Mentalitas Produktif

Standar

“Mentalitas Produktif”


 “Sudahlah, kita tak usah politik-politikan dulu, percuma kalau tidak pintar berproduksi. Bisa-bisa jadi koruptor nanti,” begitu kata Lexi Rambadeta, kawan saya suatu ketika. Lexi yang kini jadi Direktur Off Stream, sebuah lembaga yang memproduksi film-film dokumentar itu memang sedang naik daun bisnisnya.

Hanya dalam waktu kurang lebih 4 tahun, Lexi berhasil menyandang “status milyuner”. Hal ini karena produktivitas Lexi dan kawan-kawan cukup cerdas “mengekspor” film sejarah Indonesia ke mancanegara. Sebut saja karyanya, Mass Grave, Munir, Everyday Coruption dan sejumlah film dokumentasi lain.

Lexi tak bermaksud pamer. Ia hanya ingin berbagi pengalaman setelah kami lama berpisah. Dulu kami sama-sama dalam satu organisasi pergerakan di Yogyakarta,-yang belakangan menurut Lexi tidak lagi menjamin produktivitas individu.

Idealisme memang bagus. Di negeri-negeri sosialisme banyak orang idealisme, tapi setelah berkuasa toh jadi penindas rakyat juga. Semua orang punya idealisme dan impian untuk menjadikan kehidupan di bumi ini menjadi lebih baik . Hanya saja realita hidup tak bisa kita tentukan oleh keinginan, melainkan banyak ditentukan oleh kenyataan. Kebutuhan ekonomi, uang dan tanggungjawab sosial,- setuju atau tidak setuju,- adalah kenyataan yang pasti kita hadapi. Menjadi aktivis sosial artinya menjadi pejuang rakyat. Aktivitas hidup banyak dicurahkan untuk orang lain, terutama orang-orang tertindas, dan sedikit untuk kepentingan pribadi. Pertanyaannya, sampai berapa lama bisa bertahan?

Itulah yang jadi masalah, perjuangan juga harus berpijak pada realitas. Makanya, sastrawan Pramoedya Ananta Toer (alm) tidak pernah percaya negeri ini bisa bangkit jika masyarakat belum punya tradisi produksi. Pram punya pendapat, selama orang tidak pandai berproduksi maka sumber penghasilan hanya akan bergantung kepada tangan orang lain. Salahsatu hal yang kurang sedap dipandang mata di kalangan aktivis politik adalah mencari uang untuk pribadi maupun untuk kepentingan organisasi dengan memanfaatkan proposal atau lobi kekuasaan. Cara-cara ini praktis, tapi tak akan pernah cukup, sebab setiap hari kita pasti mengeluarkan uang, tapi tak tentu punya pemasukan.

Benar, pelaku korupsi memang tidak selalu dilakukan oleh orang miskin. Di negeri ini banyak orang kaya, bahkan konglomerat masih juga korup. Tapi setidaknya dengan basis ekonomi yang baik, perilaku kriminal, mencuri, kolusi akan berkurang. “Kefakiran akan mengakibatkan kekufuran”, begitu kata Nabi Muhamad.

Banyak orang ingin kaya tapi tak punya usaha mandiri. Inilah yang mengakibatkan orang mudah terjebak pada praktek jalan pintas. Korupsi, kolusi, nepotisme menjadi kiat sukses kebanyakan orang di negeri lemah mentalitas produksi ini.

Penyakit bawaan negara dunia ketiga adalah korupsi. Indonesia pernah menerapkan sosialisme di bawah kepemimpinan Bung Karno. Alat-alat produksi (BUMN) dikuasai total oleh negara. Sampai akhirnya kita tahu, negara tak becus mengurus bisnis. Harta rakyat dijarah para politisi, rakyat ditelantarkan semena-mena. Petani menjadi fakir miskin, padahal di negeri kapitalis petani hidupnya makmur. Kekayaan alam Indonesia dimakan penjajah bernama pejabat orde baru, dilanjutkan pejabat orde reformasi.

Produksi memang identik dengan kapitalisme, sementara sosialisme lebih cenderung mematikan produksi individu. Akibatnya, kebanyakan orang di negara non-kapitalis terkena penyakit “weak mentality” (lemah mental) dalam produktivitas ekonomi. Mereka lebih senang menunggu hasil (pemberian) ketimbang menjemput rejeki. Parahnya, kalau sifat ketergantungan ini dimiliki para pemalas yang angan-angan hidupnya selangit, mereka akan akan hilang rasa malu meminta-minta, bahkan tak merasa salah mencuri harta orang.

Fenomena itu sudah lazim terjadi di kalangan aktivis politik. Syahwat politik gede tanpa ditopang ekonomi cukup membuat para politisi rela melacurkan idealismenya. Ada ratusan aktivis politik di tahun 1960-an kini telah menjadi penindas rakyat.

Ketidakmampun berproduksi juga berdampak buruk pada pola hidup konsumerisme. Menarik data yang disampaikan oleh seorang jurnalis, Marcella Sanchez dalam The Woshington Post 2 Januari 2004 silam. Sanchez menemukan fakta bahwa tenaga imigran dari Amerika Latin mengirim uang tabungan mereka sejumlah $32 miliar untuk sanak keluarga di benua Selatan AS itu dari hasil jerih payah dan keringat mereka bekerja di AS.

Nilai itu lebih besar dari seluruh bantuan luar negeri maupun arus inventasi ke beberapa negara Amerika Latin. Mereka mencari nafkah di AS karena di negara asalnya, 10% penduduk terkaya menguasai 48% pendapatan nasional sedangkan 10% termiskin harus membangi 1,6%. Padahal, negara-negara Amerika Latin itu sudah merdeka hampir 200 tahun. Pada awal abad ke-20 pendapatan per kapita Argentina setara dengan AS namun kini Argentina terpuruk, dan AS menjadi superpower.

Indonesia tak jauh-jauh beda dengan kebiasaan negara dunia ketiga lainnya. Konsumerisme merajalela, pada akhirnya menutup kesempatan rakyat berproduksi secara baik. Petani sudah mencoba berproduksi tanaman secara baik, sayangnya politisi justru menerapkan kebijakan gaya tengkulak. Akibatnya, sekalipun tanaman hasilnya baik petani tetap melarat karena permainan harga.

Kurang apa dengan negeri ini? Berbagai macam bahan baku untuk industri dari Sabang sampai Merauke melimpah. Kapitalis asing menganggap Indonesia adalah negeri primadona. Tapi apa boleh buat, para pengusaha kita bukan tergolong kaum kapitalis yang visioner. Kalaupun mereka pengusaha, ternyata bukan pengusaha tulen. Tak produktif, karena kekayaan mereka ternyata bukan hasil bisnis, melainkan hasil kongkalikong dengan dengan pemerintah.Hobinya suap-menyuap untuk memenangkan tender. Mark Up anggaran sudah menjadi kebiasaan.

Elit politik kita juga tidak tampil sebagai individu yang produktif dan visioner, tapi justru berperan jadi bandit-bandit yang setiap hari merampok harta rakyat. Kelaparan di mana-mana, sementara politisi rajin belanja di negeri orang. Mereka gemar mengonsumsi produk-produk kapitalisme dan MNC (Multi National Coorporation), sangat senang kalau investasi asing dan para produsen asing menanam modal di negerinya. Harapannya pragmatis; ingin menikmati kolusinya lebih dulu; bayar di muka tanpa perdulikan nasib rakyat yang sedang sekarat.

“Produksi!” Menjadi sangat penting bagi kita. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia karya  Prof. Dr J.S Badudu dan Prof. Sutan Mohamad Zain produksi yang asalnya dari bahasa Inggris berarti “hasil; apa saja yang dihasilkan oleh usaha orang.”

Produksi menjadi kata kunci kemenangan, sedangkan konsumerisme adalah jalan ke neraka. Konsumsi jelas maknanya; belanja untuk memenuhi kebutuhan dasar hidup. Sedangkan konsumerisme adalah sikap berlebihan dalam belanja. Kaum konsumeris, adalah mereka yang membeli bukan karena dorongan kebutuhan pokok, melainkan untuk gaya hidup.

Mentalitas konsumeris jelas bukan hal sepele bagi masa depan umat manusia. Keterpurukan negara dunia ketiga tak lepas dari mentalitas konsumeris. Adalah sebuah revolusi besar jika kita mampu merubah pola hidup konsumeris menjadi individu-individu produktif.***(Faiz Manshur)


2 thoughts on “Mentalitas Produktif

  1. dinconomy

    Memang kalo pas jadi anak sekolahan atawa mahasiswa, idealisme seseorang menggebu2, tapi begitu turun ke dunia kerja, semua berubah. Satu dua tahun bisa bertahan. Selanjutnya, berjuang sendiri sangatlah susah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s