Merapi, Salah Persepsi, dan Sembako

Standar

Ada banyak kegagapan kita dalam menghadapi bencana.  Salah satunya adalah masalah distribusi logistik. Tulisan ini akan bicara masalah ketidakmerataan logistik yang terjadi di kawasan lereng Merapi. Letusan Merapi menimbulkan korban. Itu semua mudah dipahami. Tetapi apa yang disebut korban ternyata sering kali dipersempit menjadi korban letusan yang mengungsi. Cara pandang bencana dan pengungsian yang seolah-olah setali tiga uang ini pada mulanya banyak digerakkan oleh akibat pemberitaan media massa, khususnya televisi, yang sangat fokus menyoroti korban letusan wedhus gembel itu identik dengan pengungsi.

Salah Persepsi
Memang, media tidak mendakwa begitu. Namun, liputan di barak-barak pengungsian tidak disadari mengakibatkan menimbulkan banyak kesalahan persepsi.  Dampaknya, arus distribusi bantuan bencana pada minggu keempat Bulan Oktober dan dua minggu pada bulan November terkonsentrasi pada pengungsi. Efek domino yang terjadi kemudian menimpa pada korban nonpengungsi yang dianggap tidak memiliki masalah makanan dan kelayakan hidup selama beberapa minggu terakhir ini. Bahkan, timbul persepsi, para peminta bantuan nonpengungsi seolah-olah memanfaatkan situasi. Padahal, kenyataan di lapangan membuktikan warga nonpengungsi yang kampungnya diserbu wedhus gembel terkadang lebih menderita.

Salah persepsi ini pernah terjadi di salah satu barak pengungsian di kawasan Gondosuli Muntilan. Gus Alvan Al Muhasiby, pengasuh Pesantren Nailul Muna, Rand ukuning Gondosuli, 5 kilometer sebelah utara Kota Muntilan, bercerita kepada penulis bahwa persepsi korban identik dengan pengungsi seperti itu menimbulkan kecemburuan warga nonpengungsi.  Ia menceritakan, di sebuah dusun yang warganya tidak mengungsi itu ada bantuan terus berdatangan untuk para pengungsi. Sementara itu, warga tuan rumah dianggap bukan korban. Dari sikap pilih kasih seperti itu muncullah benih-benih kecemburuan. Ini karena mereka merasa warga yang mengungsi dimanjakan stok sembako, sementara warga yang rumahnya ditempati harus berburu bantuan ke sana kemari. Sampai akhir minggu pertama bulan November, tidak ada pihak yang berwenang dari pemerintah untuk menegaskan masalah ini. Arus bantuan terus berjalan. Tetapi, ini hanya terkonsentrasi pada pengungsi di barak-barak darurat. Sementara itu, mereka yang tidak mengungsi, atau hanya mengungsi 2-6 hari lalu pulang kembali ke rumah masing-masing, tidak mendapat perhatian sama-sekali. Ini terjadi di berbagai tempat, terutama di puluhan dusun yang masuk kawasan Kabupaten Magelang.

Di dusun-dusun kawasan Muntilan, Borobudur, Srumbung, Sawangan, Dukun, dan Mungkid ada ratusan warga yang hidupnya megap-megap akibat serangan wedhus gembel itu sulit menerima bantuan, karena mereka tidak menyandang status pengungsi. Mereka tidak perlu mengungsi karena rumah dan bahkan ternaknya tidak mati. Hanya saja, untuk makan mereka mengalami kesulitan luar biasa. Sisa beras pada beberapa hari kembali ke rumah memang masih ada. Hanya saja, tidak ada bumbu dapur, sayur, dan bahan pakan lain yang dapat dimasak. Status warga nonpengungsi sedikit berubah setelah warga nonpengungsi itu nekat menyerbu dengan SMS dan telepon sambil menjelaskan situasi yang terjadi. “Benar kami tidak mengungsi. Tetapi kami mau makan apa?” Seminggu ini kami hanya makan nasi dan mi instan, kalau pun ada sayur cuma buah nangka muda.” Begitu kira-kira keluhan yang datang.

Penderitaan akibat bencana Merapi memang tidak berhenti sampai pada persepsi tentang korban yang mengungsi. Ada ratusan ribu jiwa yang sampai detik ini tetap kesulitan makan. Bantuan terus berdatangan, tetapi selalu ada berita faktual dari orang-orang desa nonpengungsi yang didera kelaparan dan kurang gizi, terutama di kawasan Muntilan utara dan desa-desa lain di radius kilometer 13 hingga kilometer 22. Bahkan, di kawasan Borobudur yang radiusnya berjarak 25-35 kilometer pun banyak yang kesulitan makan.

Sembako Tiga Bulan
Sembako menjadi kebutuhan vital bagi warga nonpengungsi. Setelah Idul Adha usai, banyak pengungsi yang hendak pulang ke rumahnya. Pengalaman di lapangan membuktikan, untuk hidup normal mereka butuh waktu kerja bakti sekitar 4-5 hari. Pada masa ini, warga tidak bisa mencari nafkah, kecuali hanya dapat mencari pakan ternak. Itu pun sangat sulit dilakukan, mengingat banyak rumput yang telah terbakar.

Bertani? Belum ada bibit karena tanaman mati semua. Berdagang? Tidak ada yang hendak dijual karena untuk membeli pun tidak bisa. Bahkan, membeli sayuran pun tidak bisa dilakukan sejak lebih dari 25 pasar tradisional (resmi) di Kabupaten Magelang Selatan itu aktivitasnya mati total sampai sekarang. Kepada penulis, Gus Yusuf, seorang kiai muda dari Tegalrejo Magelang, melihat kebutuhan sembako untuk warga masih sangat kurang. Setiap bantuan datang akan langsung habis karena terlalu banyaknya warga yang tidak bisa makan secara normal. Kebutuhan ini, menurut Gus Yusuf, tidak cukup untuk kebutuhan mereka seminggu. Ini karena mayoritas kehidupan mereka petani. Untuk menghasilkan uang, tentu mereka harus bercocok tanam dulu.

Dari situ saja sudah muncul asumsi 3-4 bulan para petani itu akan mengalami kesulitan bahan makanan yang luar biasa. Hal ini belum termasuk kalau kita membayangkan betapa sulitnya bercocok tanam di atas abu. Benar, abu vulkanik akan menyuburkan tanah, tetapi itu butuh waktu yang lama, lebih dari lima tahun. Kalau hendak dipercepat, itu membutuhkan pengolahan tanah dengan modal besar, karena harus memiliki kompos, urea, atau zat-zat lain untuk menghidupkan tanah.  Merapi mungkin saja akan segera berhenti, dan pasti berhenti. Tetapi, musibah itu hendaknya tidak membuat kita menganggapnya telah selesai. Ada kebutuhan jangka panjang yang begitu besar dan itu tidak mungkin dipenuhi dengan mengandalkan pemerintah (yang kebetulan juga sulit dipercaya untuk menyelesaikan masalah seperti ini).
Gerakan galang dana untuk sembako, termasuk sumbangan bibit pertanian, penyuluhan, pendampingan Usaha Kecil Rakyat, dan pembenahan lain menjadi agenda besar untuk korban Merapi. Untuk bulan November dan Desember, barangkali sembako terus dibutuhkan agar perut rakyat terjaga dan mereka bisa beraktivitas kembali.

Penulis independen. Sukarelawan untuk bencana Merapi, tinggal di Bandung.

http://www.sinarharapan.co.id/berita/content/read/merapi-salah-persepsi-dan-sembako/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s