuasa” atas Tuhan; illah yang dipahami masing-masing orang. Ontologi Jenar tidak berangkat dari konvensi budaya atau bahasa (teks), melainkan dari kesadaran subjektif nan privat. Kesadaran individu yang ter-individuasi inilah yang membuat Jenar pantas disebut manusia tercerahkan. Seperti kata Emanuel Kant, “orang-orang tercerahkan adalah mereka yang tidak tunduk pada kehendak lain di luar dirinya.”

Orang-orang tercerahkan dalam pengertian Jenar mereka yang tetap menyatu, tapi tak bergantung, dalam arti fatalis atas kehandak Tuhan. Manusia menyatu dengan Tuhan menjadi pribadi yang otonom, merdeka, tak menghamba kepada siapapun, kecuali kepada sang “aku”. Bencana bagian dari siklus alam. Suka tak suka ia adalah realita. Dari sini Jenar menawarkan konsep tawakal; penyerahan diri secara total pada kenyataan. Manusia tawakal adalah mereka yang mampu menyatukan proses hidup dalam kerja instingtif dan praktis. Memasuki rumah tawakal manusia tidak akan menjadi pasif. Sebab tawakal adalah kesadaran gerak; proses dari sesuatu yang tidak ada menjadi ada. Proses dinamis dari yang tak sadar ke arah sadar. Dari tak mampu menjadi mampu.

Orang-orang tercerahkan adalah orang yang memahami jagat gedhe (makrokosmos) dan jagat cilik (mikrokosmos),-sebagaimana para nabi dan filsuf memahami hakekat arah kehidupan ini. Yang harus dilakukan adalah memberdayakan akal budinya. Kata Jenar, “tenang-tenanglah kalian. Kita harus kembali pada akal budi. Jika akal budi lepas kalian akan terjerembab pada takhayul, musrik dan syirik.” Berbagi, curah hati, bermusyawarah mengenali hakekat diri, hakekat alam dan Tuhan adalah cara terbaik. Karena itu orang-orang sufi suka berkumpul, menari dan menyanyi hingga mabuk di ‘cafe-café’ tarekat. Dengan cara ini proses pencerahan akal budi berlangsung.

Ini serupa dengan cara Jurgen Habermas dengan paradigma ‘rasionalitas komunikatif’-nya. Hubermas mengajak kita untuk memahami empat wilayah pengalaman kehidupannya; tentang alam luar, manusia harus mengatakan apa yang sesuai dengannya, artinya yang benar; terhadap masyarakat ia belajar mengatakan apa yang seharusnya dan wajar. Alam batinnya sendiri diungkapkan dengan jujur dan itu semua dilakukannya melalui sarana bahasa yang jelas.(Magnis Suseno 2004). Fakta. Suatu bangsa yang mampu memberdayakan akal budinya, jauh lebih mudah mengarungi bencana ketimbang bangsa yang mengabaikan akal budinya. Jepang adalah salahsatu contohnya. Orang Jepang lebih memilih ke akal, mencipta teknologi ketimbang mengutuk diri dan berharap pada Tuhan. Pertolongan Tuhan sudah diberikan melalui akal budi. Teknologi adalah wujud konkretnya. Kalaupun teknologi gagal, tentu bukan Tuhan yang disalahkan sebagai penebar bencana. Kata Jenar, “manusia makhluk naïf.” Tapi kenaifan yang dipahami sebagai bentuk ketidakberdayaan hanya akan melahirkan doa dan kutuk. Hal ini justru akan mengakibatkan bencana tak teratasi. “Banyak meminta tanda kurang syukur. Apa masih kurang anugerah Tuhan yang diberikan kepadamu setiap hari?” ujar Jenar kepada para orang-orang Pengging.

Akal budi adalah kata kunci trasformasi pribadi dan transformasi kolektif. Dari individu tercerahkan seperti Jenar mampu mengajak orang melakukan transformasi pemikiran. Pemikiran yang rasionalis dan emansipatif dalam bentuk penebaran kasih-sayang kepada sesame, akan mampu menjawab persoalan-persoalan manusia. Caranya? Menghibur yang sedih oleh derita. Tidak sekadar menghibur tentunya. Membantu dalam bentuk pertolongan tindakan dan materi adalah langkah konkret yang humanis. Dengan cara itu rakyat tidak perlu berbicara dengan penguasa. Kesadaran tercerahkan membuat orang berani mengabaikan kehendak arogan negara. Pengalihan upeti untuk para korban adalah salahsatu wujud keberanian orang-orang tercerahkan dari Pengging.

Penguasa resah. Tentu bukan karena soal wahdatul wujud yang sejak lama diketahui oleh para ulama Kraton. Selama tidak mengganggu status quo, teologi macam apapun bisa ditoleransi. Tapi boikot pajak jelas adalah tindakan makar. Terputuslah leher Jenar! Darahnya mengalirkan benih-benih perlawanan rakyat kemudian….

Bandung, pebruari 2007

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s