Evolusi Penyingkap Spiritualitas

Standar

Judul: Evolusi dari Teori ke Fakta/Judul Asli: What Evolution Is/Penulis: Ernst Mayr/Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia, 2010./Tebal: xxii/434 halaman. Semenjak On The Origin Of Species diluncurkan tahun 1859, dunia ilmu pengetahuan dibuat geger. Para ilmuwan dan agamawan sibuk mempersoalkan pemikiran pengarangnya, Charles Darwin (1809-1882). Sebab harus diakui, karya On The Origin of Species yang diluncurkannya pada tahun 1859 mengubah banyak hal, bukan hanya pada bidang ilmu biologi, melainkan juga menyingkap cara pandang kehidupan manusia modern tentang asal usul penciptaan juga tentang hakekat kehidupan setiap organisme.

Menjelaskan Darwinisme

Mayr bukan akademisi menara gading yang hanya sibuk berkutat dengan buku, melainkan juga terjun ke lapangan bertahun-tahun,-sebagaimana Darwin melakukannya. Setelah bosan meriset di Eropa dan Amerika, ia kelayaban di Kepulauan Solomon Pasifik Barat daya, bahkan sampai di Papua bagian utara. Di Papua Ernst pernah masuk hutan dan naik gunung untuk meneliti sejumlah spesies burung unik, terutama Cenderawasih.

Sedikit mengingat On The Origin of Species, sebenarnya buku itu tidak bicara spesifik tentang evolusi, melainkan membahas mengenai seluk beluk kehidupan makhluk hidup di alam raya ini. Pada prinsipnya, apa yang dimaksud oleh Darwin tentang evolusi,-sebagaimana dikatakan G.C William (1992), kita diperkenalkan tiga doktrin hukum alam, yakni mekanisme, seleksi alam, dan kesejarahan.

Tiga hal ini pada akhirnya harus kita akui memiliki implikasi besar bagi bidang-bidang ilmu pengetahuan lain. Sebut saja misalnya pada doktrin mekanisme. Dengan adanya prinsip mekanisme ini, ditemukan fakta bahwa setiap fungsi dan proses yang berjalan dalam organisme hidup bisa dijelaskan melalui pendekatan fisika dan kimia. Ini membedakan dengan paham agama yang spekulatif mengatakan apa yang menyatukan dalam kehidupan ini akibat faktor luar (Tuhan).

Memaknai evolusi

Dari sekian hal yang penting untuk memahami asal muasal kehidupan, termasuk memahami medan juang seleksi alam, sesungguhnya yang terpenting dari Darwin adalah pengetahuan kita tentang diri kita sendiri, tentang manusia, mulai dari asal-usulnya hingga puncak proses evolusi yang sekarang ini terjadi.

Tafsir Mayr tentang “bagaimana manusia berevolusi” menyadarkan kepada kita bahwa Tuhan tidak sebodoh yang kita pahami sebagai ahli cipta tanpa proses. Justru dengan pola evolusi itulah sesungguhnya Tuhan memberi kesempatan kepada kita untuk berevolusi lebih sempurna. Jika itu bukan evolusi fisik yang kita targetkan, maka evolusi spiritual bisa dilakukan mengingat otak kita telah memiliki evolusi yang panjang.

Untuk menuju ke arah evolusi itu tentu kita mesti mengenal kelemahan kita, kelemahan pada pemahaman yang salah atas asal muasal hidup ini. Misalnya pada paham kreasionisme di mana meletakkan Tuhan sebagai ahli kreasi penciptaan makhluk hidup. Dengan hanya puas atas keyakinan akan kreasi Tuhan, evolusi mampu menyingkap kelemahan tersebut dengan pertanyaan; apakah Tuhan sedang kehilangan ide sehingga harus membuat desain tubuh itu serupa atau karena apa? Kita tidak akan mendapat jawaban yang pasti, kecuali menduga-duga, atau lebih fatal lagi dengan cuek-bebek menjawab, “itu urusan Tuhan.”

Evolusi bukan sekedar menyingkap siapa leluhur kita. Sebab jika itu yang dipermasalahkan nalar kita tidak akan banyak menyerap arti kehidupan, kecuali sekedar olok-olok kita keturunan kera. Untuk menjawab pertanyaan mengapa burung cenderawasih itu menarik, keindahan kupu-kupu dan aneka ragam bunga? Semuanya butuh evolusi untuk mendapatkan makna dan pemahaman yang spiritualis tersebut.

Dari sisi rasionalitas buku ini membuktikan banyak “kebenaran” pemikiran Darwin, dan ini sesuatu yang luar biasa. Tetapi dari sisi guna, buku ini mungkin sulit diterima masyarakat luas. Demikian dari sisi bahasa, agaknya kalah populis dengan buku semacam On The Origin of Species dalam bentuk kartun karya Michael Keller: adaptasi grafis 2009 (Diterbitkan Gramedia 2010) atau buku Bengkel Ilmu Evolusi karya David Burnie 1999 (penerbit Airlangga; 2005).

Untuk tidak sekedar mendapatkan pemahaman benar dan salah tentang evolusi memang dibutuhkan kesabaran khusus. Serangkaian banyak buku tentang evolusi yang ilmiah mesti dipahami secara lengkap. Salahsatunya buku ini sangat penting untuk dijadikan sumber referensi *** FAIZ MANSHUR. Penulis tinggal di Bandung. http://www.sinarharapan.co.id/cetak/berita/browse/0/read/evolusi-penyingkap-spiritualitas/

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s