Masa Lalu Fasisme Hindia Belanda

Standar

Judul Buku: Orang dan Partai Nazi di Indonesia/(kaum pergerakan menyambut fasisme)/Penulis: Wilson. Pengantar: Hilmar Farid/Penerbit: Komunitas Bambu, Jakarta, Mei 2008/Tebal: xviii+ 210 halaman

Dalam khazanah ekonomi-politik marxian, kita mengenal istilah struktur dan suprastruktur untuk melihat kondisi sebuah masyarakat. Istilah struktur ( corak dan hubungan produksi ekonomi) dijadikan pijakan dasar untuk melihat perkembangan suprastruktur; ideologi, politik, sosial, agama, seni dan kebudayaan. Pendek kata, maju-mundurnya sebuah masyarakat pun bisa dilihat dalam konteks hubungan corak produksi yang berkembang.

Bagaimana kita melihat gejala kekerasan yang berkembang di sebuah negara? Lebih jauh lagi, bagaimana kita melihat kenyataan sebuah bangsa secara mayoritas ternyata menyukai ideologi yang pro-kekerasan, anti demokrasi dan mengumbar rasisme?

Kemunculan dan perkembangan fasisme misalnya, bisa kita lihat secara jelas disebabkan oleh krisis ekonomi dan politik dalam rentang waktu yang panjang. Pemerintahan yang sebelumnya dikenal baik dan demokratis pun ketika menghadapi masalah ini akan mengalami delegitimasi.

Akibatnya, rakyat akan mencari pemimpin yang efektif, berani menjanjikan perubahan dan mampu melayani kebutuhan rakyat secara pragmatis. Bentuk pemerintah tidak dijadikan persoalan oleh masyarakat,- termasuk ketika pemerintah menindas hak asasi manusia dan kebebasan. Sebab yang terpenting di sini adalah kebutuhan dasar rakyat terpenuhi.

Sejarah fasisme sendiri tidak lepas dari kondisi struktur masyarakat yang sedang mengalami krisis gawat. Fasisme memiliki dasar filosofi fascio (Italia), fascis (Latin), yang berarti seikat tangkai kayu.

Di tengah kayu ini terdapat kapak pada zaman Kekaisaran Romawi. Fascis ini merupakan simbol dari kekuasaan. Dengan kata lain, kekuasaan politik fasis adalah diktator; ekonomi, politik, sosial, seni, budaya, hingga agama semuanya harus berjalan sesuai dengan selera penguasa.

Berbicara fasisme, pikiran kita secara otomatis akan menerawang ke masa lalu di negeri orang. Sejarah fasisme seolah-olah milik bangsa Jerman, Spanyol, Italia dan Jepang. Namun melalui buku ini, Wilson, alumni Fakultas Sejarah Universitas Indonesia mampu membukakan mata kita untuk mengenal masa lalu fasisme di negeri ini.

Fasisme Hindia-Belanda

Munculnya politik fasisme di negeri ini dimulai sejak kemenangan Partai Nazi Jerman yang memenangkan Pemilu 1933. Hasil studi Wilson membuktikan, kemenangan ini menjadi “pegangan politik baru bagi kaum Indo di negeri jajahan Hindia-Belanda.”(hlm 18)

Dari sisi “psikologi-politik”, Wilson melihat, menjelang Perang Dunia II Hindia-Belanda terdapat suatu kondisi di mana stratifikasi rasialnya menyediakan bibit-bibit subur bagi fasisme. Sebagian kaum Indo memandang ide-ide fasisme merupakan suatu harapan untuk tetap menjaga kepentingan ekonomi mereka dalam arus perubahan politik dunia. (hlm 102).

Pada tahun ini juga muncul partai fasis di Hindia-Belanda, yakni Nederlandsch Indische Fascisten Organisatie (NIFO), Facisten Unie (FU). Pengaruh fasisme yang begitu kuat di masa krisis saat itu juga menghipnotis kalangan bumi putera. Bulan Juli 1933, Partai Fasis Indonesia (PFI) berdiri.

Dr. Notonindito, bekas anggota PNI (lama) asal Pekalongan adalah tokoh teras pendiri partai fasis ini. Ide dasar pendirian PFI ini memang agak unik karena tidak didasarkan kepentingan ideologi, melainkan oleh cita-cita pembangunan kembali kerajaan-kerajaan Jawa seperti Majapahit dan Mataram, Sriwijaya di Sumatera, dan kerajaan-kerajaan di Kalimantan.

Gema fasisme yang melanda dunia menuai respon beragam dari kalangan pergerakan di Indonesia. Kelompok PNI Baru, PKI dan Partindo adalah kelompok yang menentang gigih fasisme. Alasan dasarnya karena fasisme adalah benteng terakhir dari kapitalisme untuk mempertahankan diri dari krisis ekonomi dan politik (Hlm 178).

Sedangkan di luar kedua kelompok ini, Wilson menilai kaum pergerakan “kebingungan” dalam merespon fasisme. Kelompok PSII dan Parindra misalnya, karena percaya ramalan politik Jayabaya menganggap fasisme Jepang sebagai “saudara tua” yang akan membebaskan bumiputera dari belenggu kolonialisme Belanda.

Istilah “Indonesia Raya” dan “Indonesia Mulia” yang getol dikampanyekan oleh Parindra misalnya, mengingatkan kita pada ide “Jerman Raya” milik kaum Nazi Jerman yang mengakibatkan pembantaian jutaan orang Yahudi. (Hlm 179). Bahkan Agus Salim melihat potensi fasisme sebagai solusi mengusir kolonial.

Tren politik fasis rupanya bukan hanya melanda kaum Bumi Putera. Kalangan Indo di Hindia-Belanda yang sedang dilanda krisis pertarungan politik dengan kalangan pergerakan bumi putra dan tekanan fasis Jepang juga merasa ingin cepat keluar dari krisis dengan harapan kadatangan dewa fasisme. Di Solo misalnya, pada tahun 1933 pernah dibentuk organisasi Anti Inlander Clud untuk melindungi kepentingan kaum Indo.

Sementara kaum kaum fasisme Jepang di Hindia-Belanda yang tergabung dalam NIFO nampak paling agresif bergerak melakukan rapat-rapat akbar (vergadering). Aksi agresif NIFO ini mendapat reaksi keras dari Pemerintah Hindia-Belanda. Beberapa kali aksi NIFO dihentikan secara paksa oleh pemerintah. Sekalipun NIFO tergolong menyerang pemerintah anehnya kalangan pergerakan Bumi Putera yang anti fasisme tidak tertarik melakukan perjuangan bersama, melainkan justru menentang setiap propaganda NIFO.

Fasisme non partai

Terlepas dari kegagalan fasisme di Indonesia, kenyataan sejarah sebagaimana di catat Wilson pada bagian akhir buku ini menunjukan bahwa politik yang berdasarkan “pengultusan ras, darah, dan kebangsaan pada akhirnya memunculkan bentuk tragedi kemanusiaan yang mengerikan dalam fasisme dan nasional sosialisme.” (hlm 180).

Benar bahwa fasisme lama tinggal catatan sejarah. Terbukti tidak organisasi atau negara yang menganut fasisme lagi. Namun, sebagaimana kekhawatiran Mansour Fakih (Alm) delapan tahun silam, krisis gawat yang terus melanda negeri ini tidak mustahil menjadi bibit-bibit persemaian fasisme. Hal ini bisa dibuktikan oleh fakta berbagai organisasi yang gemar mobilisasi massa, arak-arakan, dan gemar melakukan tindak kekerasan untuk memaksakan kehendaknya.

Hal yang mengkhawatirkan, gerakan itu muncul dalam praktek politik keagamaan. Simbol keagamaan digelar. Teriakan jihad dikumandangkan. Agama yang selama ini dikenal sebagai piranti kohesifitas budaya berubah menjadi alat propaganda khas fasisme.

Rekaman sejarah yang ditulis secara objektif dengan penafsiran yang cerdas ternyata mampu menjadikan masa lalu nampak dekat dengan kenyataan masa kini.

Buku ini juga mengisyaratkan kepada kita, bahwa fasisme yang mengancam kehidupan umat manusia itu tidak selalu berupa partai atau gerakan militer, melainkan juga dalam hal cara berpikir, mengambil sikap, berorganisasi, bahkan dalam hal berdakwah.Faiz Manshur/Bandung 29 juni 2008

 

2 thoughts on “Masa Lalu Fasisme Hindia Belanda

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s