Amal Madinah dan “Kelainan Zaim”

Standar

Judul Buku: Ilusi Demokrasi; kritik dan otokritik Islam/ Penulis: Zaim Saidi/Penerbit: Republika Jakarta 2007/Tebal: xxxiv + 291 halaman/Harga: 43.000

Kapitalisme adalah biangkerok ketidakadilan! Ini bukan suatu slogan haram. Selain kaum sosialis, beberapa organisasi keagamaan di Indonesia seperti Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), Majelis Muslimin Indonesia (MMI) dan partai politik Islam seperti Partai Keadilan Sosial adalah kelompok penentang kapitalisme.

Buku karya cendekiawan Muslim asal Parakan ini juga termasuk bagian dari gerakan tersebut, minimal gerakan pemikiran. Namun pemikiran Zaim sangat lain dari yang lain, bahkan kontradiktif dengan ideologinya partai-partai dan ormas Islam di Indonesia.

Sebagai contoh, partai-partai Islam dalam menerapkan syariat Islam tetap menyandarkan diri pada elemen negara demokrasi. Padahal dalam pandangan Islam-nya Zaim, demokrasi itu sendiri adalah anak kandung kapitalisme,-sebuah sistem yang di dalamnya dibangun di atas pondasi riba. Contoh lain, praktek perbankan syariah di bawah ketiak kapitalisme tetaplah sebuah riba. Jangankan bank syariah. Dalam pandangan Zaim, uang kertas itu sendiri mengandung riba.

Dengan cara pandang yang radikal (mendasar), Zaim melihat bahwa akar masalahnya terletak pada bangunan negara modern itu sendiri. Negara modern menurutnya, dibangun di atas fondasi riba dan menjadikan riba sebagai doktrin absolut; menerapkan dalam tiap konstitusi negara dengan elemen utama, yaitu sistem bank sentral, uang kertas dan pajak.

Bank, uang kertas dan pajak dalam perspektif Islamnya Zaim adalah riba yang harus dilawan dengan sistem muamalat Islam ala amal madinah. Dalam pengertian ringkasnya, amal madinah ialah, restorasi zakat, pasar terbuka, wakaf, kontrak-kontrak bisnis syirkat dan qirad, gilda, pemakaian dinar emas dan dirham perak, dan karavan dagang.

Untuk merealisasikan hal tersebut tentu saja perlawanan harus mendasar, yakni mengubah paradigma negara demokrasi dengan negara monokrasi (islami). Kalau dalam Negara demokrasi terdapat tiga pilar utama penyangga negara, yakni eksekutif, legislatif, dan yudikatif, monokrasi menolak pilar legislatif. Dus, eksekutif tunduk kepada hukum (syariah) di badan yudikatif.

Zaim tidak bicara sambil menerawang langit biru. Ia membeberkan fakta praktek amal madinah di era sekarang, tepatnya di komunitas muslim Afrika Selatan. Melalui studinya selama setahun lebih di benua hitam itu Zaim berhasil merangkainya sebagai sebuah tesis penerapan amal madinah yang –menurutnya,- sukses di era sekarang. Ciri utama yang ingin diperlihatkan tentang umat Islam di sini adalah pengalaman sejarah mereka dalam proses ‘modernisasi dan kebangkitan Islam’.

Modernisasi Islam di Afrika Selatan dalam analisa Zaim telah mencapai puncaknya dengan telah diislamisasinya berbagai institusi politik, sosial dan ekonomi modern, dengan label-label ‘Islam’ di belakangnya. Uniknya, “islamisasi” itu sangat kuat dengan tradisi amal madinah; sebuah gerakan keagamaan yang berbasis syariah, tanpa memperbaruinya, atau menuruti model mutakhir dan mengadopsi institusi-institusi modern.

Sekalipun Zaim mampu memberikan contoh konkret namun memiliki kelemahan dalam hal cara pandang sosiologi sejarah. Banyak catatan sejarah yang bersandar pada teks (hadist) ketimbang fakta praktek (sunnah) kehidupan Madinah di jaman nabi. -Perlu diketahui, Zaim sendiri sebenarnya menolak banyak konsep hadist sebagai rujukan dan memilih sunnah (laku) sebagai basis analisanya.-

Tapi harus jujur kita akui, bahwa cara pandang lain yang ditunjukkan Zaim adalah bagian dari proses penyegaran wacana. ‘Kelainan’ Zaim dalam melihat persoalan sejarah dan cara pandang terhadap kapitalisme melalui ide amal madinah ini jarang dianalisa secara mendalam oleh intelektual muslim di Indonesia.

‘Kelainan’ yang lain juga ditunjukkan Zaim adalah bahwa ide amal madinahnya ternyata berisi muatan kritik yang tajam terhadap gerakan-gerakan Islam di Indonesia. Bahkan kalau kita berpikir lain seperti Zaim kelompok-kelompok pengusung syariah di Indonesia itu termasuk kelompok yang tidak memperjuangkan syariat Islam secara ‘benar.’

Akhirul kalam, dalam Islam sendiri ada dua jenis ilmu. Pertama, ilmu yang sifatnya wacana (tidak harus diamalkan), kedua, ilmu yang wajib diamalkan. Nah, ilmu yang ditulis Zaim seandainya tidak realistis diterapkan sebagai ilmu amal, minimal sebagai ilmu wacana. Selamat membaca. Faiz Manshur/21 Pebruari 2008.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s