Kelayaban Menafsir Budaya Orang

Standar

Judul Buku: Menyusuri Lorong-Lorong Dunia (Jilid 2)/ Penulis: Sigit Susanto/Penerbit: Insist Press,  I Maret 2008/Tebal: xvi+ 478 Hlm.

Mengenal budaya orang adalah salah satu cara yang baik untuk mengenal budaya sendiri. Pluralitas sebanyak kenyataan dunia menyadarkan orang pada kesadaraan tertentu; beragam nilai dan norma hampir dipastikan tidak lagi menempati posisi dalam konteks hirarki; karena masing-masing memiliki latar belakang tersendiri.

Bahkan dalam konteks modernitas yang paling landas, rasional dan irasionalitas dalam kebudayaan pun tidak serta merta diklaim sebagai sesuatu yang standar.

Inilah kebudayaan. Inilah keragaman; kenyataan di mana setiap sendi-sendi kehidupan umat manusia hadir untuk kita kenali sebagai kenyataan. Menikmati kenyataan keragaman inilah yang menjadikan buku Menyusuri Lorong-Lorong Dunia (Jilid 2) ini mampu menampilkan kekayaan khasanah budaya negeri orang.

Penulisnya, Sigit Susanto, orang Kendal Jawa Tengah yang gemar melancong sambil menuliskan kisah perjalanannya. Buku kedua ini adalah kelanjutan dari Buku MLLD pertama (2006) yang cukup memukau para pecinta kisah perjalanan dan pecinta kajian budaya.

Kalau di buku pertama Sigit menyuguhkan kisah perjalanannya di 21 negara, pada buku kali ini hanya beberapa negara saja, yakni, Cina, Maroko, Vietnam, Irlandia, Hongaria, Portugal dan kisah dari Swiss, negara tempat sang penulis bermukim sekarang.

Sekalipun hanya delapan negara yang diceritakan, namun tebal halaman edisi kedua ini melebihi edisi pertama. Hal ini karena pada setiap bagian kisah yang diceritakan lebih detail dan ditambahkan rujukan wacana. Tak heran kalau kemudian buku ini nampak serius dalam menjelaskan setiap fenomena yang dipotret sang penulis.

Serius? Bagaimana itu mungkin? Bukankah buku ini lahir dari sebuah proyek yang tidak serius?

Perjalanan yang dilakukan Sigit bersama Istrinya pada setiap masa cuti yang diambil memang tidak serius. Namun kedalaman tafsir kebudayaan dalam buku ini tak bisa dianggap banyolan.

Berangkat dari paradigma kritis ekonomi-politik ala cultural studies, Sigit menafsir lokalitas suatu daerah sebagai sesuatu yang “dimaklumi“; karena pada prinsipnya budaya adalah getah dari artefak dasar ekonomi.

Melalui penafsiran simbol-simbol sejarah dan simbol kebudayaan, Sigit berhasil memainkan suatu ulasan kondisi kebudayaan beberapa bangsa bekas komunis yang akhir-akhir ini sedang menggeliat ke arah penguatan sistem pasar kapitalisme.

Sebagaimana kita ketahui, simbol-simbol kebudayaan adalah salah satu kunci yang efektif dalam rangka membuka khazanah kebudayaan. Barangkali kita masih ingat dengan teori ’thick description’ yang pernah diperkenalkan antropolog Clifford Geertz (1992).

Melalui penafsiran simbol-simbol di suatu masyarakat, pengenalan atas sejarah, pandangan hidup, ideologi dan pola pikir masyarakat bisa dipotret secara baik,-bahkan lebih baik ketimbang menggali khasanah melalui pelaku budaya itu sendiri.

Tafsir negeri

Ada empat negara yang cukup baik kita pelajari dari tafsir simbolis kebudayaan Sigit. Hongaria. Negeri ini nampaknya memiliki panorama sejarah yang luar biasa banyak. Berbagai museum, patung, dan bangunan-bangunan sisa-sisa kekuasaan Ustmaniah (Turki) abad 16 hingga rezim komunis sangat berharga sebagai mata pelajaran peradaban bagi umat manusia.

Dari berbagai barang masa lalu di museum yang terkumpulkan secara baik di sana, persepsi kehidupan masa lalu Hongaria bisa direkam melalui pena dan tafsir,-tentu saja dilengkapi dengan berbagai referensi pendukung.

Di Cina lebih mudah lagi menafsir kehidupan masyarakatnya. Negeri yang lumayan banyak kita kenal melalui berbagai pemberitaan dan bacaan serta cerita-cerita dari orang Cina yang kita kenal, membuat Sigit tertantang lebih kreatif mencari sisi-sisi baru tentang kehidupan di Cina sekarang ini.

Sekalipun kesimpulan Sigit tentang negeri Tirai Bambu ini sama dengan persepsi mainstream; bermuka dua (Komunisme yang Kapitalistik), namun Sigit menyertakan keseimbangan cerita rakyat miskin di Cina.

Jika selama ini kita hanya tahu ikon-ikon Cina sebagai sang naga maha digdaya dalam hal ekonomi, namun sejatinya kondisi riil di lapangan kontradiktif. Kemiskinan, keterbelakangan rakyat pedalaman yang selama ini luput disajikan media bisa kita dapatkan dari buku ini.

Lain Cina, lain pula Vietnam. Negeri tetangga yang tidak asing ini ternyata memiliki kisah-kisah unik di masa lalu, terutama jaman kemerdekaan nasional. Kalau pengenalan kita selama ini sebatas soal ekonomi, politik dan olahraga, melalui buku ini kita dikenalkan kepada sebuah simbol sejarah bernama Paman Ho.

Paman Ho adalah tokoh terkemuka Vietnam karena kegigihannya memperjuangkan nasib rakyat. Tokoh nasional Vietnam bernama asli Nguyen Sinh ini kurang lebih setara dengan Ir. Sukarno di negeri kita. Melalui sejarah Paman Ho, kita akan memasuki sebuah pesona tentang kegigihan orang-orang Vietnam dalam memperjuangkan nasib hidupnya.

Jika letak perbedaan etos kerja antara orang Indonesia dengan Vietnam,-yang konon lebih progresif dibanding orang Indonesia,- barangkali dengan cara menafsir sejarah dan kebudayaan Vietnam itulah kita akan mengenal karakter perbedaannya.

Jalan-jalan ke Maroko, Sigit menemukan sebuah pesona lain dari sebuah negara bangsa muslim tua yang berbeda dengan Mesir, Sudan maupun Aljazair. Maroko dalam pandangan Sigit nampaklah sebuah pesona kaum muslim yang lebih egaliter dan humanis.

Pengalaman sejarah buruk politik di era diktator memiliki makna intelektual bagi kelas menengah. Beberapa intelektual di negeri itu justru lahir di era kediktatoran. Salah satu tokoh terkemuka adalah yang kita kenal, yaitu Fatima Mernisi, cendekiawan muslim yang memperjuangkan hak-hak kesetaraan kaum hawa.

Pesona sastra

Sisi lain dari potret kebudayaan, pesona kota dan pedesaan dalam buku ini adalah kajian sastra. Sebagai pecinta sastra agaknya Sigit secara tidak sadar telah memasukkan kajian sastra setiap negara yang dikunjunginya agak berlebihan. Seolah-olah dengan sastra kita akan mengenal bangsa.

Bagi pecinta sastra tentu saja buku ini adalah nilai lebih karena dengan begitu akan mengenal banyak penulis, aliran, model kesusastraan dan lain sebagainya. Satu hal yang cukup menarik adalah tulisan panjang tentang seorang sastrawan terkemuka bernama James Joyce dengan berbagai karyanya.

Novel besar Ulysses yang sangat terkenal di Eropa tersebut ternyata belum banyak dibaca orang Indonesia. Saking merasa pentingnya memperkenalkan Ulysess, Sigit menyempatkan mengejar kehebatan James Joyce hingga ke Dublin, Irlandia.

Ragam kehidupan bangsa yang terekam dalam buku pertama maupun kedua nampaknya sedang menguji kesungguhan Sigit menjadi pelancong sekaligus penafsir kebudayaan.

Dari sisi jurnalistik buku ini memiliki kualitas yang cukup baik. Unsur-unsur reportase di bagian-bagian tertentu dalam buku ini meyakinkan pembaca akan fakta lapangan. Corak penulisan bebas ekspresi membuat imajinasi penulis lebih lepas. Buku yang sangat menarik dibaca oleh mereka yang gemar kelayapan, sastrawan dan pecinta kajian budaya. Selamat membaca! (FAIZ MANSHUR/Bandung 8 Juni 2008)

One thought on “Kelayaban Menafsir Budaya Orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s