Jawa-Pedalaman, Islam dan Ilmu Pengetahuan

Standar

Salah satu kajian ilmu sosiologi yang masih menarik diperhatikan ialah dikotomi antara budaya keagamaan di masyarakat pesisir berbanding keagamaan di masyarakat pedalaman. Sekalipun variable dikotomi untuk saat ini sayup-sayup mulai tergerus arus komunikasi dan informasi, -terutama terkait dengan dikotomi Pusat  (Ibukota Jakarta ) berbanding daerah,- tetapi agaknya tetap masih relevan untuk menyimak tradisi kehidupan masyarakat muslim di pulau Jawa.

Secara umum Islam yang mayoritas dipeluk masyarakat memang cukup kuat berakar dalam mayarakat Jawa. Artinya ideoligi kejawen sebenarnya sudah melapuk cukup lama. Tetapi sekalipun demikian, pada praktik praktik keseharian tetap mewarisi kosmologi kejawaan. Jelasnya, Jawa sebagai ideologi, atau sistem kepercayaan atau katakanlah Jawaisme sudah mengalami kepunahan, tetapi Jawa sebagai adat istiadat tetap bercokol kuat. Tak pernah runtuh oleh desakan Islam, Kristen atau modernisasi.

Kultur pedesaan dengan ekonomi pertanian yang tak begitu maju. Di sini, agama memainkan peranan yang cukup dominan di masyarakat Kauman dan sekitarnya. Orang-orang butuh agama karena dengan itu mereka bisa menjawab berbagai persoalan. Agama akan selalu berperan di manapun jua. Kalaupun orang-orang Jawa tidak terlalu mementingkan agama formal yang sifatnya samawi, mereka tetap butuh “agama” dalam pengertian aliran kebatinan. Agama dibutuhkan oleh masyarakat karena ia lebih lengkap memberikan Jawaban ketimbang ideologi.

Dalam ideologi masalah pencernaan perut paling-paling bisa dijelaskan dalam konteks kebutuhan makan. Tetapi dalam ilmu (kesehatan) masalah pencernaan juga meliputi kandungan nutrisi, gangguan lendir, gangguan angin sampai soal usus buntu. Di dalam ideologi masalah ekonomi sebatas soal  bagaimana menyejahterakan rakyat agar terhindar dari kelaparan. Sementara dalam ilmu pengetahuan, ilmu ekonomi meliputi sejumlah kompleksitas yang lebih detial, misalnya ekonomi keluarga, ekonomi pedesaan atau ekonomi subsistem, termasuk ekonomi perdagangan dan diplomasi. Agama lebih komplit ketimbang ilmu pengetahuan.

Dalam ilmu pengetahuan pijakan dasarnya adalah rasionalitas. Artinya setiap yang irasional tidak masuk wilayah ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan harus rasional karena dalam hal ini harus menjawab secara masuk akal. Masalahnya kemudian tidak setiap masalah selalu rasional. Ada banyak elemen kehidupan yang irasional, bahkan di jaman modern seperti sekarang ini. Agama tidak luntur di masyarakat modern atau pasca modern sekalipun karena persoalan hidup manusia akan selalu bergayut pada sampan irasionalitas. Agama akan berperan, sekalipun dalam peranan terbatas dengan artikulasi yang berlainan sepanjang kehidupan manusia masih ada.

Umur agama itu sendiri sudah ada semenjak manusia lahir, sekalipun masih dalam bentuk kepercayaan-kepercayaan terbatas. Sedangkan ajaran agama dibentuk melalui pengalaman empiris umat manusia. Pengalaman empiris yang berhimpung sekian abad, sekian ribu tahun hingga saat ini terus berevolusi membentuk banyak aturan, nilai dan pandangan kehidupan setelah kematian. Di dalam himpunan tata nilai itulah agama lebih lengkap dalam memberikan jawaban dibanding ilmu pengetahuan atau ideologi yang sangat terbatas. Seorang Sosiolog, Arief Budiman (1996) pernah mengatakan, “agama akan mampu menjawab masalah-masalah yang tidak dipecahkan ideologi atau ilmu pengetahuan, sekalipun Jawabannya tidak tidak rasional.

Ideologi, ilmu pengetahuan dan agama masing-masing berkembang sesuai dengan kondisi masyarakat. Corak perkembangan masyarakat terhadap ideologi tersebut sangat terkait dengan lingkungan sekitarnya. Dalam masyarakat perkotaan, yang lebih maju di banding masyarakat pedesaan, pemahaman akan ketiganya sangat berbeda. Masyarakat yang lebih maju akan menghayati agama lebih rasional, sedangkan masyarakat terbelakang terbelakang pula pemahamannya akan ilmu pengetahuan. Semakin rasional masyarakat, semakin pudar nilai keagamaan. Masyarakat modern kebanyakan akan lebih mempercayai ilmu pengetahuan ketimbang agama.

Uraian ini memang tak melulu benar, sebab di dalam agama sendiri terdapat variable-variabel yang mengandung ilmu pengetahuan, ideologi, termasuk mitologi. Tetapi semakin kuat ilmu pengetahuan, semakin berkurang kecenderungan orang mempercayai agama, terutama dalam hal mitologinya. Kalaupun pada pasca tahun 2000 ini kita menyaksikan gairah keagamaan, tentu bukan agama dalam pengertian tradisional, melainkan corak yang lain, yakni agama politik, agama ilmu, termasuk agama teror.

Agama pedesaan sarat dengan mitos. Setiap daerah memiliki perbedaan mitos sehingga agama itu sendiri terkontaminasi dengan unsur lokal setempat. Sebagian unsur lokal bisa beradaptasi dengan ajaran agama, sebagian tidak. Seorang tokoh agama yang menyebarkan ajarannya sangat penting memahami hal ini. Sedikit berlaku ekstrim dalam menyebarkan pemahaman, “barang dagangan” tak akan laku. Bagi pendakwah yang kompromi dan sabar dalam mengajarkan ilmu keagamaan ia akan diterima masyarakat, sedangkan yang vulgar dan reaksioner atas perilaku non agamis akan menjadi hantu yang menakutkan masyarakat sekitar.

Di sini tampaknya memang penting memahami tentang apa itu yang disebut ‘kesadaran’. Seseorang mungkin mudah diberi ilmu pengetahuan dalam sebuah pertemuan, tetapi mewujudkan orang menjadi sadar adalah soal proses berliku. Kesadaran tak cukup dibangun dari sebuah institusi pendidikan, melainkan harus melalui pola hidup keseharian. Praktek pergaulan yang baik sangat menentukan kesuksesan seseorang di tengah-tengah masyarakat.

Faktanya sangat jelas dari pengalaman empiris. Sama-sama belajar di suatu tempat tetapi tidak mendapat pelajaran dari lingkungan non akademis secara baik paling-paling seeorang hanya berubah sedikit pemikiran, sementara mereka yang bergaul luas dengan dunia kompleks akan terbangun kesadarannya ke arah yang lebih maju. Bagi kiai tradisional di Jawa, ilmu agama itu sendiri hanya akan bisa diterapkan dalam wilayah terbatas. Mereka menyadari tidak semua ilmu agama yang ia dapatkan dari pesantrennya selama ia nyantri akan bisa diajarkan di lingkungan masyarakat tempatnya berdakwah.

Agama tak sesimple ilmu pengetahuan, melainkan memiliki dimensi yang lebih rumit; ajaran petunjuk praktis untuk laku, bertindak, praksis dan menggerakkan. Ada banyak kasus santri lulusan Universitas Ilmu Islam tetapi menjadi manusia kesepian setelah pulang kampung di desanya. Tak jarang mereka lebih memilih menjadi pegawai negeri yang peranannya terbatas, atau bisa jadi mereka menjadi orang biasa yang tidak memiliki nilai lebih di masyarakat karena laku dan komunikasinya dengan masyarakat desa tak berjalan baik.

Sarjana agama rata-rata mahir dalam membedah ilmu keagamaan di banding lulusan pondok pesantren. Tetapi ilmu pengetahuan itu tiada berguna karena laku mereka tak bisa dijadikan contoh. Kiai diikuti masyarakat bukan karena ilmu dan laku. Ilmu pengetahuan saja tak cukup untuk menjawab kebutuhan masyarakat. Di masyarakat manapun, selalu saja penduduknya memiliki rasionalitas tersendiri, yang bahkan sangat empirisme untuk mengikuti pembaruan yang ditawarkan seseorang.

Bagi masyarakat agama penting dan kemudian membentuk semacam “ideologi” dominan. Ia bukan sekadar dahaga saat manusia didera dehidrasi kehidupan sebagaimana orang-orang kota yang agak oportunis memperlakukan agama untuk kepentingan duniawi. Bagi orang desa, bagaimana pun juga agama adalah identitas. Seseorang bisa diakui keberdaannya di lingkungan sekitar jika ia memiliki identitas jelas. Tanpa identitas keagamaan ia akan terasing secara natural dari pergaulan. Orang-orang akan merasa canggung mengajak bergaul dalam banyak hal, khususnya yang berurusan dengan kegiatan keagamaan seperti hajatan kawinan, acara syukuran, doa kematian atau urusan lainnya.

Orang Jawa secara umum, terkecuali kaum santri taat,-dikenal setengah hati dalam menjalankan agama. Ini sudah menjadi kenyataan yang tak terbantahkan. Tetapi menolak agama tetaplah sebagai suatu penyimpangan moral dan kejahatan sosial. Tetapi bagaimanapun pentingnya agama di masyarakat Jawa,-seperti Jawa pegunungan Manggung yang mewarisi sejarah panjang agama-agama non samawi seperti Hindu dan Buddha,- agama tetap tak mampu membentuk identitas tunggal di masyarakat.  Wujud nyatanya terlihat jelas dalam hal politik. Sekalipun agamanya jelas Islam, kecenderungan politiknya tak melulu Islam.

Orang desa yang mayoritas petani, dengan nalarnya sendiri memandang identitas dirinya sebagai muslim dan tidak wajib memilih Partai Islam. Tak heran di kalangan masyarakat ini pada masa silam orang-orang Islam sebagian ikut Partai Komunis, Murba, atau Partai Nasionalis. Di luar politik, orang-orang Islam juga tak merasa alergi dengan kesenian lokal. Bahkan sebagian kiai,- tidak termasuk tipikal Kiai Adnan,-tetap memanfaatkan unsur-unsur kesenian lokal sebagai bagian kehidupan keagamaannya.

Dalam hal busana, keluarga santri taat merasa pas dengan ucapan assalamu’alaikum, tetapi bagi muslim lain lebih enak menyapa dengan ucapan kulo nuwun. Jilbab dikenakan secara ketat oleh keluarga santri perempuan, namun tidak menjadi persoalan bagi muslimah pada umumnya. Keluarga santri sendiri tak terlalu rewel dan harus berpesan agar orang-orang itu wajib memakai jilbab.

Di sini, kesantunan dan sikap moderat kaum santri nampaknya dirasakan lebih nyaman untuk menjaga etika pergaulan dengan masyarakat sekitar. Sangat berbeda dengan kaum santri kota yang setiap kali ketemu orang selalu mendakwahi dengan ceramah-ceramah lisan hingga membuat orang yang diajak bicara merasa tak nyaman karena merasa digurui. (faizmanshur)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s