Tuhan dan Tuan

Standar

Tuhan yang kami pertuankan
Hidup adalah permainan
Tetapi kami menderita jika terus dipermainkan

Sejak kami mengenal ilmu pengetahuan
Kesadaran tumbuh pentingnya menyadari hidup dan kehidupan
Sejak kami harus hidup mandiri
Kesadaran kami arahkan untuk menjadi insan sejati

Lalu,
Kaki kami berjalan menyusuri onak duri
Di padang hidup yang serba tak jelas arahnya.
Pancaroba dengan segenap harapan
Terkadang kami sadar harus menerima jika kelak tak mendapatkan apa yang kami harapkan.
Tetapi itu terkadang Tuhan, sebab kami melihat dengan kepala sendiri banyak orang yang hidup sejahtera melebihi yang diharapkan.

Tuhan yang kami kupertuankan
Engkau begitu konkret sebagaimana makhluk yang bisa kami mintai kepentingan kami.
Karena itu Tuhan
Kami merasa sering bertanya kenapa Kau tak kunjung tahu terhadap nasib kami.
Nasib kami yang terlunta-lunta oleh harapan
Nasib kami yang tersingkir dari peradaban
Nasib kami yang teraniaya oleh kenyataan

Tuhan yang kami pertuankan
Seringkali kami bosan dengan kekuasaanmu yang diam;
Kenyataan buruk kehidupan menjadi pemandangan biasa
Padahal hati nurani kami menolaknya
Tetapi kenapa Engkau berdiam saja?

Tuhan yang kami pertuankan
Akhirnya kami harus sadar bahwa Engkau bukanlah tuan
Sebab tuanlah yang kami perlakukan sebagai Tuhan
Yang selalu memberikan sesuatu tergantung selera dan kepentingannya.

Tuhan yang kami pertuankan
Betapa bodohnya pikiran kami
Menuankan tuhan dan menuhankan tuan
Sampai kami mati demi sahid membunuhi saudara kami sendiri

Di zaman tua serba ketidakpastian ini
Di antara bongkah-bongkah peradaban yang terus menitikkan darah dan air mata kehidupan; Keimanan tanpa akal sehat benar-benar memuakkan. Kaum beriman tak berotak dianggap pahlawan, sedangkan kaum berotak tak beriman berkuasa menggantikan kedudukan tuhan, menjadi tuan-tuan yang dipertuhankan.
Tuhan yang kami pertuankan. Betapa bebal pikiran ini. Hingga tumbuh kedzaliman di lingkungan kehidupan kami.

Tuhan yang tak kami pertuankan
Ternyata hidupmu dalam sanubari
Bercengkrama dalam romantika nurani tak terkatakan
Bersulang anggur sepanjang nafas iman sejati

Ya isa, ya maryam, ya daud ya musa
Ya muhamad berderap
Sejarah hidupnya mengajarkan menjadi insan yang takluk para tuan

Bandung November 2008

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s