Pentingkah Sastra untuk Penulis?

Standar

Apakah Anda masih berpikir jenis sastra jenis fiksi seperti novel, cerpen, cerita bersambung atau puisi adalah karya yang tidak menarik dan tidak penting? Itu adalah hak masing-masing. Namun sebagai penulis kita harus menyadari, bagaimanapun bidang yang kita tulis; ilmiah atau fiksi, tetaplah membutuhkan nilai sastra. Mengapa? Karena dunia tulis-menulis tidak terpisah dari bahasa, dan karena itu pula sastra menjadi bagian terpenting bagi para penulis.

Bahasa tidak cukup dikaji melalui ilmu bahasa seperti yang terdapat dalam buku-buku panduan berbahasa secara baik dan benar itu. Bahasa adalah cara penyingkapan atas fenomena, atau kenyataan, bahkan termasuk menyingkap sesuatu yang mustahil bisa dilihat. Sebab itulah butuh dukungan ilmu retoris dari karya sastra.

Tulisan berikut ini saya ambil dari tulisan saya tentang fiksi sastra yang pernah dimuat di Harian Pikiran Rakyat Jawa Barat (21 Desember 2002) dengan judul  Adakah Ke(pem)benaran Fiksi Sastra?. dengan sedikit perubahan untuk efektivitas, saya ingin memberikan satu gambaran betapa pentingnya sebuah karya, yang walaupun itu fiksi.

Apapun alasannya, sastra tetaplah “fiksi”. Ia adalah dunia rekaan. Refleksi dari buah kesadaran yang tertara dalam ruang batin dan pikiran seseorang sastrawan yang berkehendak menjadikan imajinasinya dalam bentuk tulisan. Memang sastra hanyalah satu cerminan dari ide manusia dalam teks-teks yang punya hukum di luar realitas. Tak ada satupun karya sastra di dunia ini sekalipun diklain sebagai realis berhasil menempati posisi “faktualnya”.

Jika demikian adanya, apakah sastra harus kita tinggalkan?

Sebagian besar arumen mengenai kedustaan sastra ini disebabkan oleh alasan karena sastra bertumpu pada teks-teks yang tidak memiliki dasar metodelogi sebagaimana karya ilmiah lainnya. Oleh karena demikian itu, sastra dibilang tidak objektif, sebagaimana ilmu matematika, fisika, agama, politik dan lain-lain. Di sini kita mulai bisa mengajukan pertanyaan; mengapa bidang ilmu pengetahuan lain yang hamper secara kesuluruhan ilmunya terkait dengan teks tidak dinilai sebagaimana sastra? Bukankah bidang agama, politik, sains dan lain sebagainya juga menambatkan pada teks?

Inilah yang semestinya segera dibongkar. Kecenderungan gegabah dalam mendudukkan sastra sebagai sesuatu yang fiktif dan karena itu tidak layak mendapat tempat sebagai sumber referensi masih kuat berakar dalam benak masyarakat. Akibatnya sastra dianggap sebagai genre yang tidak penting, sebagai binatang jalang dari kumpulan terbuang hanya karena dianggap tidak patuh terhadap induknya bernama objektivitas. Dalam beberapa kurun waktu yang cukup lama, -khususnya ketika era pencerahan di Eropa dimulai,- sastra bukanlah anak sah peradaban ilmu penretahuan. Rasionalisme mazhab positivisme logis yang mulai berkibar mengakibatkan hal-hal yang imajinatif dan fiktif dianggap barang buangan oleh kaum akademisi.

Namun seiring dengan waktu pandangan positivisme logis akhirnya membuat gerah pada sastrawan, terutama karena sikap para politisi yang kemudian menganggap sastra hanya sebagai corong kampanye penguasa untuk memobilisasi dan melegitimasi pengaruh penguasa. Leon Trotsky sastrawan dari Rusia di masa Revolusi Bolshevik tahun 1918 dengan paham realisme sosialisnya memiliki pandangan bercorak pembaruan dalam melihat sastra. Trotsky tidak rela kalau sastra/seni ditempatkan secara marginal di bawah ketiak politik.

Supaya bisa lepas dari kekuasaan Trotsky merumuskan ide dengan pendapat sastra/seni “harus dihakimi” dengan caranya sendiri. Senada dengan Trotsky, Terrt Eagleton (1983) menjelaskan lebih detail dengan keharusan tersebut dengan melihat karya literer, entah itu prosa atau puisi didevinisikan bukan karena realitasnya yang fiktif atau imajinatif, melainkan bahasa dan kode-kode pengungkapan terhadap realitas itu memang hadir dengan cara yang khusus. Dengan kata lain, bukan kadar pengungkapan realitas yang menjadi kualifikasinya, melainkan cara pengungkapannya. Goenawan Mohamad misalnya memberi contoh, sebagai literer, novel “priyayi karya Umar Kayam dengan cara sendiri telah berhasil mengungkapkan situasi yang terjadi dalam peristiwa sejarah dalam masyarakat dengan intensitas yang tidak bisa diterangkan oleh ilmu sosial.

Contoh lain bisa pula kita dapatkan cari kisah fiksi sejarah dari Novel  Bumi Manusia-nya Pramoedya Ananta Toer.  Cerita-cerita hebat dari dalam novel semacam karya Salman Rusdy juga bisa merekam situasi kehidupan masyarakat dengan caranya sendiri yang khas. Dengan seringnya penulis membaca karya sastra, bukan hanya mendapatkan inspirasi kisah dan bahasa, melainkan juga mendapatkan banyak pemikiran brillian yang mungkin tidak kita dapatkan dari ilmu-ilmu eksak.

Sastra, selain menghibur dan teman paling nyaman untuk membuka wawasan kehidupan dengan cara yang imajinatif.  Bisa dikatakan, hamper semua penulis, biarpun tidak menulis sastra, mereka sangat mencintai karya sastra. Sebab para penulis percaya dengan sastra akan menjadikan diri mereka lebih produktif.

Sastra adalah lukisan dalam bahasa.” (Pramoedya Ananta Toer)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s