Bernuzulul Quran Bersama Bung Karno (2)

Standar

Ber-Nuzulul Qur’an Bersama Bung Karno
Bagian kedua dari dua tulisan
Oleh Faiz Manshur

http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=183585:

Kamis, 4 Oktober 2007
Terlepas dari faktor-faktor politik, Al-Qur’an bagi seorang Soekarno adalah kitab suci yang sakral. Apakah bagi seorang yang menyakralkan sesuatu (Al-Qur’an) seperti Bung Karno lantas menjadi seorang Muslim yang dogmatis?

Bung Karno tidak tepat jika disebut pemeluk Islam dogmatis, seperti halnya kaum fundamentalis. Alasannya, ia percaya nalar kritis sebagai upaya memahami Al-Qur’an.
Sakralitas Bung Karno terhadap Al-Qur’an justru dimaknai sebagai bentuk penghargaan untuk tidak gegabah, dan mengedepankan pendekatan tekstual dalam memahami Al-Qur’an. Ia selalu melihat Al-Qur’an punya kekuatan yang dahsyat, sehingga seseorang tidak boleh sembarangan menafsirkan dan menerapkan tanpa landasan pengetahuan yang memadai.
Bagaimana cara memahami Al-Qur’an menurut Bung Karno? Bung Karno bukanlah seorang penafsir Al-Qur’an. Ia hanya mengaku sebagai seorang Muslim, seorang awam yang terus berupaya konsisten mengamalkan ajaran Islam. Lalu apa alasan dirinya mengatakan Al-Qur’an sebagai kita suci yang maha hebat?
Pertama, Bung Karno lebih melihat Al-Qur’an sebagai kitab sejarah. Dalam konteks ini, ia sering membandingkan dengan ilmu pengetahuan, atau kitab suci lain. Sejauh mana Al-Qur’an memengaruhi perubahan dunia?
Sebagai seorang kutu buku, Bung Karno memiliki berbagai alasan untuk mengatakan Al-Qur’an sebagai kitab yang hebat. Ia paling suka mengutip pendapat ilmuwan-ilmuwan Barat tentang Al-Qur’an. Jika komentar itu sifatnya positif, ia akan kabarkan kepada seluruh rakyat Indonesia berulang-ulang dan dengan nada provokatif yang membuat orang merasa yakin akan pendapat Bung Karno. Namun jika ada pendapat nonmuslim itu cenderung tendensius, menghujat Islam, merendahkan Al-Qur’an, bahkan menghina Nabi, Bung Karno tak segan-segan menyerangnya dengan argumentasi yang sekiranya membuat pernyataan para penghujat itu irasional.
Kedua, Bung Karno punya keyakinan bahwa para ulama, imam-imam besar dalam Islam, seperti Imam Hambali, Hanafi, Syafii dan Maliki, mumpuni. Bagi Bung Karno, imam-imam ini sudah cukup dijadikan sandaran dalam menjalankan ajaran Islam. Sebab yang dimaksud ijtihad menurut dia adalah “bersungguh-sungguh menyelidiki, bersungguh-sungguh investigasi, bersungguh-sungguh memeriksa, bersungguh-sungguh memikirkan.”
Sejarah ijtihad bagi Bung Karno sudah cukup di tangan para imam-imam Islam tersebut. Karena itu, ketika menanggapi tuntutan ijtihad dari mahasiswa-mahasiswa Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Bung Karno berpesan agar tidak usah repot-repot memikirkan ijtihad. Katanya, “Sudah, jangan pikir! Jangan selidiki! Ini imam-imam besar sudah habis-habisan menyelidiki, memikirkan, menganalisis. Ikut sajalah salah satu daripada imam-imam itu. Dan itulah yang dinamakan mazhab,” ujarnya berapi-api.
Dari sini kita bisa melihat, bahwa pemahaman Bung Karno tentang pemikiran Islam tampak konvensional, seperti pandangan ulama-ulama di kalangan Nahdlatul Ulama (NU). Dengan kata lain, pemahaman Islam Bung Karno dalam hal syariat tampaknya tidak terlalu neko-neko, apalagi diarahkan pada politik praktis, menegakkan syariat Islam atau negara Islam.
Yang Bung Karno harapkan dari umat Islam adalah membangkitkan kembali semangat keislaman yang menurutnya adalah agama revolusioner. Dengan semangat ajaran Islam, Bung Karno menilai umat Islam di Indonesia belum sepenuhnya mampu menangkap api atau ruh Islam yang sesungguhnya.
Ajaran Islam di Indonesia memang dipraktikkan setiap hari oleh jutaan pemeluknya, namun praktik keislaman masih sebatas dalam urusan ritual. Ia katakan, “Tidak ada gunanya kita satu hari duduk di dalam masjid putar tasbih (baca) “Allahu Akbar, Allahu Akbar”, kalau tidak betul-betul di dalam kita punya hati, kita berbuat.”
Bung Karno melihat Islam adalah agama revolusioner yang sanggup menjadi spirit perubahan, api revolusi bagi pembebasan kaum tertindas. Karena itu, Islam harus dimengerti sebagai agama amal kebajikan, membela kebenaran, membela kaum mustad’afin (proletar), menegakkan keadilan, memakmurkan rakyat Indonesia dan berani melawan kolonialis/imperialisme.
Menurut dia, kejayaan Islam bukan disebabkan oleh kekuatan pedang, atau untuk zaman sekarang bom dan dinamit. Islam menjalar dari tempat kecil menjadi satu agama besar, karena kekuatan ajaran yang konsisten menegakkan kebenaran, kekuatan hak, kekuatan kesucian. Dari sini kita bisa mencerna makna “Api Islam” yang dimaksud Bung Karno adalah, menciptakan negara/bangsa yang gemah ripah loh jiwani, tata tentrem kerta raharja; baldatun tayyibbatun wa rabun gafur.
Dari prinsip di atas, kita dapat melihat keinginan besarnya untuk menjadikan Islam sebagai agama berbasis nilai (bukan formalitas), nilai ideologis, nilai humanis, dan seterusnya. Kita tahu, selain sebagai seorang Muslim, Bung Karno juga kental menganut ideologi nasionalisme dan Marxisme (Nasakom). Ini juga memberikan kesaksian, bahwa Bung Karno tidak melihat Islam sebagai ajaran eksklusif dari ajaran lain, melainkan bisa disandingkan, dipadukan sebagai kekuatan bersama.
Yang menarik dari Bung Karno adalah, kesadaran akan iman kepada agama, kepada Tuhan, kepada Al-Qur’an tidak sertamerta membuat orang antipati terhadap perbedaan ajaran. Bahkan dari sikap keimanan yang kuat, justru seseorang akan fleksibel menerima perbedaan. Api Islam menurut Bung Karno bukan untuk tujuan melawan kaum kafir (beda agama), melainkan sebagai inspirasi amal kebajikan, menegakkan yang ma’ruf dan mencegah yang munkar.
Jelaslah bahwa Bung Karno lebih memilih persoalan rakyat, persoalan bangsa dan persoalan kemanusiaan lebih utama ketimbang sekadar mementingkan umat Islam. Sebab Bung Karno sadar bahwa inti ajaran Islam adalah rahmatan lil alamin, bukan rahmatan lil Islam. (Habis)***

Penulis adalah penulis independen, tinggal di Bandung

2 thoughts on “Bernuzulul Quran Bersama Bung Karno (2)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s