Berbagai Resensi Buku Entrepreneur Organik

Standar

Entrepreneur Organik
Penulis: Faiz Manshur/ Penerbit: Nuansa Cendekia (Anggota IKAPI) Bandung Sept 2009. Tebal: 392 Halaman (dengan 32 warna bagian dalam. Harga: Rp 88.000. REHAL Majalah Gatra Hlm 59/16 Desember 2009). Inilah sebuah cerita sukses seorang-dari banyak- kiai membangun pesantren, bisnis, sekaligus mengubah wajah masyarakat pedesaan di sekitarnya. Kiai bernama Fuad Affandi ini amat dikenal sebagai pemimpin Pesantren Al-Ittifaq. Dia sekaligus menjadi tokoh penting di balik kemajuan bidang agrobisnis di Desa Alam Endah, Kecamatan Rancabali, Bandung.

Bukan apa-apa. Dengan kegiatannya yang tidak semata mengajar ngaji, Kiai Fuad berhasil mendidik warganya untuk mandiri. ia berjuang melawan kemiskinan yang merundung masyarakat pedesaan sekitar pesantren dengan semangat kewirausahaan yang dimilikinya. Dia boleh dibilang sosok kiai yang benar-benar “membumi”.  Ia berhasil mengubah ratusan hektare lahan tidur menjadi lahan produktif yang menyejahterakan ribuan keluarga petani di sekitarnya.

Bukan itu saja. Lewat agrobisnis puluhan jenis sayuran yang dikembangkannya sejak 1970-an, ia membuktikan betapa koperasi menjadi penyangga utama kesejahteraan kaum tani. ia malah melahirkan wirausahawan-wirausahawan muda lewat pola kerja sama yang setara dan adil. Seperti disinggung Sri-Edi Swasono, Kiai Fuad adalah seorang local genius yang mampu menerobos pakem-pakem usang seorang kiai. Di tangannya, pesantren jadi tempat pendidikan sekaligus pusat perubahan masyarakat. Dia seorang kiai tradisional yang berpikir kritis dan memiliki cara pandang kreatif. Lebih dari itu, sikapnya yang moderat pun sangat membantu cita-cita meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Untuk memasarkan produk-produk pertanian dari desanya, sang kiai berhasil mengandeng jaringan swalayan ternama: Hero Supermarket.

Buku ini boleh dibilang merupakan satu dari sekian banyak bukti bahwa pembangunan suatu peradaban bisa dilakukan dengan paradigma amal saleh. Banyak pelajaran bisa dipetik, diteladani, dan dikembangkan dari berbagai kiprah sang kiai yang tertuang dalam buku ini. (Erwin Y. Salim).

Republika: Minggu, 01 November 2009 pukul 01:49:00
http://www.republika.co.id/koran/110/86205/Sang_Kiai_Penanam_Sayur

Ia mengajak para santri dan masyarakat sekitar bercocok tanam.

Subuh di Ciburial. Ratusan santri tampak khusyuk shalat berjamaah. Usai shalat mereka mengaji. Tak seorang santri pun boleh meninggalkan masjid. Satu jam berlalu, para santri keluar masjid dan bergegas masuk kamar untuk berganti pakaian. Sesaat kemudian, para santri itu sudah menghambur ke luar pondokan.

Mereka, sebagian sigap mengolah hasil panen untuk
dipasarkan. Sebagian ke kandang sapi dan domba untuk memberi makan dan sekaligus memerah susu. Sebagian yang lain berkumpul di halaman masjid, menunggu. Tak lama kemudian muncul delapan mobil bak dari sudut perkampungan. Santri yang sudah menunggu itu langsung loncat naik ke mobil, menuju ke perkebunan di sekitar pesantren.

Begitulah kegiatan pagi di Pesantren Al-Ittifaq yang berlokasi di Ciburial, Rancabali, di kaki Gunung Patuha, Bandung Selatan. Pesantren itu memang berbeda dengan kebanyakan pesantren yang ada di negeri ini. Selain kegiatan belajar ilmu umum dan kajian masalah keagamaan, santri juga diajarkan pemberdayaan ekonomi lewat praktik kewirausahaan.

Kewirasausahaan atau entrepreneurship itu memang menjadi jantung aktivitas Pesantren Al Ittifaq yang didirikan KH Fuad Affandi. Pesantren ini didesain sebagai pesantren yang mampu menghidupi sendiri, pesantren yang tidak mengandalkan hidup dari sumbangan. Sebuah pesantren yang mendidik santrinya hidup mandiri.

Tapi, yang tidak kalah pentingnya adalah bahwa pesantren ini juga mengubah mental masyarakat desa yang malas karena keterkungkungan, menjadi masyarakat yang berkerja keras. Pesantren ini telah menyulap perkampungan Ciburial yang miskin, ketinggalan di bidang pertanian, transportasi, dan pendidikan, menjadi kampung yang maju, bahkan telah mampu menarik wisatawan.

Perjalanan hidupnya yang penuh liku –mulai dari masa remaja yang ‘bengal’ yang nyantri di beberapa pesantren di Jawa tengah dan Jawa Timur, sampai bagaimana dia ditipu ketika berdagang sepatu– dipotret secara secara detail oleh Faiz Manshur dalam buku yang ditulisnya. Judul bukunya pun menggelitik Entrepreneur Organik, Rahasia Sukses KH Fuad Affandi Bersama Pesantren dan Tarekat Sayuriah-nya.

Menjadi pertanyaan memang, apa itu ‘entrepreneur organik’ dan apa itu ‘tarekat sayuriah’? Selama ini yang dikenal sebagai derivasi entrepreneur adalah social entrepreneur, sementara entrepreneur organik dicari di google pun tidak ada kecuali dari tulisan yang diposting penulis sendiri. Apa bedanya? ”Kalau entreprenuer sosial berkutat pada problem sosial kemanusiaan, entrepreneur organik juga terlibat dalam bidang pendidikan, budaya, agama, dan sebagainya,” tulis buku itu.

Akan halnya dengan Tarekat Sayuriah. ”Saya penganut Tarekat Sayuriah, ha..ha..ha.” Begitu kata KH Fuad ketika ditanya aliran tarekat. Al Ittifaq memang sukses dengan budidaya dan bisnis sayuran, tak kurang 28 sayur dibudidayakan masyarakat di sekitar Al Ittifaq. Jadi, sah-sah saja gojegan dari kiai yang juga pengusaha dan intelektual itu.

Secara keseluruhan buku ini menarik untuk dibaca. Terlebih karena fokus tulisannya tentang sosok kiai –yang bukan saja paham masalah agama, tetapi juga seorang wirausahawan. Tak banyak kiai yang ‘dobel gardan’ seperti itu. Tak banyak kiai yang memberi teladan dalam mengejar kepentingan akherat sekaligus memikirkan kepentingan duniawi.

Secara tidak langsung KH Fuad mengajarkan bahwa seorang Muslim harus hidup berkecukupan, untuk itu berbisnislah. Bukankah Nabi Muhammad pun menganjurkan umatnya untuk berbisnis, seperti disabdakan: Dari 10 jalan untuk menjemput rezeki, sembilan di antaranya dari berdagang atau berbisnis.

Titik lemah dalam buku ini adalah ketika mengulas mentalitas orang Sunda. Tidak masalah mengupas masalah etnis, yang jadi problem ketika narasumber hanya KH Fuad, sehingga bisa jadi pandangannya tidak merepresentasikan secara keseluruhan orang Sunda. Pada bab ini miskin referensi, sehingga bisa memunculkan kontroversi.

Kelemahan teknis juga ditemui di buku ini. Misalnya penempatan foto yang tidak sesuai dengan tema, ini bisa kita lihat di hal 128 di mana di situ sedang mambahas perjalanan hidup KH Fuad, tapi fotonya kegiatan santri. Foto-foto profil KH Fuad Affandi juga terlalu monoton. Juga penggunaan kata yang kurang enak didengar, misalnya meng-kamu-kan pembaca, atau kata minggat.

Lepas dari kelemahan tersebut, buku ini tampaknya bisa menginsirasi pembacanya untuk melakukan pemberdayaan. Untuk melepaskan kemiskinan yang membelit bangsa ini, dibutuhkan pribadi-pribadi yang mampu menggerakkan dan memberdayakan masyarakat. Kita perlu meneladani tokoh-tokoh non-selebriti seperti KH Fuad Affandi yang tulus mengabdi kepada masyarakat, bukan mengabdi kepada kepopuleran. nif

Ikut Berbagai Pelatihan

Bermula dari keprihatinannya melihat berhektare tanah yang terbengkalai, ditambah dengan kehidupan masyarakat desa yang sangat miskin, Kiai Fuad tergerak membangun pesantrennya di luar pakem. Dengan segepok pengalaman sebagai orang jalanan, dia pun mengasah kemampuan wirausahanya untuk mengoptimalkan tanah yang terbengkelai itu.

Ruh entrepreneur dari pesantren yang kini telah merasuk di semua santri dan penduduk sekitar, jelas merupakan sublimasi dari jiwa kewirausahaan yang dimiliki Kiai Fuad. Jiwa kreatif, inovatif, tak kenal putus asa — yang menjadi persyaratan seorang entrepreneur– telah dimiliki ‘kai mbeling’ ini. Semangat untuk terus belajar dan bekerja sama dengan siapa pun menjadi prasyarat yang sudah dia lakukan.

Ketika awal mau terjun ke agrobisnis, misalnya, ia ikut di hampir semua kegiatan pelatihan tentang pertanian. ”Saya belajar dari mana saja. Yang penting dapat ilmu, apalagi gratis, biaya yang kita keluarkan hanya menurut,” kata dia.

Tak heran kalau pegawai di kantor Balai Besar Pelatihan Pertanian di Lembang akrab betul dengan KH Fuad. Bukan karena ceramah di situ, tapi karena sering mengikuti pelatihan agrobisnis.

Pesantren ini juga bekerja sama dengan yang biasa dianggap ‘pihak lain’, yakni Hero Supermarket (sekarang sudah diakuisisi dan menjadi Giant). Dari manajemen perusahaan retail ini juga KH Fuad belajar cara menanam sayuran yang berkualitas tinggi, mengemas barang menjadi menarik, dan lain-lain, sehingga hasil panenannya memenuhi standar supermarket. Sayur-sayuran dari pesantren Kiai Fuad pun mengisi supermarket itu. nif

Judul : Entrepreneur Organik, Rahasia Sukses KH Fuad Affandi Bersama Pesantren dan Tarekat Sayuriah
Penulis : Faiz Manshur. Penerbit: Nuansa Cendekia Bandung. 392 hlm. Harga Rp 88.000
(-)
Index Koran

KOMPAS.COM. Buku ini dikenal sebagai buku biografi, tetapi tidak sepenuhnya disebut demikian. Sekalipun sosok K.H Fuad Affandi sangat banyak diulas di dalamnya, tetapi  sesungguhnya kita akan mendapatkan anekaragam kisah kehidupan petani desa, umat islam desa, pendidikan, pengorganisasian, kepemimpinan dan sejuta warna kisah kehidupan yang inspiratif guna mewujudkan kemakmuran, kesejahteraan dan harmoni kehidupan. http://oase.kompas.com/read/2009/10/15/12421441/cerita.seksi.kaum.tani.rancabali

KOMPAS.COM. Di tengah-tengah minimnya karya tulis yang greget dalam bidang sosial, buku ini memperlihatkan adanya fenomena lain tentang masih adanya kekuatan revolusiner dari seorang agamawan. Tak berlebihan manakala para pakar yang banyak memberikan apresiasi dalam buku ini memberikan apresiasi khusus, Baik kepada sosok KH Fuad Affandi maupun kepada penulis buku ini. http://oase.kompas.com/read/2009/10/14/18580983/kiai.organik.dan.revolusi.pertanian

BISNIS INDONESIA

Resensi Harian Bisnis Indonesia

Apa yang kita saksikan terhadap fenomena petani Indonesia? Walaupun tidak bisa secara umum kita simpulkan, tidak terlalu salah kiranya jika pikiran kita menganggap kaum tani identik dengan ketidakpastian penghasilan, terbelakang dalam hal pendidikan, secara sosial kurang modern dan miskin. Bahkan seorang teman mengatakan, bahwa di Indonesia ini sangat sulit petani untuk sekadar hidup  berkecukupan.

Namun, bagaimana jika ada sebuah kenyataan lain, yakni kehidupan petani yang berdaya dan sejahtera? Adakah hal itu menjelma dalam kenyataan? Jika benar ada, bagaimana hal itu bisa terjadi dalam fenomena umum kemiskinan kaum tani?

Buku ini menjawab beberapa pertanyaan tersebut. Istilah entrepreneur mengacu pada konteks kewirausahaan. Adapun, organik secara teoritis berarti memiliki akar dengan masyarakat secara kuat. Dengan kata lain entrepreneur yang dimaksud di sini bukan wirausahawan yang bergerak dalam pertanian organik, melainkan jiwa wirausahawan yang memperjuangkan kaum tani melalui strategi mobilisasi pertanian yang pada akhirnya membuktikan kesejahteraan kaum tani.

Fuad Affandi sebagai ikon dalam buku ini diulas panjang lebar melalui lintas pendekatan/metodologi yang kemudian hadir secara dramatis sebagai salah satu sosok yang layak digali ilmu dan pengalaman hidupnya dalam memperjuangkan kehidupan kaum tani di Kecamatan Rancabali Kabupaten Bandung, Jawa Barat.

Fuad yang selama ini dikenal sebagai seorang kiai, pengasuh ratusan anak-anak miskin dengan Pesantren Al-Ittifaq memang bukan sosok baru dalam dunia agribisnis. Jebolan kelas IV Sekolah Rakyat ini adalah seorang kiai tradisional yang berpikir progresif dengan paradigma lintas mazhab, lintas etnik, dan lintas agama. Setelah melanglang buana menjadi santri kelana di berbagai pesantren Jawa dan Sunda, dia pulang lalu memperjuangkan pertanian dengan bekal ilmu otodidaknya.

Sebagai seorang santri tulen, yang ‘memuja’ ilmu pengetahuan, dia pun terus mengembangkan pemikirannya untuk menjawab tantangan kehidupan kaum tani di lingkungannya. Penghargaan Kalpataru dari Presiden Megawati dalam bidang lingkungan hidup (2003) dan Danamon Award (2007) dalam bidang kewirausahaan adalah sedikit bukti bahwa sang kiai memang memiliki semangat perjuangan yang tangguh.

Apa yang dihasilkan dari perjalanan lebih dari 30 tahun di sana? Fuad a.l. telah berhasil membuktikan koperasi sebagai alat yang ampuh untuk melawan kebrengsekan pasar. Jika sebelumnya produksi pertanian hanya memperkaya para tengkulak, koperasi Al-Ittifaq mampu menjadikan hasil pertanian benar-benar dinikmati kaum tani.

Sekalipun buku ini sarat dengan nuansa biografi, tetapi dengan gaya penulisan yang cerdas, riset yang mendalam serta sudut pandang yang kreatif membuat buku ini bisa dinikmati siapa pun, terlebih di dalamnya digelar ratusan foto-foto kehidupan santri dan petani. Selamat membaca.

Adi Maulana
Wirausahawan
http://www.bisnis.com/servlet/page?_pageid=145&_dad=portal30&_schema=PORTAL30&vnw_lang_id=2&ptopik=B32&cdate=15-NOV-2009&inw_id=704247

2 thoughts on “Berbagai Resensi Buku Entrepreneur Organik

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s