Negeri Asing dalam Catatan Pengelana Indonesia

Standar

Catatan mengenai perjalanan seseorang biasanya bersifat personal dan tak menarik dibaca orang lain. Apakah sebuah perjalanan jauh seseorang memang bukan sesuatu yang menarik? Sampai saat ini buku-buku tentang kisah perjalanan wisata tergolong sedikit, itu pun tidak didukung penulisan bermutu. Demikian pula dalam dunia kesusastraan kontemporer Indonesia. Nyaris tidak ada penulis yang berkarya mengikuti “genre” penulisan ala Karl May atau VS Naipul yang rajin berkelana mengunjungi berbagai tempat jauh dan menuliskan dalam bentuk buku.

Menarik atau tidaknya sebuah kisah perjalanan sebenarnya bukan soal perjalanannya itu sendiri, melainkan lebih pada isi dan cara penulisannya. Jika bermutu, tentu kita akan dibuat nikmat dan mendapatkan pengetahuan yang kaya. Karya Sigit Susanto ini, menurut saya, berhasil memecah kebekuan penulisan kisah perjalanan di Indonesia. Ke-16 esai populernya tidak hanya menyajikan romantisme personal, melainkan juga memuat banyak pengetahuan tentang situasi budaya, politik, agama, dan kesusastraan beberapa suku bangsa. Dalam tiga esai awal buku ini kita akan dapatkan sesuatu yang berharga tentang Eropa yang selama ini kita kesankan sebagai benua “berbudaya unggul” ketimbang budaya Asia. Eropa bagi Sigit memang sebuah fenomena dunia lain yang dalam banyak hal lebih maju ketimbang Asia. Pada tiga esai berjudul Pertama Kali ke Eropa, Danau Zug, Bersepeda Keliling Amsterdam, dan beberapa esai lainnya, seperti Pulau Ischia, Ziarah Ke Makam Kafka, Makam Mbah Marx di London akan kita nikmati ulasannya melalui cara pandang khas seorang Indonesia yang mencoba melihat Eropa.

Kritik negeri asing

Sebagai seorang Indonesia yang kritis melihat modernitas, Sigit tidak gegabah mengharuskan orang Indonesia harus berkiblat dalam mengubah budaya Indonesia menjadi Eropa. Analognya, kalau tata cara makan suatu masyarakat saja berbeda dengan masyarakat lain karena alasan historis, maka soal seksual, keyakinan terhadap hal gaib, termasuk kemajuan berpikir tentu memiliki alasan historis tertentu. Kalaupun ada yang harus dipelajari dari Eropa, mungkin dalam hal rasionalisme pemikiran. Sementara dalam hal budaya hidup, nilai-nilai Asiatik, khususnya Indonesia, tidak mesti mengadopsi secara kaku dari Eropa. Pendeknya, “orang sawo matang tak akan pernah berubah menjadi bule dalam kondisi apa pun”. Dalam konteks pemikiran seperti ini, tampaknya Sigit mengenal baik cara pandang pengetahuan cultural studies sebagai cara melihat fenomena kebudayaan secara lebih bijak. Hal yang menarik dari pemikiran Sigit adalah upaya melihat sesuatu masyarakat di sebuah negeri tidak melulu melihat satu lingkup perkotaan, melainkan menyusup ke lorong-lorong pedesaan, bahkan di beberapa negara Amerika Latin, Sigit menyempatkan diri masuk ke kawasan suku pedalaman. Alhasil, cerita tentang negeri orang, sekalipun di negeri maju, seperti Belanda, Inggris, Jerman, Perancis, Swedia, masih banyak berisi tentang hal-hal unik sebagaimana keunikan dalam tradisi masyarakat Indonesia. Di setiap negara, misalnya, ada ritual khusus untuk menghormati orang mati. Di Jawa acara tahlilan dilakukan untuk menghormati orang yang meninggal. Di Bulgaria, Sigit menyaksikan kaum Kristen ortodoks tak kalah khusyuknya berdoa di hari-hari dekat setelah kematian keluarganya.

Eropa tak seperti dibayangkan kebanyakan orang. Rasionalisme memang berkembang pesat di sana. Namun begitu, tidak semua hal yang irasional musnah ditelan “ajaran Aufklärung”. Angka 13 bagi orang Italia, misalnya, sampai kini tetap dianggap mitos yang menakutkan. Sebab, angka ini dianggap angka sial yang akan mematikan karier, bahkan nasib hidup seseorang. Sigit tampaknya punya ambisi karya ini sebagai persembahan buat orang Indonesia untuk memperkenalkan budaya negeri lain dengan cara kritis dan benar-benar memahami secara mendalam dan komprehensif. Secara tak langsung, buku ini menjadi kritik atas cerita negeri lain yang biasanya kita dengar dari para wisatawan Indonesia yang terkagum-kagum dengan budaya lain lantas latah meniru tingkah polah bule karena menganggap budaya Eropa lebih beradab ketimbang Asia.

Letupan perantau

Selama sepuluh tahun terakhir, Eropa bukan hanya dikunjungi Sigit, tapi juga menjadi tempat tinggalnya. Ia memperistri bule Swiss bernama Claudia Beck. Sepasang suami istri ini kebetulan sama-sama menyukai wisata. Selain Eropa, dan beberapa negara di Asia dan Afrika, keduanya juga pernah menyinggahi beberapa negara Amerika Latin, seperti Meksiko, Kuba, dan Venezuela. Berbekal ilmu kesusastraan yang cukup, menjadikan tulisan Sigit terasa nyaman dibaca. Ia memanfaatkan perjalanannya sebagai “tugas riset” dan reportase ala wartawan. Sebelum melakukan perjalanan, dengan saksama Sigit mempelajari sejarah dan tradisi kehidupan suatu bangsa yang bakal dikunjunginya. Dari sinilah ia merasa tugas jurnalistiknya harus menemukan hal-hal yang selama ini belum disentuh tangan jurnalis di media massa. Tentang Kuba misalnya, ia tanyai banyak rakyat miskin di bawah rezim Fidel Castro yang tak mau membuka diri terhadap globalisasi. Di Meksiko, ia menyempatkan masuk ke lorong-lorong pedalaman dan berbicara dengan masyarakat setempat. Dengan cara seperti itu, tak sia-sia usaha Sigit mewujudkan karya tulisnya menjadi tulisan menarik yang jarang kita dapatkan. Selama ini kita hanya bisa menikmati sedikit karya tulis perjalanan dari penulis macam Seno Gumira Adji Darma dengan cerpen-cerpennya. Kalaupun harus menikmati tulisan kisah perjalanan yang lebih baik biasanya kita dapatkan dari karya para penulis besar, seperti VS Naipaul, Karl May, atau Goethe.

 

Memang, terlalu jauh untuk mengatakan karya Sigit ini dengan penulis-penulis terkemuka itu. Namun, hadirnya karya ini patut diapresiasi lebih lanjut oleh para penulis Indonesia yang jarang menuliskan kisah perjalanan dalam bentuk jurnalisme investigatif, atau setidaknya narrative reporting essay. Sesuatu hal yang baik tentunya, mengingat beberapa penulis asli Indonesia yang bermukim di Eropa bertahun-tahun justru lebih senang menulis tentang Indonesia. Sebut saja mereka para penulis eksil seperti Sobron Aidit, atau JJ Kusni yang sudah lama bermukim di Eropa tapi tidak pernah berminat menulis tentang kebudayaan Eropa secara mendalam. Kecuali letupan khas seorang para perantau, kebanyakan orang Indonesia di beberapa mailing-list hanya mampu sebatas menulis sepilah-pilah tentang apa dan bagaimana tradisi kebudayaan negeri seberang. Hal inilah yang kadang membuat bosan para pembaca, sebab seolah-olah orang Indonesia yang tidak sempat berkunjung di negeri jauh “digurui” oleh bualan-bualan perantau. Inilah sisi kelebihan buku Sigit yang secara tak sengaja telah memberikan sesuatu yang baru kepada kita untuk mempelajari kebudayaan dan sejarah negeri orang.

Disebut sebagai buku luar biasa mungkin belum tepat, namun tidak tepat kalau buku ini dinilai sebagai buku biasa. Hal yang kurang memuaskan masih tergolong biasa; kekurangan modal cetak penerbitnya. Seharusnya buku ini menjadi lebih menarik kalau dicetak dengan menyertakan banyak foto warna agar kisah-kisah yang diceritakan lebih hidup. Beberapa foto yang dimuat tampaknya hanya untuk pelengkap “berita”, bukan untuk penjelasan detail kondisi dan situasi tempat yang diceritakan. Bagi Anda yang belum sempat berkelana ke berbagai belahan dunia, buku ini menjadi salah satu penyalur hasrat Anda yang belum terpenuhi. (FAIZ MANSHUR Penulis lepas, tinggal di Jakarta)

Naskah ini pernah dimuat di Harian Kompas 23 April 2006

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s