Seni, Sosial dan Kritik

Standar

Apakah karya seni itu netral? Pertanyaan ini agaknya tidak mengenakkan telinga kita, telinga para pecandu seni, terutama sastra di tahun 2007: terlalu klasik dan cenderung mengarahkan pembicaraan kita pada ranah ideologi. Mungkin tidak menarik bagi para pekerja seni bebas nilai, bagi para seniman generasi postmodernisme dan bagi mereka yang secara “sadar” menyatakan seni untuk seni.Banyak orang bilang, warisan diskursus tentang ‘seni untuk seni’ versus ‘seni untuk tujuan tertentu’ memang sudah harus dimuseumkan. Adalah cara pandang postmodernisme atau mereka yang anti politik yang tidak mengijinkan kritik seni berangkat dari paradigma ideologi tertentu, norma tertentu, dan hukum tertentu. Sejarah dikotomi antara seni abstrak dan realis sudah tak menarik lagi dibicarakan. Seni sebagai perjuangan sosial juga gampang dituding sebagai mainan para politisi. Pendeknya, pluralitas karya harus dijadikan ikon dari bangunan kreasi seni. Ya, modernitas dengan liberalisme politik telah mengajarkan kepada generasi-generasi seni abad ini ini lebih memilih cara pandang eksistensialis ketimbang cara pandang perjuangan kelas sosial. Di sini, komitmen sosial jutsru jadi barang usang yang selalu dianggap biangkerok matinya kreativitas seni. Bagi seniman non ideologis, seni lepas dari jerat sosial. Pendeknya, tidak ada tempat bagi tujuan seni untuk kemajuan, keselamatan, kemanusiaan. Kalaupun seni masuk ke wilayah sosial, biasanya yang berperan bukan seni itu sendiri, melainkan aktivitas sosial seorang seniman. Seni tetaplah seni. Otonom. Ia hanyalah sejenis ekspresi simbolis dari pemikiran seniman. Sedangkan bagi seniman yang memiliki jiwa sosial, seni yang netral justru tidak bermakna. Jauh-jauh hari, filsuf Nietzsche bilang,“seni demi seni, ilmu demi ilmu atau puisi demi puisi adalah kedok yang digunakan untuk menutup-nutupi watak jahat seniman atau ilmuan serta memberikan pembenaran atas sikapnya dalam menghindari tanggung jawab sosial.” Ungkapan ini kemudian menuntut fungsi dari seorang seniman bukan sekedar menjadi “seniman” melainkan justru sebagai bagian dari pada kehidupan sosial.Senada dengan Nietzche, intelektual asal Iran Dr Ali Syari’ati (1931-1977) mengatakan, hanya orang-orang kaya, orang-orang berperut gendut dan para pembual-pembual yang akan bisa menikmati kesenian. Dan rakyat jelata tetap tidak beranjak dari kesengsaraannya. Bahkan karena ini tak jarang mereka menjadi obyek garapan, olok-olokan para seniman yang sibuk membual. Satu hal yang ironi dalam sejarah seniman netral ini tak jarang prinsip seni untuk seni kemudian berubah menjadi seni untuk para aristokrat, seni untuk komersialisasi dan lain-lain. Keseimbangan dan inspirasiBukan maksud penulis membenturkan kembali antara seniman penganut netralitas (yang bernaung di bawah budaya postmodernisme) melawan para kritikus seni ‘perjuangan’ (yang memiliki komitmen sosial). Eksplorasi di atas paling tidak telah memberikan gambaran tentang hakekat keberadaan seni dalam hubungannya dengan masyarakat. Seni sebagai agen perubahan sosial haruslah termanifestasikan dalam bentuk yang estetik sesuai dengan kemampuan seniman namun sekaligus harus mempunyai tendensi arah perubahan itu sendiri. Pada tahun 1981 silam, sastrawan Ws Rendra gigih mengampanyekan teori “keseimbangan-nya.”Keseimbangan yang dimaksud Rendra adalah, bagaimana posisi seniman dalam kancah pergulatan global terus dapat merespons secara kritis (obyektif) disertai mentalitas kreatif yang tinggi. Obyektif artinya melepaskan diri dari cara berpikir subyektif dan kreatif artinya punya kemandirian kreatifitas penciptaan sesuai dengan perubahan sosial.Bagi Rendra, seorang seniman haruslah tampil pada suatu posisi yang punya bargaining di masyarakat. Seorang seniman tidaklah cukup menjadi obyek daripada bidang lain semisal politik. Justru seni harus mandiri dan memperkuat nilai-nilai kebudayaan yang asli dan seorang seniman harus mampu mendorong karyanya sebagai kekuatan agen perubahan yang digali dan diproyeksikan oleh seniman itu sendiri. Sutardji Calzoum Bachri juga pernah menandaskan, bahwa bila suatu sektor (termasuk kesenian) ingin memberikan kontribusi pada perubahan sosial yang menyeluruh hingga wilayah kebudayaan maka jalan yang diambil bukanlah strategi kebudayaan lintas sektoral, tetapi bagaimana agar satu tindakan atau hasil dari sektor dalam kebudayaan itu (dalam hal ini seni) mampu memberikan ilham (inspiring) bagi sektor lainnya.Tardji mengambil satu contoh di mana penyair besar Timur Tengah Jalaludin Rumi yang mendengarkan bunyi mesin penggilingan gandum—yang merupakan manifestasi teknologi modern di zamannya—merasa mendapat panggilan ilham spiritual: “Shubbush, Quddus.” Sektor teknologi di zamannya bisa memberi inspirasi bagi sang penyair untuk terbang ke alam transendental.Dengan kata lain Tardji sebenarnya sedang menyindir para seniman, khususnya para penyair. ” kalau sektor teknologi yang sarat dengan muatan rasionalitas saja bisa memberikan ilham kepada kreatifitas religius kepenyairan, kenapa seniman tidak bisa berbuat demikian?” Dengan kata lain, bisakah dunia kesenian memberikan ilham kepada sektor lain untuk perubahan sosial, ekonomi, politik, agama? Pentingnya KritikBukan maksud tulisan ini mendakwahi para seniman agar masuk ke belantara rimba ideologi maupun norma tertentu. Penulis tetap menghargai bahwa seniman tetap harus memiliki ruang otonom bagi imajinasinya. Adalah suatu kesia-siaan jika saya bermaksud menjejalkan wacana ini ke otak para seniman, penyair, penulis novel, terlebih kepada para kritikus seni Indonesia modern sekarang ini. Tapi, sekali lagi, demi menghargai pluralitas juga, tidak ada salahnya jika dikotomi tersebut tetap dilanjutkan sebagai bagian “konflik” positif untuk merangsang gairan intelektualitas dalam khazanah pemikiran seni, lebih tepatnya di kalangan sastra. Sastra, ideologi atau non ideologi, bahkan religiusitas adalah keniscayaan alamiah yang paling purba ada dalam imajinasi manusia. Seyogianya potensi “konflik” itu justru tidak dimatikan oleh alasan apapun, baik alasan netralitas maupun alasan ideologi politik tertentu. Karya sastra Indonesia modern generasi awal abad 21 telah menemukan ruang kebebasan berekspresi. Bangunan struktur politik dan sarana yang diberikan oleh media massa telah banyak membantu kreativitas para sastrawan. Hanya saja, karena kurangnya apreasiasi kritik yang memadai, karya-karya yang bertaburan itu kadang lebih mencerminkan krisis jati diri para sastrawan yang gagal mengapresiasi dan memberikan konstribusi pemikiran kepada masyarakat.

Sekali lagi, tantangan dunia kesenian, terutama pada kesusastraan tahun 2007 ini saya kira terletak pada kekuatan kritik baik yang dilakukan oleh para sastrawan sendiri (otokritik) maupun oleh para kritikus dan pembaca. (FAIZ MANSHUR)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s