Perempuan Berkalung Surban

Standar

pbs-poster1

 

Ceritanya, malam sabtu lalu saya menyempatkan nonton film “perempuan berkalung surban”. Dorongan yang membuat saya masuk gedung bioskop ini karena saya dapat info film ini bercerita tentang emansipasi kaum perempuan di pesantren. Apalagi film ini diangkap dari sebuah novel (yang belum saya baca), yang ditulis oleh Ebidah El-Khailaqi, sastrawati Yogya yang sudah saya kenal sejak saya di Pesantren, sekitar tahun 1993 silam. Selain faktor itu, dorongan lain ialah bahwa saya sedang menulis cerita panjang tentang kehidupan pesantren juga. Iseng-isenglah cari inspirasi. Saya ini tak mahir komentar tentang film, kalau ditanya apakah itu bagus atau tidak, saya kesulitan menjawab. Bagus dari rasa atau dari logika? Jelek dari rasa atau logika? Saya kesulitan menjawabnya. Jadi kesimpulannya, saya ucapkan begini saja:

Cerita itu bagus dan berpijak pada realitas. Tapi saya tak hendak mengatakan realis keseluruhan. Namanya juga karya sastra, antara fiksi dan realita pasti campur aduk. Itu biasa. Realitas yang saya temui pada kasus perempuan seperti tokoh anisa sebenarnya banyak terjadi, yakni seorang perempuan pesantren yang cerdas tapi tak mendapatkan tempat untuk pengembangan intelektualitasnya. Karakter tokoh lain yang patut saya acungi jempol yakni Syamsudin. Dulu waktu masih di pesantren saya ini tak percaya dan kadang marah kalau ada kyai dijelek-jelekkan. Makin jelek kan makin kayak wali. Walijo mangsude….Bener itu Mbak. Banyak kyai yang enggak waras. Ini penyakit. Tetapi agaknya saya harus memberi catatan sedikit soal hubungan pesantren satu dengan pesantren lain itu. Biasanya antar kyai terjadi persaingan kalau pondoknya berdekatan. Masing-masing kyai yang sulit akur biasanya saling menjelek-jelekkan, terutama kalau beda partai. Nah, Mbak Ebidah agaknya lupa memberikan ilustrasi sosiologis seperti ini. (atau setting novel dengan setting filmnya beda..?)

Orang bilang pasti Abidah sedang menjelek-jelekkan pesantren, tetapi saya bilang,- dengan berat hati,- bahwa itu adalah sesuatu yang baik dan perlu. Itu adalah kejujuran. Kita harus mulai berpikir dengan perspektif yang adil. Dan orang pesantren tak usah kebakaran jenggot. Setiap komunitas, setiap kelompok, setiap organisasi ada sisi buruk dan baiknya. Dunia kampus, dunia partai, dunia sosial dan agama pun semua memiliki keburukan, tak terkecuali dunia batin kita semua. Justru dengan kejujuran seperti ini kita membuka mata hati untuk bebersih diri. Ada banyak kyai brengsek seperti itu. Tak alim, tak memiliki standar moral yang baik tetapi hanya karena ia anak kyai maka tetap jadi kyai. Bagi kaum santri, tak usah marah. Pesantren tak akan rontok oleh isu seperti itu. Biarkan Mbak Ebidah yang juga santri itu berlaku jujur.

Kalau boleh saya tambahkan, mestinya diungkap bahwa tak wajib anak kyai harus jadi kyai, sebagaimana tak wajibnya anak maling jadi copet. Kenapa mesti jadi kyai kalau memang tak mau jadi kyai? (tetapi lagi-lagi saya harus memaklumi, setting novel/film itu memang fokus pada emansipasi perempuan sih. Jadinya begitu.

Karakter kyai, bapaknya Anisa itu agaknya sudah bagus. Persis bapak saya yang kolot dan pakem. Tetapi Saya kira penampilan kyai itu agaknya terlalu berlebihan ya? Kok galak banget. Segalak-galaknya kyai saya tak pernah lah melihat kekerasan seperti itu. Saya kenal puluhan kyai, dari yang paling kalem sampai yang paling galak tak terlalu tegang seperti itu. Terus terang agak berlebihan. Kalau ibu nyainya sudah pas. Aktornya juga bagus. Cocok wis. Soal buku. Memang begitulah kebanyakan pandangan kyai. Tapi lagi-lagi tak sekasar itu lah. Biasanya kyai itu lebih marah kalau santri atau anak-anaknya nonton bioskop (persis sikap para pendeta tetangga kampung saya di Temanggung yang melarang anak-anaknya nonton bioskop). Kalau santri atau anak kyainya pada baca buku ya paling disindiri saja kok. Dan ini kasus pada kyai tertentu. Yang lazim akan saya katakan begini; asal anak-anaknya tetap baca kitab, alias tidak meninggalkan kewajiban ngaji, bebas baca buku. Jadi masalahnya bukan soal larangan baca buku, tetapi kemauan masing-masing orang kok. Diberikan kebebasan baca tapi kalau dasarnya orang pemalas ya tetap saja malas.

Soal buku pramudya ananta toer. Walah, mbak Ebidah….Aku juga nulis hal itu. Jadi aku ini sudah ketinggalan kereta deh. Ya wis tetap tak lanjut. Lagian tafsirnya berbeda mbek njenengan. Gugatan anisa yang radikal terhadap takdir itu bagus. Tapi saya tak pernah melihat kenyataan. Haha. Karena itu imajinasi yang Anda mainkan pada gugatan ini menarik. Memang harus begitu, santri diajak menggugat Tuhan, setelah tak ada kerjaan menggugat MUI dan Soeharto…:). (persepsi) Tuhan yang maha perkasa dan congkak bin tidak adil seperti itu tak hanya berada di ruang batin kaum santri. bahkan di kalangan Islam perkotaan persepsi Tuhan lebih buruk. Buruknya lagi orang-orang kota sering menganggap Tuhan sebagaimana yang ia pikirkan, parah lagi, dianggap sebagaimana yang ia inginkan. Makanya agama orang kota itu seringkali buruk karena menganggap Tuhan menilai sesuatu sebagaimana yang ia nilai sendiri. Kelompok-kelompok religius di perkotaan yang gemar mengkafir-kafirkan kelompok lain adalah contoh yang paling konkret dimana kehendak Tuhan telah dibajak oleh hawa nafsu mereka.

Setelah Film bubar, saya menyempatkan mengamati para penonton. Saya lihat, ternyata dari sekian puluh penonton ternyata yang menonton bukan golongan muslimah berjilbab. Yang berjilbab cuma ada dua ekor tuh. Tak kusangka yang nonton malah cewek-cowok yang saya pikir mereka itu bukan kaum santri. Atau wong santri ndeso yang sudah berubah?

Saya sempat meminta pendapat dua orang penonton setelah nonton film itu. Jawabannya, “pesantren itu begitu ya? Ada saingan-saingan antar kyai. Poligaminya vulgar. Kawin paksa….”

Saya tak perlu menjawab soal ini. Yang terlintas dalam pikiran saya memang orang-orang kita ini tidak cukup adil melihat fenomena. Sedikit pesona yang dilihat dianggap kenyataan umum, lalu dibuat kesan seolah-olah itulah fakta, padahal fakta itu sendiri sangat luas dan tak bisa dinilai sesempit layar bioskop. pertama, saingan antar kyai. La memangnya kenapa? Kyai itu juga manusia, punya nafsu dan punya kebutuhan diakui oleh lingkungan sekitarnya. Wajar dong bersaing. Mungkin karena Anda menganggap kyai sosok suci sebagaimana Nabi, maka kemudian muncul asumsi kyai harus sempurna dalam setiap hal. Kedua, soal poligami. Harus diakui para kyai di pesantren yang poligami tetap masih mengindahkan “etika” dan pertimbangan yang matang lho. Sementara banyak orang yang poligami tanpa pertimbangan matang dianggap lumrah. Satu hal lagi, kyai-kyai tradisional di desa tak pernah mengampanyekan poligami. Justru kelompok non santri yang edan berani kampanye poligami. Sebut saja orang edan itu ialah Puspo Wardoyo, atau bisa juga Abdullah Gymnastiar (kalau anda memang hendak menganggap A Agym edan lho…). Kalau saya sih sederhana mikirnya. Orang gila itu macam-macam jenisnya. Nah, soal poligami ini agaknya lebih baik kita dudukkan sebagai fenomena sosial. Selanjutnya kita tolak poligami. Lebih enak cara menalarnya bukan?

Penonton lain satunya lagi bilang, “Mas, kalau di sunda itu Nyai itu….ya gitu deh…(maksudnya tentu saja gundik, atau sundal….)tapi di Jawa Timur ternyata istrinya Kyai tho?

Saya batin, soal nyai ya sudah. Itu cuma soal istilah. Ibu Nyai yang dimaksud disitu Ibu Kyai. Karena orang Jawa lidahnya males mengucap kata Kyai, maka dipilihlah ucapan yang lebih mudah, yakni Nyai. Bukan nyai-nyari alias gundik itu.

Saya tanya kepadanya, “kesimpulan umumnya apa?” Dia jawab:” ya asyik aja.Asing. Jaman begini kok masih kuat ya pesantren. Emang kalau sudah nyantri mau jadi apa tho? Kan ustad-ustad yang di Bandung ini juga bukan lulusan pesantren….

Untuk pertanyaan mau jadi apa terpaksa saya jawab. “Ya, bisa jadi bintang film, bisa jadi pengangguran, bisa jadi kyai, bisa jadi makelar, bisa jadi mahkluk jadi-jadian….. Lha kamu kuliah memang mau jadi apa hayo…?”

E, nyengenges….

Setelah muncul tiga film berlatar belakang pesantren, yakni Ayat-Ayat Cinta, kemudian disusul Tiga doa Tiga Cinta lalu Perempuan berkalung Surban saya menyimpulkan agaknya isu poligami terus-menerus diungkit. Dari analisa saya, agaknya pikiran para produser film atau siapalah yang bermain dibalik layar itu melihat sisi pesantren masih parsial. Mbok ya diangkat sisi yang lain. Banyak kehidupan yang menarik dan unik dari pesantren. Salahsatunya ialah etos kerja kyai pesantren yang baik terhadap masyarakat. banyak kyai yang ikhlas dan bersikap moderat terhadap kebudayaan. Banyak kisah kyai yang mampu merukunkan kehidupan umat beragama. banyak para kyai yang mampu mengubah kebiasaan masyarakat yang tadinya hidup jorok menjadi lebih bersih. Banyak kyai yang terbukti mampu mengontrol kekuasaan. Isu lain yang tak kalah menarik adalah bahwa para penulis di negeri ini kebanyakan berlatar belakang pesantren, termasuk para cendekiawan muslimnya. Nah, kalau hal-hal ini diangkat pasti menarik. Cuma ya itu, jangan sampai vulgar dan tendensius menjunjung tinggi pesantren. Dengan kata lain saya ingin katakan, sampaikan juga sisi kelemahanya.

 

 

===================

berikut perlu saya lampirkan ilustrasi Film tersebut:

http://yanwarinside.blog.telkomspeedy.com/2008/12/30/perempuan-berkalung-surban/

2 thoughts on “Perempuan Berkalung Surban

  1. Mas faiz, saya tidak pernah mengaji di pesantren. Tapi kok rasa-rasanya nggak terima kalau sosok kyai digambarkan begitu “galak” begitu tidak “emansipatif” begitu “memojokkan dan meremehkan” wanita hanya dengan sebuah statement dari sutradaranya bahwa Kyai bisa juga salah dalam memahami Islam, makanya dihadirkan sosok Islam yang benar pada diri Qudhori.Padahal referensi ttg Islam setiadanya Nabi dan ulama atau kyai-kyai itu kan. Bagaimana jadinya kalau ditanamkan image melalui film kepada kita-kita yang bukan orang pesantren bahwa ada juga kyai yang salah, bahkan terlalu tidak santun di film tersebut. Menampar, menyiksa, dll

  2. Mas Nova. Namanya juga film, seperti karya tulis lain, punya target tertentu dengan mengungkap salahsatu sisi yang khas. Ya kalau kyai salah itu saya pikir sesuatu yang biasa saja. Kyai kan belum tentu ulama, ulama pun manusia biasa yang bisa salah. masyarakat sendiri sudah biasa melihat kesalahan para kyai. Saya kira tidak masalah. Ya memang harus jujur juga bahwa tidak semua agamawan itu benar. Komentar saya pada sosok khudori yang galak ditulisan itu sekadar kritik terhadap karakternya saja. Terlalu begitu. Saya sendiri tidak pernah melihat kyai segalak itu. Mungkin dari Novelnya, sang penulisnya memang melihatnya seperti itu. jadi santai saja…tidak masalah kok….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s