Bernuzulul Quran Bersama Bung Karno (1)

Standar


Bagian pertama dari dua tulisan
Oleh Faiz Manshur

http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=183543

Rabu, 3 Oktober 2007
Bagi umat Islam, bulan suci Ramadhan memiliki banyak keistimewaan. Selain kemuliaan malam laetaulkadar (Laylat al-Qadar), suatu malam yang oleh Al-Qur’an dikatakan sebagai bulan yang “lebih baik dari seribu bulan,” juga ada peringatan hari kemuliaan, yaitu malam Nuzulul Qur’an. Peristiwa itu sangat monumental mengingat Nabi Muhammad untuk kali pertama menerima wahyu di gua Hira.

Di negeri kita, peringatan Nuzulul Qur’an sudah tidak asing lagi. Bahkan secara resmi, Presiden RI tak pernah absen memberikan pidato pada tiap-tiap peringatan dilaksanakan. Tradisi ini sudah dimulai semenjak Presiden pertama RI, Ir Soekarno. Tulisan ini sengaja ingin mencatat kembali pemikiran Bung Karno yang secara khusus disampaikan pada pidato peringatan Nuzulul Qur’an.
Dalam sebuah buku Bung Karno dan Wacana Islam (Kenangan 100 Tahun Bung Karno), penulis menemukan lima naskah Pidato Bung Karno masing-masing berjudul; Islam, Agama Amal, (15 Maret 1960). Al-Qur’an Membentuk Manusia Baru (6 Maret 1961). Teks pidato bertajuk Mencari dan Menemukan Tuhan, (12 Februari 1963). Teks pidato Api Islam, Motor Terbesar Umat Manusia, ( 1 Februari 1964). Dan teks pidato Islam adalah Agama Perbuatan ( 10 Januari 1966). Kelima teks pidato itu disampaikan di Istana Negara pada saat memperingati Nuzulul Qur’an.
Karena konteks persoalan yang dihadapi Bung Karno tiap tahun berbeda-beda, materi pidato pun nampak seragam. Tulisan ini tidak bermaksud mengulas lengkap semua pemikiran Bung Karno, apalagi mengkritik, melainkan hanya sekadar ingin menyajikan suatu romantisme-historis di mana Bung Karno dengan cara pandangnya yang khas berbicara mengenai ajaran Islam, sejarah Al-Qur’an, ketuhanan, dan beberapa persoalan yang terkait.
Sebagaimana seorang Muslim, Bung Karno jelas mempunyai kedekatan emosional terhadap Al-Qur’an. Tanpa keraguan sedikitpun, ia meyakini Al-Qur’an adalah wahyu Ilahi; kitab keramat, penuh teka-teki, nilai-nilai sakral, dan karena itu harus dijunjung tinggi oleh umat Islam.
Bagi Bung Karno, Al-Qur’an memberikan konstribusi bagi perubahan kehidupan yang revolusioner, bukan saja di tanah Arab, melainkan di seluruh dunia. Ia katakan, “Satu revolusi yang bukan lagi sebagai kita punya revolusi, satu revolusi pancamuka, 5 macam, tetapi mungkin ini revolusi yang diadakan oleh Tuhan via Qur’an itu adalah revolusi dasamuka. Sebagaimana revolusi yang 10 macam sekaligus.”
Pada teks ini menyiratkan ciri khas pemikiran Bung Karno sebagai pemimpin nasional berhaluan nasionalis, Jawa dan Islam menyatu padu. Kesadaran revolusioner yang ia dapatkan dari tradisi keilmuan kaum kiri (Marxian) diserap dan dipadukan secara luwes dan khas. Pada masa itu, hal tersebut sangat menarik perhatian banyak orang. Secara politik, pandangan tersebut bisa diterima oleh tiga golongan besar rakyat Indonesia, yakni kaum nasionalis, komunis dan Islam.
Dalam konteks yang lain, Al-Qur’an bagi Soekarno adalah salah satu pilar ideologis yang ia miliki. Al-Qur’an menurut Bung Karno mendatangkan revolusi batin, revolusi ekonomi dan revolusi moral.
Satu pengalaman pribadi yang ia rasakan berhubungan dengan Al-Qur’an adalah ketika ia dalam kondisi terdesak, ditangkap oleh Belanda 22 Desember 1948 di Yogyakarta. Penangkapan itu bagi Bung Karno adalah klimaks; suatu keadaan di mana dirinya tak punya harapan lagi untuk hidup. Sebab sebelumnya beredar informasi Bung Karno bakal dibunuh oleh Belanda jika tertangkap. Dalam situasi terjepit di balik jeruji penjara, Bung Karno memanfaatkan waktunya untuk banyak membaca Al-Qur’an dan rajin beribadah.
Totalitas penyerahan hidupnya kepada Tuhan dalam doanya ia yakini dapat mengubah garis nasib kehidupannya. Tidak diduga, suatu pagi, Bung Karno dibebaskan oleh Belanda. Pengalaman religus ini pada akhirnya disadari oleh Bung Karno sebagai tonggak kokohnya keimanan dirinya pada ajaran Islam, Al-Qur’an dan Tuhan.
Sekalipun Soekarno sejak kecil adalah seorang teis, namun bukan berarti pemahaman teologinya konvensional. Ia sadar Tuhan adalah sesuatu yang besar bagi dirinya, yang patut disembah dan diyakini sebagai tempat perlindungan yang tepat. Namun keyakinan tersebut bukan datang secara tiba-tiba, melainkan melalui proses pencarian yang teramat panjang dan berliku.
Dalam teks pidatonya yang berjudul Mencari dan Menemukan Tuhan (1963) Bung Karno mengisahkan bahwa sepanjang perjalanan hidupnya dirinya selalu mencari dan mencari Tuhan. Dengan latar belakang pemikiran filsafat Marxian yang kuat, pemikiran Soekarno menjadi lebih rasional didengar ketimbang perspektif teologi para ulama yang irasional.
Sekalipun Bung Karno menjunjung tinggi rasionalitas Barat, namun dalam soal teologi ia lebih memilih tidak banyak mempersoalkan eksistensi Tuhan. Bagi Bung Karno, ilmu pengetahuan hanya bisa menjelaskan hal yang riil. Sementara untuk menjelaskan eksistensi Tuhan, ia lebih memilih melalui pendekatan agama ( Al-Qur’an). Kesadaran seperti ini diyakini tepat saat dirinya berusia 28 tahun.
Sebelumnya, Bung Karno sering berusaha menyibak hakikat Tuhan melalui ilmu pengetahuan (positivisme), namun selalu kandas, bahkan mengarahkan dirinya ke jurang nilihisme. Setelah memperdalam Al-Qur’an, ia baru merasa puas bahwa Tuhan itu ada, dan keberadaannya bisa dijelaskan melalui Al-Qur’an secara rasional. Harap maklum, apa yang sering dibaca Soekarno adalah ilmu sosiologi, bukan ilmu tauhid. Tak heran jika kemudian eksistensi Tuhan tidak ia temukan melalui pengetahuan sosiologi. Yang ia temukan dari ilmu sosiologi adalah sejarah mengenai beragam pemahaman tuhan (dengan T kecil) di masa lalu seperti tuhan petir, tuhan api, tuhan batu dan seterusnya. (Bersambung)***

Penulis adalah penulis independen, tinggal di Bandung

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s