Kemerdekaan dan Perbudakan

Standar


Pekik merdeka akan segera kita dengar. Merdeka sudah menjadi slogan tetap. Orang-orang mewiridkan khusuk setiap 17 agustus. Upacara benar-benar menjadi tata-cara kita menghadap inspektur upacara, tata-cara kita menghormati bendera. Begitu juga dengan pekik merdeka, telah menjadi bagian dari seremoni tahunan.

Namanya juga seremoni. Lebih dekat dengan basa-basi ketimbang esensi. Jangan heran kalau kemudian oran g jadi lupa siapa yang benar-benar telah merdeka dan siapa yang masih tertindas. Pekik merdeka menjadi tidak esensial ketika ditarik pada kenya taan hidup sehari-hari, sebab telah dipersempit sebagai jargon kemerdekaan bangsa dari kolonialisme.Pada dasarnya, hampir semua orang sadar kemerdekaan sebagai jalan hidup. Para cerdik cendekia, juga sadar bahwa kemerdekan, yang di dalamnya memuat kandungan nilai demokrasi, liberalisasi, pembebasan dan kebebasan adalah sesuatu yang asasi bagi manusia. Tanpa kemerdekaan, tidak mungkin individu menemukan jati dirinya sebagai manusia.

Karena itu, bangsa Eropa dan Amerika Serikat sangat memperhatikan norma dan nilai kemerdekaan ind ividu sebagai bagian penting masyarakat. Hal ini tidak kita temukan di negeri kita, negeri Timur yang tabu dengan kebebasan, liberalisme dan ind ividualitas. Mungkin karena ini pula yang membuat kata merdeka hanya pantas diucapkan secara kolektif, ketika ind ividu-individu Ind onesia menyatu dalam gelora (seremonial) upacara 17 agustusan. Secara kolektif, bangsa ini memang telah merdeka. Yang jadi masalah adalah, kemerdekaan bukan dinikmati masing-masing individu pemilik sah bangsa ini. Hanya mereka yang berada dalam lingkar kekuasaan ekonomi dan politik yang benar-benar merasakan kemerdekaan. Kaum buruh, petani, wartawan, guru, tukang ojek, sopir angkot, pedagang kali lima . Apakah kalian sudah merdeka? “ Nam anya juga kelas bawah, gimana mau merdeka?” kata seorang teman.

Memang agak kontradiktif. Seharusnya, kumpulan massa biasanya identik ras, suku dan etnis yang menyatu dalam identitas Bangsa Indonesia ini seharusnya menghasilkan kekuatan yang produktif dalam mewujudkan kemerdekaan. Sayangnya, akibat mentalitas inlander kaum bawah, serta mentalitas feodal para pejabat, etos kemandirian lenyap. Sesama priyayi berkumpul wataknya semakin mriyayi, jauh dari rakyat. Sesama kaum terjajah, solidaritasnya justru menjadi pasif. “Seperti kawanan ternak, “kata Sastrawan Pramoedya Ananta Toer. Kita lihat hirarki penjajahan di era “kemerdekaan” sekarang ini. Karyawan diperbudak oleh budaknya majikan (mandor), budak majikan diperbudak oleh Sang majikan. Majikan diperbudak oleh pejabat negara yang nota-bene adalah budak kekuasaan. Budak kekuasaan, atau yang disebut politisi diperbudak oleh politisi lain. Hasilnya, para pemimpin dari golongan budak, memimpin budak yang dulu dijajah bule. Lho, apakah mereka yang berada dipuncak kekuasaan belum merdeka? Tunggu dulu. Mereka tak bebas berbuat. Ada majikan nun jauh di sana , di markas-markas keuangan negara kapitalis. Para pemimpin budak ini semenjak bangsa Indonesia merdeka tak pernah berani melakukan perlawanan, kecuali Presiden pertama RI yang cerdas dan berani itu. Pemimpin era selanjutnya tak pernah bebas membuat keputusan menurut kepentingan rakyatnya, sebab sang majikan di negeri seberang sudah mau membantu kucuran piutang.

Agaknya kata budak memang terlalu kasar untuk disebut di jaman sekarang. Istilah itu sangat tidak pas karena bagian dari masa lalu yang buruk. Apalagi perbudakan sudah dihapus oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa. Benar, menghapus istilah budak memang mudah. Ganti saja dengan istilah lain. Tapi pada kenyataannya budak, -setidaknya mentalitas budaknya-sampai kini belum hilang di negeri ini. Menjadi manusia lepas dari perbudakan memang tidak mudah. Tidak hanya keberanian melakukan perlawanan, melainkan harus cerdas dalam banyak hal. Masalahnya, para budak (yang punya jabatan) itu juga bukan budak bodoh jaman baheula. Mereka setiap hari diajari majikannya melalui teori-teori canggih. Memang ajarannya tidak tertulis, tapi secara konvensional kiat-kiat memperbudak orang lain mereka kuasai melalui insting yang super peka.

Kita sudah terlanjur hidup di negeri budak. Pekik merdeka bukanlah slogan agar para pejuang agar tak patah semangat melawan musuh. Bukan juga berarti kemerdekaan yang sesungguhnya. Orang-orang merdeka adalah mereka para konglomerat hitam. Ngemplang utang, gangsir bank, bantai rakyat, mencemari lingkungan tidak pernah dipermasalahkan. Petinggi negara,-karena bermental budak- tak berani menyeret mereka ke pengadilan. Bahkan terkesan menutut-nutupi aib sang konglomerat. Mungkin pejabat ini sadar, tidak ingin seperti pejabat sebelumnya, yang akhirnya tumbang karirnya karena sok berani melawan konglomerat hitam. Pejabat ini juga sadar, tak bisa sembarangan melakukan perlawanan terhadap kebijakan monopoli kapitalis, sebab efeknya bisa gawat; dituding memproduksi senjata nuklir atau memelihara teroris berjengggot.

Setiap hari kita mengeluh karena ulah para pejabat bermental budak di instansi pemerintahan. Sekalipun Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara, Taufik Efendi terus berkoar-koar pentingnya membenahi pelayanan birokrasi, tapi para bawahannya tetap saja tidak berubah. Aparat Pemerintahan Daerah misalnya, masih menganggap warga sebagai kawula, abdi, (yang statusnya tiada beda dengan budak). Ini sangat tragis, mengingat pejabat itulah yang seharusnya jadi abdi rakyat. Kemerdekaan memang membutuhkan kesadaran,-sadar tak boleh ada yang memperbudak dan diperbudak. Jika tidak mau diperbudak, janganlah memperbudak orang lain, sebab perbudakan adalah tindak kekerasan. Akumulasinya bisa mengkristal menjadi perlawanan, seperti terorisme. Indonesia sudah merdeka dari perbudakan kolonialisme. Semua orang sudah tahu itu. Namun yang terjadi sesungguhnya budak menindas budak. FAIZ MANSHUR (naskah ini pernah dimuat di Harian Media Indonesia, 17 Agustus 2006)

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s