Jalan Kemurnian Menemukan Objektivitas Hukum

Standar

Judul: Teori Hukum Murni/Judul asli: Pure Theory of Law/Penulis: Hans Kelsen/Penerjemah: Raisul Muattaqien/Penerbit: Nuansa Cendekia & Nusa Media (anggota IKAPI) Bandung/Cetakan: 2008/Tebal: IX + 408 halaman

Sebagaimana lazimnya cabang ilmu pengetahuan, hukum bisa dilihat secara terpisah dari ilmu sosiologi, sejarah atau ekonomi. Tapi apa jadinya jika terpisah dari keadilan?

Setiap kita membahas satu bidang ilmu pengetahuan, dipastikan menyertakan bahasan bidang lain. Dalam bidang hukum misalnya, tiada mungkin pembicaraan akan berlangsung lama jika tidak menyertakan pandangan sosiologi, politik, agama, sejarah dan ekonomi.

Hal ini wajar, mengingat kemunculan setiap bidang ilmu pengetahuan dipastikan terkait dengan sejarah dan kondisi sosial tertentu. Dalam bidang hukum misalnya, sejarah membuktikan, tradisi pemikiran Yudaisme kuno berperan sangat besar dalam membentuk asal-muasal hukum Barat disebabkan karenaa memang hukum sangat perlu menanamkan kewajiban(norma) ke dalam suatu keyakinan mengenai legitimasi kekuasaan.

Adalah Carl Joachim Friderich (1969), yang bisa “memaklumi” kecenderungan itu. Ahli filsafat hukum dari Universitas Cambridge ini berpendapat, bahwa nomos (hukum) dan jus (undang-undang) Yunani dan Romawi diberlakukan karena keyakinan dalam masyarakat polis masih ada. Polis itu sendiri dibentuk oleh nomos dan jus, sebab masyarakat Yunani saat itu berkeyakinan terhadap kearifan heroik seorang legislator masa silam, baik itu Solon, Lycurgus, maupun 12 murid Yesus.

Kalau begitu, adakah tempat di mana hukum kita bicarakan secara independen tanpa menyertakan bidang lain dalam membedah hukum itu sendiri? Bisakah hukum kita bicarakan dalam konteks yang murni?

Saya kira tidak ada orang senekad Hans Kelsen. Melalui Pure Theory of Law, (teori hukum murni). Profesor Universitas Berkeley California ini tidak hanya berani memisahkan hukum dari bidang sosial, politik, ekonomi, nilai dan norma, melainkan juga mampu memberikan argumentasi pemisahan hukum dari perspektif keadilan.

“Teori hukum murni” sengaja dipakai Hans sebagai doktrin,-sebagai cara membebaskan ilmu hukum dari segala unsur yang asing bagi metode khusus dari suatu ilmu yang tujuannya hanyalah pengetahuan tentang hukum, bukan pembentukannya (hlm. 20)

Ilmu pengetahuan, kata Hans, harus menjabarkan tujuannya sebagaimana adanya, bukan menyarankan bagaimana objek itu seharusnya atau tidak seharusnya dari sudut pandang beberapa pertimbangan nilai tertentu. Namun Hans memberi catatan, bahwa kemurnian hukum yang dimaksud juga tidak sebagaimana dimengerti dalam ilmu alam atau sains. Katanya, “Jika dianggap perlu untuk memisahkan ilmu hukum dari ilmu politik, maka tidak kalah perlunya untuk memisahkan ilmu hukum dari ilmu alam.”(hlm. vii)

Di sini Hans menganggap bahwa menentukan realitas khusus dari subjek dan menunjukkan perbedaan antara realitas hukum dengan realitas alam adalah tugas yang paling sulit (hlm vi). Sebab menurutnya, realitas hukum tidak mengejawantahkan dirinya sendiri dalam perilaku nyata individu-individu yang tunduk kepada tatanan hukum tersebut.

Dalam pandangan Hans, perilaku manusia bisa saja selaras dan bisa juga tidak selaras dengan tatanan,-yang keberadaannya merupakan realitas. Berkebalikan dengan tatanan alam, tatanan hukum menentukan perbuatan yang harus dilakukan manusia. Pendeknya, ia merupakan sebuah norma, sebuah tatanan normatif.

Bagi Hans, permurnian ilmu hukum juga harus masuk ke wilayah pemisahan hukum dan keadilan. Teori hukum murni perlu dihadirkan bukan untuk memurnikan dari unsur lain kemudian mengembalikannya kepada hal-hal yang transendental. Di sini Hans benar-benar melakukan dekonstruksi secara radikal. Pengertian tentang hukum identik dengan keadilan tidak lebih sebagai pengertian sejarah.

Hans tidak berlebihan. Sejarah ilmu hukum memang tidak lepas dari hubungan manusia dengan transendensi di masa silam. Masyarakat sejak zaman Yunani kuno mengenal hukum dan hukuman secara konseptual berakar dari gagasan tentang keadilan. Dan, karena itu, Tuhannya kaum Yudaisme kuno umumnya merupakan dewa keadilan.

Sebagaimana dalam pandangan Carl Joachim Fridrich, dari gagasan utama keadilan dalam pemikiran Yudaisme kuno ini, berkembanglah sikap yang diekspresikan secara mengerikan dalam kutukan Perjanjian Lama. Ketika dihadapkan pada sang hakim sejati, yakni Tuhan, manusia mesti membela dirinya dengan mamatuhi hukum, dan dia harus menebus dosa-dosa dengan hukuman yang setimpal.

Di sini sangat penting memahami alasan Hans bahwa “teori hukum murni” tidak berupaya memahami hukum sebagai anak dari orang tua ilahiah, melainkan membedakan secara tegas antara hukum empiris dengan keadilan transendental.

Namun demikian, bukan berarti Hans serta merta memandang hukum bisa lepas dari keadilan. Konteks hukum lepas dari keadilan di sini pengertiannya tentu sebatas dalam konteks ilmu hukum, sedangkan dalam praktek hukum, Hans justru ingin membuktikan bahwa keadilan itu sendiri adalah sesuatu yang mesti dijunjung tinggi. Untuk menjunjung tinggi hukum yang adil ini, Hans memberikan pelajaran melalui buku ini agar orang melihat hukum secara murni.

***

Ambisi Hans menulis buku setebal 408 halaman hanya untuk membahas hukum murni ini tentu bukan tanpa alasan. Hans melihat, bahwa sejak abad 19 hingga 20, ilmu hukum sudah menjauh dari dalil kemurnian. Ilmu hukum telah campur aduk dengan unsur-unsur psikologi, sosiologi, etika dan teori politik.

Namun demikian, tentu saja tujuan menulis buku ini bukan sebagai cara “puritanisasi” ilmu hukum dari ilmu pengetahuan lain, melainkan lebih pada tujuan mewacanakan kembali nilai-nilai dasar hukum sebagai ilmu. Dengan kata lain, buku ini memberikan jawaban atas pertanyaan apa itu hukum dan bagaimana ia ada, bukan bagaimana semestinya ada.

Buku ini tidak saja menghadirkan sisi ilmiah tentang hukum, melainkan mampu membawa pikiran pembaca ke arah pemahaman yang lebih mendasar tentang kedudukan hukum yang sepanjang sejarahnya tidak lepas dari keterkaitannya dengan negara, agama, norma, dan keadilan. Kalau bicara kelemahan, barangkali letaknya pada cara penyampaian yang terlalu filosofis-abstrak sehingga membuat energi berpikir pembaca akan banyak terkuras.Faiz Manshur/Bandung 6 Mei 2008

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s