Puasa Kuasa

Standar

Ramadan datang lagi. Sebulan penuh umat Islam akan mengarungi bahtera kehidupan yang lain. Sekalipun kehadiran Ramadan sudah akrab di masyarakat kita, namun tetap saja nuansa asing dan sakral tetap kuat. Inti Ramadan adalah saum (puasa), tapi ramadan itu sendiri bukan semata puasa. Wacana tentang nafsu menempati posisi sentral dalam Ramadan. nafsu dimiliki manusia adalah bingkai kemanusiaan dari manusia itu sendiri. Tapi nafsu yang tiada kontrol akan menjerumuskan manusia ke jurang in-human. Karena itulah puasa diwajibkan.

Nafsu kuasa

Nafsu makan-minum dan seksual seringkali menjadi sasaran kekangan yang paling mendasar dibicarakan setiapkali ramadan hadir. Benar bahwa perang terhadap hawa nafsu dalam konteks tersebut sangat penting agar manusia mencapai derajat kemanusiaan yang kualitatif. Sayangnya kita sering lupa akan pentingnya membicarakan ihwal nafsu kekuasaan.

Kalau kita berpijak dari kerangka dasar wacana al-Quran tentang sisi kehidupan umat manusia, barangkali kekuasaan sangat penting dibicarakan berkaitan dengan ramadhan.

Dalam al-Quran dikatakan “manusia berkeinginan akan cinta syahwat terhadap wanita, anak-anak. Kekayaan yang melimpah ruah dari emas dan perak, kuda pilihan, binatang ternak dan sawah ladang. Semuanya adalah kesenangan dunia” (QS 3:14).

Di sini memang kekuasaan politik tidak dibahas secara eksplisit. Namun kalau kita sedikit jeli dengan konteks kehidupan manusia sepanjang sejarah, maka kecintaan manusia terhadap semua hal di atas paling mudah dilakukan oleh mereka yang memiliki kekuasaan.

Mereka yang kaya, para saudagar ketika menduduki kekuasaan semakin kaya. Begitu pula yang miskin, mendadak bisa kaya raya dalam waktu yang relatif singkat. Imbasnya adalah perilaku penguasa yang kelewatan dalam mengumbar hawa nafsu.

Hidup bergelimang harta dengan segala kemudahan dari fasilitas membuat orang semakin kalap untuk mengejar kesenangan. Gelora syahwat pun menjadi kegiatan yang seolah-olah harus dilakukan. Akibatnya mereka lupa tujuan dari kekuasaan politik itu sendiri.

Kekuasaan adalah sarana strategis untuk melakukan memperoleh aneka ragam yang dicintai manusia tersebut. Karena itu tak jarang kalau saat musim menjelang persiapan pemilihan umum seperti ini nafsu-nafsu untuk meraih kekuasaan sedang menggurita. Para bakal calon legislatif sedang giat menggalang dukungan kepada kawan-kawannya, melobi para petinggi partai agar dirinya menempati posisi nomor urut di daerah pemilihannya.

Kasak kusuk politik pun muncul di antara kawan-kawan separtainya. Ada yang marah karena dalam Daftar Pencalonan Sementara (DCS) si A dianggap tidak layak mendapat “nomor cantik” oleh si B. Sedangkan si A sendiri merasa layak karena si B kurang layak; dengan berbagai alasan.

Masing-masing punya alasan sendiri untuk menyatakan dirinya sebagai orang yang paling pas menempati nomor urut pertama. Permainan saling gasak terhadap teman se-partai menjadi hal yang lumrah.

Mereka yang kurang ambisius mudah digagalkan oleh mereka yang kuat nafsu kekuasaannya. Saking ambisinya, pelaku politik ini tidak ingat lagi bahwa jabatan adalah amanat berat yang memiliki tanggungjawab besar baik kepada manusia maupun kepada Tuhan.

Demi nafsu berkuasa, fitnah menjadi salahsatu strategi agar teman yang lain tergusur dan dirinya lebih mudah mendapat kekuasaan. Demi kekuasaan, praktek suap (jual beli) kursi sudah menjadi barang lumrah dan seolah-olah halal di masyarakat kita.

Pisau kekuasaan

Pada dasarnya, jabatan (kekuasaan) adalah cara yang paling strategis untuk menuju takwa, sebagaimana ibadah puasa. Kekuasaan itu sendiri bukanlah hal yang bertentangan dengan kemanusiaan. Psikolog David Mc Clelland (1998) menganggap manusia memiliki tiga hasrat sosial yang pokok dalam dirinya, yakni hasrat berprestasi, hasrat mendapat kasih sayang dan hasrat kekuasaan.

Dengan kekuasaan perbuatan baik mudah dilakukan dan manfaatnya bisa dirasakan bagi banyak orang. Melalui kekuasaan amal saleh seseorang bisa lebih konkret dan menyasar secara massal. Berbeda dengan amal karikatif di luar kekuasaan yang memiliki keterbatasan.

Sayangnya, kekuasaan itu bak pisau tajam. Sepenuhnya tergantung kepada orang yang memegang pisau. Di tangan orang baik, pisau bisa digunakan untuk mendukung aktivitas rumah tangga yang baik, tapi kalau dipegang orang jahat bisa mudah digunakan untuk melukai dan membunuh orang.

Memegang pisau dalam keadaan pikiran tenang berbeda dengan saat kondisi amarah muncul. Memang kekuasaan dengan nafsu, apalagi memang tujuannya untuk kepentingan jahat (memperkaya diri misalnya) dipastikan akan menjadikan pisau tersebut “melukai” orang lain.

Kekuasaan yang seharusnya menjadi seseorang menjadi sosok satria karena memperjuangkan nasib banyak orang, pada akhirnya berubah menjelmakan seseorang menjadi sosok rahwana. Rahwana adalah simbol dari sang nafsu yang mencuri perhatian dan waktu satria sehingga menjauhkan manusia dari pencapaian wahyu. Penuh dengan amarah dan nafsu memiliki yang membuat manusia menjauh dari pencapaian.

Puasa kuasa sangat penting dilakukan. Tentu maksudnya bukan menyerukan agar mereka yang sedang berkuasa mundur dari kekuasaan dan yang mereka yang sedang mencari kekuasaan mengurungkan niatnya. Puasa kuasa di sini maksudnya adalah bagaimana mengembalikan pemaknaan kekuasaan (dalam hal ini demokrasi), sebagai pilar aktivitas kegiatan sosial sesuai dengan garis dasarnya, yakni memakmurkan dan mensejahterakan rakyat.

Kuasa agama

Di Harian Suara Merdeka, K.H Mustofa Bisri tahun lalu sudah mengingatkan kita dengan fenomena yang terus berulang setiap tahun dengan refleksinya yang jernih. Ia menulis, “…tengoklah mereka yang karena ingin menghormati Ramadan, lalu ingin memaksa para pemilik warung untuk menutup warung. Mereka lupa bahwa tidak semua orang muslim wajib melaksanakan puasa pada Ramadan. Di sana ada musafir-musafir yang di perkenankan tidak puasa dan perempuan-perempuan yang datang bulan yang malah tidak boleh berpuasa. Maraknya kehidupan beragama secara lahiriah seharusnya diikuti dengan maraknya spiritualitas kaum beragama secara batiniah.”

Kata K.H Mustofa Bisri, kehendak untuk diterima amal kita sering juga disusupi nafsu yang samar, lalu kita menjadi egois; ingin agar amal kita sendiri yang diterima tanpa mengindahkan hak orang lain untuk berkehendak diterima amalnya. Bahkan, sering karena kita terlalu ingin mendapatkan rida Allah, lalu kita mempersetankan hak orang lain untuk menjadi hamba-Nya sesuai kemampuannya.

Kekuasaan baik dalam ranah politik demokrasi maupun kekuasaan di level keagamaan, sosial, hingga organisasi yang paling kecil bisa memberi manfaat, namun sekaligus bisa menjadi madarat jika tidak dijalankan melalui cara yang benar. Karena itu puasa kuasa menjadi penting untuk kita renungkan dalam rangka memaknai puasa ramadan kali ini. Selamat berpuasa. (Faiz Manshur/ Bandung 03 september 2008). Naskah ini dimuat http://www.detik.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s