Islam, Progresif dan Membebaskan

Standar

ADA satu keyakinan kuat pada diri umat Islam bahwa ajaran agamanya adalah alternatif terbaik bagi solusi atas problematika kehidupan. Satu hal yang membuat pede (percaya diri) orang Islam terhadap masa lalu ini sering digambarkan dengan kejayaan selama 14 abad dimana kekuasaan Islam mampu mengusai lebih dari separoh dataran dunia. Karena ‘fakta’ ini, rupanya umat Islam kemudian menjadi sangat romantis.

Rindu akan masa lalunya dan secara psiko-religi ada semacam keharusan untuk menerapkan Islam sebagai satu-satunya jalan. Dus! Syariat Islam menjadi mutlak untuk di realisasikan! Apakah kerinduan sebagai umat ini akan menjadi suatu praktek yang realistis ketika zaman telah berubah? Lebih jauh lagi kita bertanya: benarkan 14 abad silam itu memang suatu kejayaan Islam yang utuh tanpa cacat sejarah? Pertanyaan ini terus menggelitik saya, terutama ketika sering mendengar para pemimpin Islam secara provokatif mengkampanyekan Islam sebagai alternatif pemecah problem zaman. Provokatif karena tidak pernah secara komperehensif menyatakan: bagaimana Islam menganggulangi kemiskinan, pelacuran, pemberantasan KKN, pengentasan krisis ekonomi dll. Kalaupun itu ada biasanya terkesan normatif, tidak tersistematis dalam mengidentifikasi dan menggali akar persoalan masyarakat. Karena belum ada jawaban yang cukup memuaskan, saya merasa bahwa persoalan ini harus ditelaah lebih lanjut dengan memulainya dari pertanyaan sederhana dan jujur di atas.

Setting Awal Islam

Satu hal yang tidak bisa dilupakan bila kita bicara sejarah adalah mengetahui latar belakang kemunculanya. Dalam segi teologis Islam pernah digambarkan oleh G. W. Hegel dengan konsepsi ke-esaan yang sekaligus abstrak. Secara radikal konsepsi ini berhasil menghapuskan keyakinan kaum Yahudi yang merasa istimewa mempunyai Tuhan untuk bangsanya sendiri. Islam tampil secara murni dan sederhana dengan konsepsi takterbatas. Allah tidak memiliki tujuan afirmatif dan terbatas seperti Tuhan kaum Yahudi. Ke-esaan ini menegaskan bahwa pemujaan terhadap tuhan merupakan satu-satunya tujuan akhir dari agama Islam, dan subyektivitas pemujaan ini dimaksudkan umatnya untuk melaksanakan aktivitas dunia. Seperti pola kaum sekuler, umat Islam pada mulanya tidak terikat oleh institusionalisasi, kebudayaan lama dan refleksi mistis yang direkayasa para penguasa feodal. Karena subyektifitas para umatnya yang tidak terseket dalam ruang sempit ini Islam kemudian berhasil ‘tampil beda’ dari agama lain semisal Hindu yang terikat oleh kemutlakan biara. Subyektivitas disini seolah-olah hidup dan tidak terbatas. Karena itu Hegel juga mengambarkan bahwa Islam mempunyai energi hidup dengan tujuan ‘negatif murni’ (keduniawian). Satu hal yang patut dicatat dari basis kesadaran Islam murni (baca; sebuah aliran yang memisahkan diri dari lembaga sosial atau bentuk budaya lama yang didiami) ini juga di karenakan faktor corak produksi ekonomi yang unik di Jazirah Arab pada waktu itu. Asghar Ali Enggineer mengambarkan kelahiran Islam ini dilatarbelakangi oleh sebuah masyarakat yang sedang bertransformasi dari bentuk pertanian sederhana menuju tata sosial perdagangan yang kuat. Pada akhir abad kelima Mekkah –dimana Nabi Muhamad hidup–telah menjadi pusat perdagangan yang penting. ‘Mekkah menjadi makmur, karena lokasinya berada pada rute strategis dan menguntungkan dari Arabia utara ke Arabia selatan: Mekkah menjadi jalur utama perdagangan dan menjadi pusat pertemuan para pedagang dari kawasan Laut Tengah, Persi, Laut Merah melalui Jeddah, bahkan dari Afrika. Dengan demikian Mekkah menjadi suatu wilayah yang berkembang maju dalam bidang finasial dari berbagai kepentingan dagang internasional.

Dalam setting sosial yang ada Arab adalah suatu bentuk komunitas kesukuan sederhana. Dalam hal ini bentuk kerajaan atau negara tidak ditemui. Afiliasi warga dalam praktek hubungan sosial-politiknya tidak melalui sebuah mekanisme birokrasi, melainkan hanya dalam bentuk-bentuk pertemuan antar pimpinan kesukuan yang tidak begitu mengikat dengan apa yang sebut mala’ (semacam senat). Karena itu salah jika ada beberapa tafsir sejarah yang mengatakan bahwa nabi pernah memimpin suatu kerajaan melainkan hanya sekadar memimpin perhimpunan antar pimpinan suku yang pada praktik pengambilan kebijakan mempunyai otoritas yang sama. Tak ada dominasi maupun hegemoni koersif semacam militer. Karena itu tak pernah kita temukan hingga saat ini sebuah konsepsi negara menurut Islam. Kalau kita baca Deklarasi Madinah, Nabi bersama-sama orang Yahudi dan Kristen membikin aturan itu secara terbuka dan demokratis tanpa harus mengedepankan kepentingan agama melainkan lebih didasarkan pada aspek kemaslahatan umat. Situasi sosial Arab yang sarat dengan gaya hidup nomad (tak terikat oleh kepemilikan tanah) dengan kondisi alam yang gersang dan keras inilah yang mereproduksi dinamika hidup kesukuan menjadi liar. Kaum kiri, sering menyebutnya sebagai bentuk masyarakat tribal society. Dari basis sosial ini bagi setiap pengusung ide baru dari setiap individu ataupun suku akan mengalami satu kemudahan sekaligus satu kesulitan. Segi kemudahannya, setiap ide bisa mudah dikampanye secara terbuka tanpa ada hambatan penguasa melalui jalur-jalur perdagangan, sementara segi kesulitannya akan berhadapan dengan kultur warga yang keras dan liar sehingga sering kali harus memakai jalur kekerasan. Islam setidaknya pernah mengalami pengalaman ini. Hal yang paling banyak kita saksikan dari kesuksesan Nabi membawa risalah Islam dalam hal ini adalah meyakinkan bahwa yang esa dan abstrak tak berwujud itu ‘benar adanya’ dan yang partikular seperti konsep Yahweh, Trinitas atau bentuk berhala adalah suatu yang ‘tidak dibenarkan’. Untuk soal ini rupanya Nabi tidak mengalami problematika. Banyak warga kemudian berduyun-duyun masuk dalam Islam yang menyembah yang Esa. Namun ketika Nabi menyerukan pentingnya kewajiban membentuk masyarakat yang adil dan setara dimana orang-orang miskin dan lemah diperlakukan secara layak. Pesan mulia Islam yang ditulis Karen Amstrong (the History of God) tergambar sederhana: jangan menimbun kekayaan dan mencari keuntungan bagi diri sendiri, tetapi bagilah kemakmuran secara merata dengan menyedekahkan sebagian harta kepada faqir miskin.( QS, Al-Lail (92): 18, QS Al-Taubah (9): 103, QS Al-Munafiqun (63): 9, QS Al-Takatsur (102): 1.

Terlepas dari kesuksesan Nabi Muhammad membawa ajaran baru itu, satu hal yang patut kita simpulkan adalah bahwa: Pertama, Nabi tidak pernah menaklukkan musuh-musuhnya dan menuntut pembentukan kemenangan itu dengan jalan kekuasaan negara yang absolut. Memang ada beberapa barisan yang kurang lebih bisa dikatakan sebagai militer untuk melindungi komunitas dalam setiap kali pertempuran. Tapi itu bukan semata didasarkan karena tuntutan kekuasaan, melainkan karena desakan alamiah tradisi kesukuan. Kedua, Islam yang dimaksudkan Nabi adalah agama baru bagi warga Arab yang benar-benar memihak kaum lemah dan terpinggirkan. Perlawanan Nabi terhadap kaum Yahudi atau suku Qurays pada waktu itu bukan dilandasi sikap perbedaan agama atau kesukuan melainkan karena secara kebetulan mereka adalah orang-orang kaya yang menguasai harta rampasan perang dan memonopoli pasar dagang di kota Mekkah.

Alhasil, Islam dalam hal tidaklah sebagai agama yang netral atau cenderung a-sosial yang melepas tanggung jawab terhadap situasi keberadaannya. Karena misi Islam ini cenderung sesuai dengan kondisi zaman para pengkaji sejarah banyak yang mengatakan Islam adalah agama progresif. Suatu ajaran pembaruan bagi bangsa Arab saat itu. Memang pada dasarnya apa yang dilakukan oleh Nabi dalam hal ini masih dalam bentuk sederhana (belum sistematis dan se-ilmiah sistem sosial sekarang) –seperti yang dikisahkan Karen Amstrong di atas. Hal ini saya kira disebabkan oleh situasi sosial yang memang masih sederhana.

Distorsi Birokrasi

Situasi sosial terus berubah. Perubahan fundamental ekonomi setidaknya menjadi bagian yang tak bisa dinafikan peranannya. Situasi ini kemudian merubah Islam pada kemudian hari. Terutama ketika Nabi meninggal, Islam pun kemudian berubah dalam misi perjalanannya. Satu hal yang penting dalam tradisi Islam adalah munculnya kekhuasaan (Khalifah Islam). Dalam masa khalifah ini apa yang kita kenal dengan konsepsi komunitas ummah mulai pudar dan berjalan menuju arah birokratisasi dalam bentuk kekuasaan kerajaan. Satu hal yang pasti terjadi ketika satu ajaran terformat dalam lembaga adalah bentuk distorsi ajaran. Distorsi diakibatkan oleh membaurnya dua kepentingan yang berseberangan. Kalau Islam tadinya berorientasi murni pembebasan, maka ketika menyatu dengan kekuasaan visi suci itu mulai terkontaminasi oleh kepentingan kekuasaan. Islam setelah masa Nabi inilah yang kemudian terekam menjadi satu bentuk terpisah dari Islam asli. Bahkan beberapa orang yang konsisten terhadap semangat asli Nabi kemudian terpaksa harus berhadapan dengan sahabatnya hanya karena perbedaan politik. Terlebih ketika dinasti Muawiyah berhasil menghabisi keluarga Ali bin Abi Thalib secara bengis. Kekuatan Islam kemudian semakin jauh dari nilai progresif yang membebaskan kaum lemah. Islam kemudian menjadi agama yang dipajang secara simbolik di pusat-pusat kota. ‘Lalu apa yang terjadi dengan tujuan negara Islam dalam situasi seperti ini?’ tanya Asghar Ali Enggineer. Islam kemudian menyimpang dari tujuan semula. Karya-karya ulama abad pertengahan yang kini sering dijadikan rujukan orang hingga kini telah memperlihatkan bahwa Islam menjadi sekedar ritus akherat. Dari kebanyakan karya berupa kita-kitab itu seluruh perhatian tertuju pada penciptaan tatanan sosial yang akan mempersiapkan manusia menuju akhirat. Hasil interpretasi itu adalah reduksi agama menjadi murni olah spritual yang tidak mempunyai muatan tranformatif sama sekali. Sementara itu, elite kekuasaan sibuk membangun aparatur negara yang represif dan para ulama menjadi bagian di dalamnya. Akibatnya Islam hanya menjadi pelayan kekuasaan dengan cara melakukan spritualisasi dan mistifikasi ajaran. Ali Syari’ati (1931-1977) bilang, Islam akan selalu menuruti hukum besi bila dilembagakan. Dus! Akan menjadi terbalik visinya: dari Islam pembebas menjadi Islam penindas.

Lantas bagaimana dengan masa lalu Islam selama 14 abad yang konon mengalami kejayaan tersebut? Satu hal yang patut direnungkan oleh kita adalah mulai dari pertanyaan: apakah 14 Abad itu kejayaan Islam (asli) atau hanya sekadar kejayaan para penguasa yang kebetulan beragama Islam? Saya pikir ini adalah pertanyaan yang teramat pahit untuk dijawab. Namun rupanya kita harus jujur sesuai dengan hukum sejarah itu sendiri. Saya kira lebih tepat bila jawabannya telah terjawab dengan pertanyaan kedua: para pengusa Islamlah yang berjaya! Bukan ajaran Islam. Mungkin karena pembongkaran literatur sejarah di negara kita masih teramat minim sehingga jawaban radikal seperti ini tidak cukup kuat untuk melawan arus pemahaman kebanyakan. Kita menjadi seringkali terjebak pada pemahaman yang bersifat romantis dan ilutif, jauh dari semangat penafsiran progresif dan kritis.

Islam yang dilematis

Studi kritis yang sering kita terima berkaitan soal Islam ternyata menimbulkan dilematika yang cukup sulit untuk diperbaiki. Harapan akan munculnya ‘Islam pembebas’ sebagai penerus misi awal Islam sering kandas di tengah jalan. Para pembaruan pun kadang terpaksa harus menikmati hasil kerja ilmiahnya dalam kesendirian. Karenanya kita menyaksikan ada dilema tersendiri dengan agama ini ketika berhadapan dengan ruang-lingkup dunia kini. Ada satu beban berat yang dipikul umat Islam menghadapi realita zaman. Kita ternyata hidup dalam suatu zaman yang sial. Islam yang kita yakini seringkali ternyata bukan semata Islam yang murni, asli atau yang disebut Islam yang memberikan semangat progresif. Islam yang kita terima adalah warisan gelombang sejarah beberapa abad, yang sarat dengan muatan-muatan kebudayaan suatu daerah. Akibatnya terlalu sering kita berasumsi ‘kebenaran Islam itu bukan diukur dengan parameter nilai dasar asli,’ melainkan diukur oleh asumsi-asumsi tradisi pemikiran yang justru sering bertentangan dengan Islam itu sendiri. Asumsi birokratisasi, formalisasi dan upaya pelembagaan lainnya yang diyakini berbagai kelompok sebagai jalan alternatif mengingatkan saya kepada ungkapan Muhammad Abduh: Al-Islamu mahjubun bil Muslimin, keaslian Islam ditutup-tutupi oleh umatnya. Selain problem ‘salah asumsi’ di atas, satu hal yang saya lihat bahwa Islam khususnya di Indonesia tidak menjadi agama progresif juga disebabkan oleh faktor sosial. Islam Di Indonesia pada mulanya memang menyebar melalui pusat-pusat kota perdagangan yang mempunyai kultur progresifitas seperti Pasai, Demak Majapahit, Cirebon, Banten. Tetapi kemudian ketika kota-kota sebagai pusat peradaban Islam tidak lagi dikuasai oleh para pedagang melainkan dikuasai oleh rezim-rezim lokal dan kekuatan-kekuatan istana yang pada suatu ketika mengalami keruntuhan Islam kemudian terdesak ke pedesaan. Bersamaan dengan proses pendesaan ini, Kuntowijoyo mengambil istilah ‘Islam yang dipetanikan’. Jika dulu Islam dibawa oleh pedagang, kelas komersial, sekarang Islam bertumpu pada golongan petani sebagai mayoritas. Pergeseran ini kemudian membedakan dinamika keislaman, sebab secara khas kultur pedagang dan kultur petani sangat berbeda.

Sebagaimana sudah saya jelaskan di awal berkaitan dengan kultur sosial Arab yang bertumpu pada perdagangan Islam yang dipeluk oleh para pedagang, klas borjuasi akan mempunyai watak progresifitas. Sementara Islam yang dipeluk oleh petani akan menjelma menjadi Islam statis. Kenapa? Dalam alam pertanian, kehidupan petani ditentukan oleh situasi ekologis, artinya ada ketergantungan terhadap situasi dari luar. Kreatifitas sangat berkurang sebagai akibat ketergantungan dengan cuaca, musim dan kepada tanah. Berbeda dengan kultur pedagang yang selalu berusaha mengejar dengan target tanpa terikat oleh ekologi. Ekologi desa menyebabkan petani tidak progresif. Karena itu pikiran Islam yang ‘dipetanikan’ menjadi statis. Sikap jumud, mistis yang lekat dengan warisan budaya petani, menjadi lekat dengan Islam yang kini masih banyak kita saksikan.

**

JIKALAU kita berharap agar Islam menjadi satu bentuk nilai asli yang utuh dan hidup dalam rangka menyelesaikan persoalan problematika kehidupan, maka tugas pokok tentu adalah menyingkap asumsi-asumsi melenceng yang selama ini lekat dalam ruang imajinasi umat Islam. Kesadaran palsu yang selama ini ada dalam pikiran cukuplah membebani praktik keislaman umat Islam sendiri berat. Pertanyaan apakah Islam menganjurkan sebuah pembentukan negara? Atau juga apakah sejarah Islam 14 abad itu adalah sejarah yang sesuai dengan semangat murni Islam, adalah satu dari sekian banyak pertanyaan yang harus dijawab secara rasional. Memaksakan diri visi Islam secara ‘romantis’ dan jauh dari visi zaman adalah semangat konservatisme yang sering kali gagal menciptakan tujuan Islam sebagai agama progresif dan membebaskan.(Faiz Manshur, Penulis adalah peneliti di Yayasan Nuansa Cendekia Bandung)

Naskah ini pernah dimuat di Harian Pikiran Rakyat, 21 Agustus 2002

3 thoughts on “Islam, Progresif dan Membebaskan

  1. yang kita miliki sekarang agama kebudayaan,ritualistik bukan spritual murni.Allah(tuhan) jadi berhala,wahyu ilahi jadi jimat dan doa jadi mantra-mantra ,pelarian dalam kegalauan hidup.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s