Menuju Pasar Sukses Sepakbola

Standar

Era globalisasi, artinya era pasar-bebas. Segenap logika, suka tak suka, halal tak halal, sudah kepalang basah harus tunduk pada logika ini. Mengelola sepakbola, sebagaimana para mubalig mengurus umatnya, butuh manajemen yang sesuai dengan logika pasar, artinya logika uang. Bukan hanya manajemen mengelola para pemain-pemain di lapangan, melainkan harus cerdas mengelola pasar bisnis. Tanpa itu, sama artinya menggali liang kubur. Kita bisa menikmati gemerlap dunia bisnis sepakbola dengan rincian miliaran uang kontrak pemain, puluhan ribu tiket terjual, atau royalnya sponsor yang mendukung sebuah klub. Namun ini ternyata hanya berlaku pada segelintir klub. Di luar itu, klub-klub lain berada dalam situasi kembang-kempis keuangan.

Bagi klub papan atas, para pemain, dan para sponsor terkemuka seperti Adidas, Nike Inc., dan Vodafone Groups PLC, memang bisa dikatakan selalu membawa kabar gembira. Tapi bagaimana dengan klub yang lain? Di seluruh Eropa sekarang ini tercatat sekitar 400 tim divisi utama yang keuangannya dalam keadaan labil, bahkan 40% diantaranya masuk kategori “sakit parah.” Sudah menjadi wacana umum, bahwa hanya klub yang lolos ke Liga Champions dan UEFA Cup yang bisa meraup laba. Artinya, sekalipun sebuah klub tergolong papan atas namun jika gagal menjadi juara dari salah satu kejuaraan tersebut maka akan menghadapi kerugian finansial.

Wartawan Jack Ewing di BusinessWeek (6/2004) mencatat, klub-klub Seri A Italia secara total merugi $485 juta pada musim 2002 dari penjualan $1,4 miliar-dan merugi setidaknya $360 juta pada tahun 2003. Ternyata, pada tahun 2004 lalu, prediksi ini banyak mendekati kebenaran. Menurut Staudt, Mantan CEO IBM Germany yang kini bos VfB Stuttgart, salah satu klub Bundesliga, di Liga Primer Inggris mungkin hanya lima dari 20 tim yang mencatat laba sebelum pajak pada musim yang baru saja berakhir. Staudt yang sudah malang melintang dalam dunia bisnis sepakbola pada akhirnya sadar bahwa sepakbola bukanlah sekedar olahraga, melainkan dunia bisnis berat.

***

Apa yang menjadi persoalan dalam manajemen sebuah klub? Yang paling menonjol adalah labilitas keuangan. Real Madrid mungkin bisa berani berboros dengan membeli para bintang. Namun demikian,“investasi” besar Madrid pada Beckham dan Zidane hanya membawa klub ini pada posisi empat (2003) dan posisi dua di La Liga Spanyol. Untungnya dalam hal pasar bisnis, Madrid cukup cerdas menggaet ritel dan sponsor. Tapi bagaimana dengan klub yang kondisi keuangannya kembang-kempis? Jika dipaksakan bukan mustahil akan menjadi mematikan sebuah klub. Katakanlah, VfL Wolfsburgh, yang mayoritas sahamnya dipegang Volkswagen, membelanjakan $11,4 juta untuk gelandang Andres D’Alessandro pada tahun 2003, tapi hanya duduk di peringkat 10 di musim kompetisi tahun itu. Sementara Borussia Dortmund mengalami krisis keuangan karena terlalu berani menghambur-hamburkan uang dalam merekrut pemain mahal. Klub ini membayar $31 juta pada 2001 untuk mendapatkan Marcio Amoroso. Tapi ia dibangkucadangkan akibat cedera lutut dan dilepas oleh klub pada April. Kemudian Dortmund gagal lolos ke Liga Champions musim 2003 dan tersingkir di putaran awal dalam piala UEFA. Tanpa pemasukan ekstra dari hak siaran televisi yang diberikan oleh turnamen antar klub Eropa, penjualan turun 38% menjadi $62 juta, dalam enam bulan hingga Desember.

Dortmund dikabarkan merugi $35 juta, padahal setahun sebelumnya mencatat laba $8,7 juta. Kasus Dortmund mungkin masih agak beruntung, sebab masih mencatat prestasi dengan jumlah penonton tertinggi di Jerman. Sementara klub TSV 1860 Munich atau Eintracht Frankfurt, -disebabkan oleh penampilan buruknya sepanjang kompetisi-, terdegradasi ke Divisi Satu Liga Jerman. (Jack Ewing; dalam artikel Could Football be Saved?; 2004). Akibatnya, masa depan untuk dapat tampil di jajaran papan Bundesliga menjadi tertatih-tatih. Masalah mendasarnya adalah, bahwa ternyata para manajer kebanyakan berlatar belakang pemain bola yang kurang memiliki keahlian bisnis. Jika pimpinan klub tidak peka pada potensi pasar, akan berdampak pada minimnya sponsor dan peluang menjual merchandise.

***

Dari mana kita petik pelajaran mengelola klub sukses? MU jelas sudah menunjukkan hal ini. Tanpa harus melibatkan modal besar, seperti klub “kapitalis Chelsea atau Madrid, sampai kini tetap eksis dan menjadi primadona jutaan penggemarnya di seluruh dunia. Selain MU, kita bisa belajar dari Jerman. Banyak klub di Bundesliga yang mempunyai manajer profesional seperti Staudt, mantan orang IBM Stuttgart, Hertha Berlin BSC, yang presidennya, Bernd Echiphorst (mantan orang Bertelsmann dan bekerja tanpa upah) berhasil menstabilkan kondisi keuangan dan kondisi pemainnya.

Ini dikarenakan kesuksesan mereka dalam memasang sekitar 90 “kotak bisnis” dan ribuan kursi premium di stadion yang telah direnovasi, sehingga mendongkrak pendapatan sebesar $11 miliar per tahun. Sementara pelajaran buruk bisa kita lihat dari kebanyakan klub di Liga Italia, Spanyol, dan Perancis yang tidak menunjukkan profesionalisme berbisnis, kini nampak semakin mundur. Secara umum di tiga negara ini, manajemen bisnis, perbaikan stadion, hak siar TV tidak diperhatikan oleh para manajer klub.

Terakhir, ada beberapa hal yang diperjelas dalam memahami kondisi persepakbolaan di era global sekarang ini. Beberapa klub akan menghadapi masalah-masalah itu akibat: 1) Mengabaikan perbaikan stadion sebagai sarana tontonan yang rekreatif dan mengasyikkan bagi masyarakat. 2) Menghambur-hamburkan uang untuk membeli pemain mahal. 3) Tidak memperhitungkan komersialisasi siar TV. 3) Gagal menerapkan kontrol biaya. 4) Berekspansi ke bisnis yang tidak bisa dikelola secara baik, seperti penjualan ritel pernik-pernik klub. 5) Lebih senang mengelola klub dengan semangat primordial, militansi dan sportivitas olahraga tapi melupakan aspek bisnis sebagai dapur utama klub.

Sedangkan pelajaran berharga yang dapat kita petik dari klub-klub yang bertahan secara baik, setidaknya berhasil bangkit setelah didera masalah biasanya mempunyai beberapa rasionalitas berikut ini. 1)Mempertimbangkan upah pemain dengan kinerja. Artinya, pemain yang dikontrak tidak sembarangan dibayar mahal tanpa bisa menunjukan maksimalitas dari target yang telah ditetapkan. 2) Memperbaiki kapasitas stadion, terutama kapasitas tempat duduk premium serta memanfaatkan peluang bisnis di stadion.

3) Bermitra dengan perusahaan besar, terutama perusahaan produsen alat olahraga, yang dibebaskan mengelola ritel untuk penggemar. 4) Memperhatikan sekolah olahraga bagi pemain-pemain muda berbakat sebagai investasi jangka menengah/panjang. 5) Menetapkan target realistis, menyesuaikan biaya dengan target. 6) Merekrut pemain terbaik dari negeri Asia yang punya penggemar banyak.(Faiz Manshur)

One thought on “Menuju Pasar Sukses Sepakbola

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s