Ketika Ajip “Melukis” Affandi

Standar

Judul Buku: 100 Tahun AFFANDI/Penulis: Ajip Rosidi/Penerbit: Nuansa Cendekia Bandung I April 2008/Tebal: 144 Halaman/

Affandi; sebuah nama yang mudah diingat, dikenal dan dikenang. Mendengar nama Affandi, pasti pikiran kita akan langsung tertambat pada seorang pelukis besar yang dimiliki bangsa ini,- bukan Kang Pandi, mas Fandi atau Afandi yang lain. Nama besar Affandi bukan hanya dikalangan pecinta lukis, melainkan dikenal hingga kalangan awam sekalipun. Namun, apakah dengan begitu sosok kehidupan Affandi sudah dikenal seluruhnya?

Ajip Rosidi, seorang penulis besar yang kebetulan cukup dekat mengenal pribadi Affandi mengajak kita melihat „lukisan sang pelukis melalui karya “100 Tahun Afandi. Melalui “lukisan” Ajip ini, kita akan mengenal sosok Affandi secara ringkas, padat dan deskriptif dari seorang seniman kebanggaan bangsa Indonesia.

Sekilas buku ini memiliki pesona sebagai karya apresiasi terhadap lukisan karena di dalamnya banyak dijejali foto-foto lukisan karya Affandi yang dikemas secara eksklusif.

Namun kalau kita tuntas membacanya, maka pada akhirnya buku ini berwujud biografi murni yang ditulis dengan tujuan mengenal sosok seorang Affandi dalam menapaki jalan kehidupannya sebagai seorang pelukis, seorang ayah dan pekerja yang baik.

Cinta keluarga

Perjalanan hidup seorang tokoh sekaliber Affandi biasanya digambarkan seruwet campuran air tinta lukisannya. Di berbagai ulasan media cetak, kehidupan Sang Maestro sering digambarkan “Hidup serba kekurangan“ dan “modal nekad“ untuk meraih sukses sang pelukis kelahiran Cirebon 1907 ini.

Namun dalam buku ini kesan itu bisa jadi nyaris tidak ada. Di mata Ajip, Affandi adalah seorang yang tekun, gigih dan bekerja untuk pengabdian. Pola hidupnya pun tidak sebagaimana lazimnya seniman kebanyakan yang cenderung eksistensialis atau “besar kepala“ untuk kelangsungan karirnya. Affandi dalam buku ini lebih menampilkan sosok yang bersahaja dengan pola pikir hidup yang baik dan tujuan yang realistis.

Bermula dari bakat alamnya gemar melukis apa saja, Affandi kecil di sekolahnya terus menyalurkan hobinya menggambar apa saja. Gambar wayang menjadi kenangan yang paling berharga pada masa-masa proses kreatif dirinya.

Ia gemar menggambar wayang di atas tanah, kemudian pada batu tulis dan kertas dengan potlot di sekolahnya. Kelak pengaruh ‘wayang’ inilah yang konon mempengaruhi ciri khas lukisan Affandi; berkelok-kelok seperti bentuk tubuh wayang kulit.

Lulusan HIS Cirebon, MULO Bandung, dan Jebolan AMS-B Jakarta, suami dari Maryati ini pada kemudian hari menunjukkan talenta besarnya sebagai pelukis nasional yang mendunia. Tapi kesuksesan besarnya tentu tidak turun dari langit begitu saja. Ia menjadi teguh karena keyakinan dalam memproses, bukan karena kesuksesan masa depan.

Sebagaimana lazimnya pada masa itu, bidang seni lukis belum menampakkan masa depan yang baik. Namun karena pekerjaan ini dianggap sebagai panggilan hidup, Affandi tetap melangkah terus untuk menyusuri lorong kehidupan seni lukis.

Saat usia 26 tahun, bersama istrinya yang telah melahirkan sang anak, Kartika, Affandi pindah ke Bandung. Di sini ia merantau untuk melanjutkan kehidupannya sebagai penulis. Kondisi ekonomi keluarganya dipenuhi dengan cara bekerja sebagai tukang gambar reklame bioskop “Elita“ dekat alun-alun kota Bandung.

Agar kesempatan untuk melukis terus terlaksana, ia membuat konsep hidup “minimum“, yakni membagi hari selama satu bulan menjadi dua. Sepuluh hari pertama digunakan untuk bekerja mencari nafkah keluarga. Dengan penghasilan kerja ini tentu bisa dibayangkan kesederhanaan hidup keluarga Affandi. Sedangkan pada 20 hari berikutnya, aktivitasnya digunakan untuk melukis penuh.

“Dia lebih mendahulukan keluarganya, daripada melukis,“ tulis Ajip (hlm 33). Kalau ada keluarganya yang sakit, Affandi akan membawanya ke dokter dan menunda maksudnya untuk melukis. Ia menolak faham “seni untuk seni“ (I’art pour I’art) dan memilih jalan, seni untuk kemanusiaan.

Kreatif tanpa teori

Saat di Bandung Affandi juga bertemu dengan para pelukis lain seperti Sudjojono, Barli, Wahdi, Hendra Gunawan, Abedy, Sudarso dan Basuki Abdullah. Nama yang terakhir ini ditemui oleh Affandi karena Basuki Abdullah kebetulan sedang singgah di Bandung setelah belajar dari Belanda.

Kedatangan Affandi maksudnya untuk belajar dengan Basuki karena kalau harus ke Belanda hampir pasti tidak mungkin. Namun setelah jumpa Basuki dan melihat gaya hidup dan lukisannya, Affandi merasa tidak cocok dengan seni lukis Basuki. Ia pun kembali belajar otodidak bersama kawan-kawannya di Gang Wangsareja Bandung.

Satu hal yang unik dari Affandi adalah ketidaksukaannya pada teori dan aliran tertentu. Sebagai pelukis otodidak, Affandi nyaris mengabaikan corak dan aliran dalam seni lukis. Prinsip yang pernah dikatakan kepada Ajip katanya, “Melukis itu seperti naik sepeda. Kalau sudah bisa naik sepeda, tinggal kayuh saja. Orang bisa mengendarai naik sepeda tanpa menggunakan pikiran sampai ke arah tujuan.“ (hlm 31).

Dalam semua proses kreatif seorang seniman pasti terikat dengan intuisinya. Affandi dalam hal ini juga sepenuhnya bergantung pada intuisi. Baginya, kehadiran objek sangat penting selama menulis, namun bukan untuk ditiru sepenuhnya, melainkan supaya emosinya bangkit dan mampu mengekspresikan secara baik dalam kanvas.

Melukis baginya sebagaimana ia lapar. Paling seseorang merasa enak makan saat lapar menyerang, Affandi pun merasa demikian. Saat tidak ada rangsangan melukis, ia tidak memaksakan diri. Namun begitu “lapar” untuk melukis, ia pun tidak menunda dan fokus hingga rangsangan “lapar melukis hilang.“

Sang Maestro ini biasanya melukis objek sampai selesai dalam waktu satu jam, kadang setengah jam saja. Seperti para penulis yang hendak mengeluarkan seluruh idenya saat mood datang, Affandi seringkali kecapaian setelah sejam melukis.

****

Selain kisah perjalanan dan kisah lika-liku dalam kanvas, Ajip dalam buku ini tak lupa menceritakan kehidupan Affandi di usia senja; hubungan keluarga yang terjaga baik, pola pikir yang realistis dalam memandang harta, serta perkawanan baiknya dengan setiap orang membuat diri Affandi kokoh menjalani hidup.

Buku ini bisa dikatakan sukses mengantarkan pembaca untuk memahami sosok Affandi beserta proses kreatif serta beberapa hal yang penting semasa kehidupan Affandi. Ajip mampu memberikan ulasan yang ringkas dan jauh dari tendensi-tendensi atas diri seorang tokoh yang begitu terkenal.

Melalui buku ini, pengenalan kita terhadap sosok Affandi akan efektif; hanya butuh waktu 2-3 jam untuk menyelesaikan buku biografi ini. Selanjutnya menikmati foto-foto karya lukis sang maestro.

Kalau Affandi mampu melukis kehidupan, melalui pena Ajip mampu melukiskan kehidupan Affandi.(Faiz Manshur). naskah ini pernah dimuat majalah Gatra edisi  Juli dengan pemotongan. Ini adalah edisi aslinya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s