Legitimasi Teror dan Hasrat Kekerasan

Standar

Kekerasan terus berlangsung. Ada yang sifatnya terbuka seperti peledakan bom, ada yang sifatnya terselubung. Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) tanpa kompromi boleh jadi bisa dikategorikan sebagai kekerasan. Pelaku kekerasan terbuka maupun terselubung sama-sama mempunyai berbagai legitimasi yang sulit dipatahkan oleh teori ilmiah. Penguasa negara bisa melakukan kekerasan terbuka karena memiliki seperangkat undang-undang negara. Jika legitimasi itu tidak cukup, maka penguasa menerapkan strategi dengan cara menghegemoni rakyat yang memberontak. Sadar rakyat menjadi musuh, biasanya penguasa membayar para kaum cerdik-cendekia untuk mencari rasionalisasi dalam mencapai tujuannya. Legitimasi masih kurang? Bayarlah para agamawan untuk berkhotbah dalam rangka menentramkan para korban yang sedang sekarat menghadapi kepailitan hidup. Peristiwa Bom Bali II belum lama ini memang belum diketahui siapa pelakunya. Tapi bisa diduga pelakunya tidak akan jauh berbeda dari orang-orang yang sebelumnya mengarsiteki peledakan Bom Bali I, peledakan bom Kuningan dan sejumlah peledakan bom lain. Alasan mereka adalah jihad melawan musuh-musuh Tuhan.

Hasrat kekerasan

Kenapa kekerasan terus berlangsung dalam kehidupan manusia? Elias Canneti, seorang filsuf asal Bulgaria yang pernah menjadi tahanan Nazi mengatakan, para pelaku kekerasan adalah orang yang tak mampu menentukan diri, orang yang direndahkan dan dinistakan, yang sekarang mengimbangi defisit jiwanya lewat penegasan diri dalam mengubah orang lain menjadi jenazah bisu, menjadi objek belaka bagi suatu subjek belaka, yakni diri yang menegaskan-diri. Lain dari itu Canneti juga melihat bahwa dalam diri manusia terdapat hasrat untuk survival. Ironisnya, survival itu adalah tindakan manusia untuk membunuh manusia lain. Menurutnya, momen konfrontasi dengan orang yang dibunuh memenuhi survival seorang survivor dengan semacam kekuatan yang khas yang tidak dapat disamakan dengan kekuatan-kekuatan lainnya. Tak jauh berbeda dengan pendapat Canneti, Hannah Arendt, melihat, daya dan kekuatan manusia secara mendasar tampak dalam pengalaman kekerasan. Dari daya kekuatan itu menurut Arendt ada rasa kepastian-diri dan identitas berasal. (The Human Condition, 1996).

Di sini, Arendt tidak sedang mengecam maupun menyetujui kekerasan. Ia hanya ingin merumuskan sebuah tesis berkaitan dengan kekerasan yang selalu muncul setiap saat. Arendt melihat bahwa akar-akar kekerasan terletak pada kerinduan manusia untuk menemukan rasa kepastian dan identitas. Dalam konteks yang filosofis nan psikologis yang demikian itu, tak heran jika paham Hobbessian dalam tesis Leviathan-nya berkesimpulan bahwa setiap manusia adalah pelaku potensial sekaligus korban potensial dari sebuah siklus kekerasan hidup. Dengan begitu kita bisa melihat manusia, sebagaimana juga binatang, memang tidak bisa lepas dari jaring kekerasan. Terlebih ketika suatu kelompok manusia melakukan dominasi terhadap manusia lain. Jika terjadi dominasi oleh suatu kelompok, entah dominasi politik, ekonomi atau dominasi budaya yang pada tahap tertentu mendesak kelompok lain, maka otomatis akan berbuah resistensi berupa tindak kekerasan.

Agama Kekerasan

Seperti yang sudah saya katakan di atas, tindakan kekerasan apapun selalu punya legitimasi, jika memakai moral, biasanya memakai struktural. Jika keduanya tidak bisa dipakai, maka legitimasinya adalah ideologi. Serangkaian tindak kekerasan bom bunuh diri yang selama ini kita saksikan jelas bermotif ideologi. Ya, ideologi yang lahir dari benih-benih keterdesakan suatu kelompok beragama.Selalu ada rasionalisasi orang beragama untuk melakukan sebuah tindakan. Beruntung kalau kita menemukan orang beragama yang kadar moral humanitasnya tinggi. Tapi bagaimana jika kita melihat orang-orang taat beragama, mengaku dekat dengan Tuhan, bahkan merasa dirinya punya surat kuasa dari Tuhan untuk melakukan tindakan apa saja? Kita memang masih sempat melihat (sedikit) orang beragama yang bertindak dalam kendali nilai kemanusiaan. Namun di luar itu, banyak orang beragama yang terkesan moralis namun sebenarnya hasratnya sebagai manusia (baca; binatang) tetaplah dominan. Mereka ini biasanya rajin melakukan ritual pribadi atau ritual massal bersama kelompoknya. Kekhusukan beribadah adalah cara terbaik baik mereka untuk melarikan diri dari berbagai persoalan kehidupan yang serba problematis. Mereka sibuk berdoa, berdoa dan berdoa, tanpa pernah mau memikirkan masalah-masalah dari berbagai persoalan sosial. Dengan agama mereka mendapatkan kedamaian hidup. Umat beragama yang asketis seperti ini menorehkan wajah agama yang terkesan moralis namun tak kalah bejatnya dengan pelaku teror yang mengatasnamakan Tuhan.

Kenapa demikian? sebab mereka lebih memikirkan kebahagian diri (individualisme, bukan individualitas) dan cenderung mengabaikan persoalan orang lain. Bahkan para pemimpin agama berhaluan asketik ini, biasanya memanipulasi para jamaahnya dalam rangka mengeruk keuntungan material. Agama memang menjadi tempat yang serba nyaman, pragmatis dan tepat guna bagi siapapun. Bagi penguasa, agama bisa menjadi sarana penegasan status-quo. Bagi manusia-manusia lemah tak berdaya, agama bisa menjadi tempat yang aman untuk melindungi dirinya dari berbagai ancaman hidup yang berbahaya. Dengan agama orang bisa merasa bahagia (happiness) tanpa harus bermodal materi. Bahkan lebih dari itu, orang beragama bisa ekstase (ectasy) sepuas-puasnya tanpa harus berurusan dengan aparat karena dituduh memakai narkoba. Agama bisa juga melegitimasi tindak kekerasan yang paling biadab. Berbagai bom yang meledak di negara kita misalnya, sebanyak itu pula unsur agama menyertai. Agama memang bukan sekadar label, lembaga, melainkan juga ideologi (baca; kesadaran palsu) yang lekat dalam diri manusia.

Peran negara

Lalu, kapan kondisi damai kehidupan manusia akan tercapai? Kita percaya manusia adalah makhluk yang punya hasrat. Dalam era modern kita punya instrumen berupa negara-demokratis yang di dalamnya berisi manusia-manusia pengendali hasrat kekerasan. Tetaplah dengan konstitusi sekuler, sebab jika memakai landasan negara agama bisa jadi gerakan terorisme semakin mendapat legitimasi melalui dukungan birokrasi. Dengan sekulerisasi setidaknya legitimasi kekerasan bisa diminimalisasi. Aparat boleh melakukan tindak kekerasan terhadap pelaku teror, asal tepat sasaran! Negara punya legitimasi untuk bertindak tegas terhadap teroris, dan dengan begitu mayoritasnya rakyat, setidaknya masih bisa berharap akan hadirnya kedamaian.(Faiz Manshur, Penulis pengamat sosial-politik, tinggal di Jakarta)

Naskah ini pernah dimuat di Harian Suara Karya, 8 November 2005


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s