CSR, Berangkat dari Falsafah Dasarnya

Standar

        Kondisi perekonomian umat manusia sangat ditentukan oleh elemen dasar struktur ekonomi. Sedangkan struktur itu sendiri akan terus berubah sesuai dengan strategi dan target pencapaian laba perusahaan yang dikendalikan oleh kaum homo economicus.

Istilah homo economicus di sini kita gunakan sebagai cara mengenali karakter manusia modern yang perhitungan hidupnya semata-mata bersandar pada target laba. Jika homo economicus masih mau mengontrol diri untuk tidak terjebak pada ‘ideologi’ “demi laba berbuat semaunya”, maka ia masih bisa dikategorikan sebagai homo social. Jika ia bertindak semaunya, maka identitas libidonomic, adalah istilah yang tepat dilabelkan untuk sang pelaku.

Di Jaman purba kegiatan ekonomi nyaris tanpa persaingan. Manusia memenuhi kebutuhan hidupnya secara bersama, dikonsumsi bersama. Hal ini disebabkan corak ekonomi masyarakat waktu itu belum memasuki wilayah komoditi pasar. Kini, struktur ekonomi telah jauh masuk ke rimba kapitalisme (neo liberal). Dominasi kaum libidonomic sangat besar pengaruhnya dalam globalisasi. Saking kuat pengaruh sang pengumbar hasrat ini, struktur perdagangan pun didesain sedemikian rupa sehingga benar-benar menguntungkan dirinya. Wajar jika kemudian seorang pengamat globalisasi, B. Herry Priyono punya pendapat bahwa, “neo-liberalisme menggusur “kesejahteraan bersama” (common wealth) dengan akumulasi “kekayaan individual” (individual wealth)” (Kompas 9/12/2002).

Melihat kecenderungan ini, kaum homo social tidak tinggal diam. Gema perlawanan digelorakan di seantero dunia. Protes-protes inilah yang kemudian mengingatkan bahwa dalam diri mereka yang homo economicus terdapat dimensi lain berupa homo social. Sebagian menyadari hal itu, sebagian lain memilih tetap menjadi libidonomic  tulen.

Istilah yang sekarang ini kita kenal seperti corporate citizenship, atau yang lebih akrab kita kenal dengan sebutan corporate  social responsibility (CSR) tidak lepas dari sejarah kontradiksi antara ‘yang untung’ dengan ‘yang buntung’ di atas.

Beruntung dan bermanfaat

Diakui atau tidak, kelahiran CSR pada mulanya adalah “sogokan” dari perusahaan kepada masyarakat yang sering dirugikan oleh praktek bisnis perusahaan. Biasanya praktek ini dilakukan oleh kaum libidonomic yang tidak ingin mendapat perlawanan lebih massif dari masyarakat, apalagi jika sampai perusahaannya berhenti beroperasi gara-gara demonstrasi.

Sekarang CSR sudah memasuki babak baru di mana perusahaan yang menerapkan menyadari pentingnya sikap sosial. Kesadaran sosial yang tadinya diyakini sebagai sikap boros ternyata memiliki hikmah yang tak pernah diduga sebelumnya, yaitu berupa citra positif dan keuntungan material.

Di Inggris, sebuah survei membuktikan, bahwa 86% konsumen merasa melihat suatu citra positif sebuah perusahaan jika mereka melihat perusahaan tersebut benar-benar “melakukan sesuatu untuk menjadikan dunia suatu tempat yang lebih baik” (Acces Ommibus Survei 1997). Di Amerika, tahun 1999, survei lembaga Environic menyatakan sepertiga konsumen di Amerika Serikat yang menyukai produk-produk dari perusahaan yang memiliki visi bisnis pembangunan masyarakat yang lebih baik.

Sedangkan di Indonesia, data riset majalah SWA atas 45 perusahaan menunjukkan CSR bermanfaat memelihara dan meningkatkan citra perusahaan (37,38 persen), hubungan baik dengan masyarakat (16,82 persen), dan mendukung operasional perusahaan (10,28 persen) (Sinar Harapan 16/03/2006)

Lahirnya CSR tidak a-historis. Ia tumbuh dan berkembang senyawa dengan gerak dinamis transformasi sosial manusia. Istilah ‘modal sosial’ yang digemakan kembali oleh Francis Fukuyama (1999) setidaknya menegaskan bahwa CSR adalah cara strategis untuk meraih sukses berekonomi di era neo-liberalisme. Sebab, kata Fukuyama, “dengan adanya modal sosial, yakni kepemilikan atas nilai atau norma informal akan membuka peluang kerjasama dengan siapa saja secara jujur.”

Kejujuran ini menurut Fukuyama akan menghasilkan rasa percaya. Sedang kepercayaan dalam perspektif sosiologis akan melahirkan ‘asas timbal balik’ yang secara otomatis akan menghasilkan keuntungan. “Kepercayaan itu seperti pelumas yang membuat kelompok atau organisasi (termasuk perusahaan-pen) dapat dijalankan secara lebih efisien,” katanya.

Lalu, apa bentuk dan program CSR yang paling tepat?

Saya kira, hal ini hanya soal pilihan. Setiap perusahaan bisa memilih program yang cocok dengan kebutuhan masyarakat setempat. Dengan memahami esensi filosofis seperti ini, seyogianya homo economicus tidak sekedar asyik berwacana tentang platform CSR. Sikap sosial adalah bagian esensial bagi setiap insan untuk membangun kehidupan yang lebih baik. Kenapa harus terlambat berbuat? (Faiz Manshur)

One thought on “CSR, Berangkat dari Falsafah Dasarnya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s