Sajak-sajak

Standar

Tuhan yang tertelan
-saat khusuk tanpa sembah

yang telah tiada ialah Tuhan
tertelan nafas menuju awan
bersamaku berbaling-baling melangit
melupakan yang fana

bumi yang tertinggal
kabut menggantinya
bukan, bukan janggal
ini kehendak hukum kekal

yang biasa menjadi luar biasa karena dialpakan
yang luar biasa menjadi biasa karena diamalkan

Ia benar kasih berbagi
meniadakan diri
menjelma aku-kau
melupakan kau
menjadi aku

begitulah kasih-Nya
rela dirinya meleburkan menjadi aku
aku-Kau bisa dalam kau
kapan saja kau mewujudkan

yang bebal tak beraku-kau
karena takabur kau merasa mampu tanpa-Nya

26-11-2008

Sang pemimpi

tak ada cinta di kota yang tak berhati
tapi desa tak memberi materi
kita pun pergi
menyusuri arah pelangi

“kenapa harus mengejar materi jika kehilangan cinta,”
katamu ketika kita masih di desa
“kenapa menyembah cinta jika kita perlu materi,”
katamu berubah saat sudah jadi orang kota

memang bukan soal desa atau kota yang kita masalahkan
hati dan pikiran yang merdeka tak kan diperkosa suasana
tetapi terkadang kita lelah dengan semua;
nyatanya hidup adalah perjalanan tak berlautan

suatu ketika aku bermimpi tentang masa depan
sebuah keindahan tanpa petaka
tentang kota yang indah di jauh desa
tentang desa yang jauh di keindahan paronama

pada akhirnya kitalah pejalan itu
pemimpi yang berpindah-pindah ranjang
untuk selalu memimpikan impian

apa kabar kenyataan?

26-11-2008

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s