Fasisme dan Sepakbola

Standar

Politisasi Sepakbola dalam Piala Dunia
Faiz Manshur – detikSport

Jakarta – Beberapa kali Piala Dunia dicampuri urusan politik, tapi beberapa kali pula tidak mempan. Apakah akan ada isu politik yang bakal mempengaruhi perhelatan Piala Dunia 2006 di Jerman?

Wacana nuklir yang baru-baru ini bergulir barangkali adalah isu politik yang paling vulgar muncul akhir-akhir ini. Isu ini berasal dari mulut para politisi negara-negara Uni Eropa dan Amerika Serikat (AS) berkenaan dengan aktivitas Iran (salah satu negara kontestan Piala Dunia) yang selama ini dikenal sebagai produsen nuklir.

Para politisi itu berdalih nuklir membahayakan kehidupan politik, bahkan menjadi ancaman serius perdamaian. Hanya saja isu ini menjadi aneh sebab tekanan atas Iran ini dikaitkan dengan sepakbola. Mereka menyatakan kepada FIFA agar tim negara tersebut tidak boleh ikut berlaga di Jerman Juni-Juli nanti.

Tapi isu politik murahan di dunia sepakbola sebenarnya sudah terjadi sejak lama, termasuk di Piala Dunia yang sakral itu. Di Piala Dunia pertama (1930), aroma politis masih terbatas pada sentimen negara-negara Britania terutama Inggris yang merasa superior dari negara-negara lain. Tak hanya itu, mereka sudah terbiasa merendahkan negara lain, terutama negara-negara berkembang.

Alhasil, Inggris memilih tidak ikut serta berlaga di Piala Dunia pada masa-masa awal. Baru kemudian setelah beberapa tahun negara kerajaan ini agak kompromistis dan bergabung dengan FIFA.

Bola Fasis Mussolini

Politisasi Piala Dunia yang lebih vulgar pernah ditunjukkan Italia. Pada Piala Dunia kedua di tahun 1934 Italia paling ngotot mengajukan diri sebagai penyelenggara. Hal ini terkait dengan ambisi dari pemimpin besar mereka, Bennito Musollini, yang sedang giat-giatnya mengkampanyekan diri sebagai pemimpin Eropa.

Sekalipun motif Italia mengajukan diri sebagai tuan rumah sarat aroma politik, FIFA menerima kenyataan itu lantaran Piala Dunia kali itu harus dilaksanakan di Eropa. Bagusnya, Italia dalam kongres FIFA Oktober 1932 berhasil meyakinkan organsisasi tersebut bahwa mereka paling siap menyelenggarakan event besar itu ketimbang negara lain.

Yang tak kalah menarik, Mussolini juga menggunakan kekuasaan politiknya untuk memotivasi para pemain Azzurri, yang kemudian terbukti manjur. Ceritanya, ia mengancam para pemain Italia menjelang duelnya di final melawan Cekoslowakia. Ditujukan kepada kapten tim melalui faksimil, Mussolini menulis surat berisi kalimat pendek: “juara atau mati.”

Ancaman sang diktator tentu saja membuat bulu kuduk pemain merinding. Sebab bagi diktator fasis, ancaman seperti itu bukan sekadar gertak sambal. Sangat mungkin semua pemain dibunuh jika keok melawan Ceko.

Tak cukup sampai di situ. Il Duce Mussolini juga meminta kepada panitia penyelenggara untuk melakukan segala upaya agar Italia bisa menjadi juara pada Piala Dunia tersebut. Salah satu caranya adalah dengan berusaha memberikan status warganegara Italia kepada beberapa pemain yang mempunyai hubungan dan keluarga di Italia, misalnya Luis Monti dan Raimundo Ors, yang keduanya berasal dari Argentina.

Entah cara mana yang lebih ampuh, (atau dua-duanya), Italia diketahui tampil sebagai juara dengan mengalahkan Cekoslowakia 2-1 di partai puncak.

Giliran Hitler

Pada penyelenggaraan Piala Dunia 1938 di Prancis, situasi politik semakin panas. Bayang-bayang meletusnya Perang Dunia I masih menjadi kabut yang menyelimuti hampir seluruh penduduk di kawasan Eropa. Kekhawatiran ini bukan isapan jempol sebab setahun setelah Piala Dunia 1938 Perang Dunia II yang dikobarkan Der Fuhrer Adolf Hitler dan Il Duce Benito Mussolini benar-benar pecah.

Dalam pelaksanaan Piala Dunia ketiga itu terdengar isu ideologis dari Jerman. Adolf Hitler, mendapat inspirasi dari seniornya, Bennito Mussolini, melihat bahwa sepakbola bisa menjadi media efektif untuk mengkampanyekan ideologi fasis yang selama ini dianut.

Hitler menginginkan Jerman menjadi juara dunia. Jauh-jauh hari sebelumnya, tepatnya saat momentum Olimpiade Berlin 1936, Hitler sudah berpropaganda politik Nazi. Di berbagai stadion olahraga di kota-kota Jerman, berbagai atraksi militer Nazi, pamflet propaganda dan pidato-pidato tentang kehebatan Nazi terus bergema.

Lalu, tiga bulan Piala Dunia digelar, Hitler menginvansi Austria melalui kekuatan militernya. Bagi Hitler, serangan ini punya tiga arti politis. Pertama, sebagai uji coba kekuatan militer untuk melawan kekuatan tentara Merah Rusia di bawah pimpinan diktator komunis J.W Stalin. Kedua, kemenangan perang atas Austria akan menambah lapisan tentara Jerman. Ketiga, tim panser jerman akan mendapat pemain-pemain bola berkualitas dari Austria.

Hal ini benar-benar terbukti. Setelah Austria takluk, banyak pemain inti negara tersebut yang dibajak Jerman. Salah satu bintang Austria saat itu, Matthias Sindelar, juga dibujuk namun ia menentang keinginan sang Diktator. Akibatnya, muncul tragedi dalam sejarah Piala Dunia. Sindelaar bunuh diri secara tragis sebagai bentuk perlawanan terhadap Hitler.

Akibatnya dari situasi tersebut Austria mengundurkan diri ikut serta ke Prancis, Swedia lalu lolos dengan bye. Dalam situasi yang serba pelik, FIFA benar-benar kewalahan mencari solusi bagaimana menciptakan event Piala Dunia yang kondusif. Tak hanya itu, kesulitan FIFA bertambah ketika ternyata Piala Dunia kali ini masih terkait dengan persoalan masa lalu.

Kisah di atas sampai kini menjadi catatan khusus bahwa olahraga sepakbola masih belum bisa bebas sepenuhnya dari kepentingan dan tekanan politik.

Setelah Piala Dunia 1938, FIFA mengagendakan penyelenggaraan Piala Dunia 1942. Negara yang mendapatkan giliran sebagai tuan rumah adalah Jerman. Namun rencana ini berantakan karena pecahnya Perang Dunia II (1939-1945) yang melibatkan hampir seluruh negara di kawasan Eropa.

Salah satu akibat yang dirasakan bagi dunia sepakbola adalah gagalnya penyelenggaraan event empat tahunan tersebut. Kegagalan penyelenggaraan Piala Dunia 1942 juga berlanjut sampai empat tahun kemudian meskipun perang telah berakhir.

Saat bersidang di Luxemburg, FIFA memutuskan untuk melanjutkan pelaksanaan Piala Dunia. Masalah pertama yang muncul adalah, belum ada negara yang menyatakan diri sanggup untuk menjadi tuan rumah. Kebanyakan negara anggota FIFA, terutama dari negara-negara Eropa, masih sibuk dengan berbagai upaya rehabilitasi internal akibat perang.

Setelah dua kali absen, Piala Dunia akhirnya bisa digelar lagi pada tahun 1954 di Swiss, setelah suhu intervensi politik mulai reda. Begitu pula pada Piala Dunia di Swedia (1958), isu politik tidak lagi mendominasi. Bak sekulerisasi, politik telah secara rasional memisahkan diri dari agama bernama sepakbola tersebut.

Tahun-tahun selanjutnya isu politik semakin berkurang dalam dunia sepakbola. Kalaupun ada tampaknya hanya jadi hiasan sensasi berita di media massa. Misalnya pada penyelenggaraan Piala Dunia 1998, ketika pemerintah AS tiba-tiba mengancam Iran berkaitan dengan nuklir.

Tapi publik dunia tidak peduli dengan omongan AS. Bahkan FIFA secara tegas menolak niatan AS menjegal Iran dari keikutsertaannya di Piala Dunia 1998. Bualan AS pun tidak digubris dunia. Iran tetap berkiprah di Prancis.

Ketegangan lain juga muncul pada Piala Dunia 2002 di Korea Selatan dan Jepang. Menjelang pelaksanaan, FIFA sempat ragu dengan kedua negara ini bisa menjalankan amanatnya sebagai tuan rumah.

Masalahnya, ketegangan politik kedua negara tak kunjung reda. Bahkan setahun sebelum Piala Dunia berlangsung, Jepang menerbitkan buku putih sejarah Jepang yang berisi pencucian dosa kekejaman masa lalu tentara Nippon dalam perang Dunia II.

Korsel merasa geram dengan terbitnya buku yang jelas-jelas membalikkan fakta sejarah tersebut. Untungnya Korsel masih bisa menahan diri dan menyelesaikan masalah itu secara baik-baik dengan pemerintahan Jepang melalui pihak Kedutaan Besar kedua negara.

Setelah itu, tidak ada masalah lagi. Piala Dunia tetap berlangsung aman dan lancar. Tapi kini kita melihat sisi lain menjelang pelaksanaan Piala Dunia di Jerman. Isu nuklir tiba-tiba terangkat ke ruang publik disertai konflik pernyataan antara Iran dan negara-negara Uni Eropa.

Ini jelas politis dan mengada-ada. Sejarah Piala Dunia sudah terbiasa menghadapi hal-hal seperti itu. Kebanyakan politisi memang berotak bulus nan licik. Olahraga yang menekankan sisi sportivitas ditunggangi untuk kepentingan pragmatis dan sempit mereka. Semoga FIFA tidak terpengaruh oleh statemen murahan itu!

===
* Penulis adalah penonton sepakbola, tinggal di Jakarta.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s