Penulis dan Salah kaprah

Standar

Aku tidak bisa menulis “karena aku bukan penulis”. Ada-ada saja. Pikiran ini seperti igauan di siang bolong, atau seperti omongan pemalas yang tak punya kemauan. Lebih aneh lagi, yang sering bicara seperti ini bukan sekedar orang awam, melainkan para guru, dosen bahkan mereka yang bergelar profesor. Seolah-olah mahir menulis itu turun dari langit. Ini adalah kesalahan fatal dan cara pandang. Paradigma mesti diubah. Menjadi mahir menulis dan kemudian sering disebut penulis itu berkat proses kerja keras.

Untuk menjadi bisa kita harus mencoba, praktik dan terus belajar melalui uji konsistensi dalam massa yang sulit. Menjadi penulis adalah hak siapa saja untuk menuliskan apa saja yang diinginkan. Untuk menjadi bisa mestinya tahapan proses pembelajaran harus dilakukan.

“Aku ingin bisa menulis.” Ini adalah imajinasi setiap orang yang memang punya keinginan menulis, bahkan berlaku pada setiap orang dengan kadar kemauan menulis yang kecil sekalipun. Istilah “aku bisa” selalu ada dibenak setiap orang. Ini adalah bentuk rasa percaya diri yang positif. Dengan itu pula naluri akan menggerakkan untuk mencoba menulis.

Setelah mencoba? Kata “aku bisa” mendadak berganti “aku kesulitan”. Ternyata menulis tidak semudah yang dibayangkan. Ini normal saja, dan akan selalu ada dibenak setiap orang, bahkan para penulis yang sudah melahirkan banyak karya pun memiliki masalah ini.  Apa sebabnya?

Pada kasus yang umum penyebab utamanya karena memandang karya tulis dari sisi luarnya. Seolah-olah kerja menulis hanyalah menggoreskan kata tanpa menyertakan perangkat ilmu pengetahuan, ketekunan dan keberanian melontarkan gagasan-gagasan baru. Serupa dengan orang awam yang salah melihat kebiasaan mengendarai mobil. Dengan mudah kita bisa menyatakan. “menyetir itu mudah,-cuma memutar-mutarkan setiran, mengoper kopling dan menginjak rem dan gas.”

Benarkah itu? Ya memang mudah. Tetapi untuk menjadi mudah tetap saja dibutuhkan ilmu pengetahuan dengan latihan khusus, semangat untuk bisa yang terus menyala dan juga pengalaman praktis. Dari pada sibuk berkutat pada pertanyaan dasar apakah menulis itu gampang atau sulit sebaiknya bersikap wajar, bahwa setiap hasil didapat dari kerja keras.

Apakah menulis itu gampang atau sulit itu sia-sia kalau terus dipikirkan. Tidak menguntungkan kita mengatakan gampang karena tidak secara otomatis gampang beneran. Sedangkan kalau pikiran mengatakan sulit ujung-ujungnya kita malas bekerja. Menulis ya menulis. Ada kalanya sulit ada kalanya gampang itu sesuatu yang lumrah. Menulis itu pekerjaan, kerjakan saja. Urusan sulit harus diatasi. (faizmanshur)

“Buat apa hidup kalau kita tidak berani mencoba sesuatu?” (Vincent van Gogh)

One thought on “Penulis dan Salah kaprah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s