Minat Baca Masyarakat dan Nasib Penulis

Standar

Ada sedikit perlu diulas dari realitas pasar buku di Indonesia. Pada saat saya menulis, kebetulan Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) Jawa Barat mengadakan halal bil halal sederhana di Hotel Horison Kota Bandung. Acara bertajuk “Prospek Perbukuan dan Peran IKAPI” tersebut memberikan gambaran secara ringkas mengenai data-data riset yang sangat penting kita ketahui. Prakiraan judul buku di tahun 2010 sekitar 15.000 judul buku yang diterbitkan. Sedangkan empat tahun sebelumnya jumlah buku yang diterbitkan hanya 10.000 judul. (sayangnya, IKAPI tidak melengkapi data riset tahun 2007-2009). Namun dari situ kita bisa merasakan kenaikan yang cukup. Saya katakan cukup mengingat sebenarnya bangsa ini sangat tertinggal di banding negara lain. Jepang misalnya (menurut Unesco) pada setiap tahun 2010 menerbitkan sekitar 60.000. Inggris sebagai negeri yang paling produktif dalam perbukuan tahun 2010 mencapai angka 110.115 judul buku.

Sementara dalam penilaian tinggi-rendahnya minat baca Unesco (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization) sebagaimana ditulis Harian Pikiran Rakyat (4/1/2010) memberi kesaksian lain yang tidak kalah  mengenaskan, yakni dengan angka indeks 0,001. Itu artinya dari seribu orang hanya terdapat satu orang yang memiliki minat baca tinggi. Kita kalah dengan Singapura yang memiliki indek 0,45, atau sekitar 45 orang memiliki minat baca tinggi dari jumlah 100 orang.

Survei dari Lembaga Riset Roy Morgan terhadap kecenderungan orang mengunjungi toko buku menyebutkan, jenis kelamin perempuan 45% sedangkan laki-laki 46%. Rentang usia membuktikan umur 14-24 tahun mendominasi kunjungan ke toko dengan angka 52%. Sedangkan usia 25-34 tahun mencapai 23,5 %, -selebihnya usia-sia di atas 34 tahun. Adapun AC Nielson yang melakukan survei profil pembaca buku di Indonesia menyebutkan jenis kelamin perempuan ternyata lebih banyak meminati baca buku dari pada laki-laki dengan angka perbandingan cukup tinggi, 68% (perempuan) berbanding 32% (laki-laki). Rentang usia pembaca di Indonesia ini antara umur 10-29 tahun.

Angka-angka di atas membuktikan ada hubungan yang kuat antara sekolah dengan membaca. Sedangkan masyarakat kerja cenderung mengabaikan buku. Pada jenis kelamin perempuan agaknya memang cukup menarik karena tingginya jarak minat baca dengan lelaki. Apakah hal itu disebabkan perempuan masih banyak di rumah sehingga punya kesempatan membaca sementara laki-laki bekerja di luar sehingga alokasi membaca berkurang? Sayangnya sampai sekarang penulis belum mendapatkan data ini.

Data Tema Buku yang diminati masyarakat juga tidak bisa kita abaikan mengingat hal ini juga penting sebagai pemetaan para penulis. Kompas pada Jajak Pendapatnya bulan April 2010 silam memberikan rangking pertama pada buku bertema agama yang paling banyak diminati masyarakat.

Buku bertema pendidikan menempati urutan kedua. Tema ekonomi menempati posisi ketiga dan buku-buku bertema sosial menempati posisi ke empat. []

“Buku adalah guru yang diam.” (Aulus Gellius)

9 thoughts on “Minat Baca Masyarakat dan Nasib Penulis

  1. Kabar sebenarnya IKAPI tidaklah pernah melakukan riset komprehensif soal industri perbukuan nasional. Angka-angka tersebut kadang dicomot dari pribadi-pribadi praktisi perbukuan yang menggunakan data sendiri karena memiliki jaringan distribusi yang luas. Sebenarnya, saya pernah memperhatikan bagaimana karya buku yang diterbitkan pemerintah ataupun lembaga-lembaga pendidikan tidak terdata sebagai produksi buku nasional. Karya-karya itu memang tidak ‘nampang’ di Gramedia sebagai pusat acuan data yang disampaikan IKAPI. Jadi, memang ada kecenderungan angka 15.000 itu akan melonjak tajam jika buku-buku nonkomersial, buku-buku non-ISBN, dan buku-buku yang disebarkan secara internal lembaga juga dapat terdata oleh IKAPI. Penerbit semacam LIPI Press memiliki jumlah terbitan dari hasil penelitian yang luar biasa setiap tahun, tetapi sangat jarang buku itu bisa nongol di Gramedia.

    Perbandingan soal minat baca juga memang seperti lagu lama. Indikator yang kadang luput dari amatan IKAPI adalah kecenderungan meledaknya juga buku-buku best seller internasional di kancah perbukuan Indonesia, seperti Harry Potter ataupun Da Vinci Code. Hal ini ternyata tidak terjadi di Malaysia, negeri yang kadang disebut-sebut lebih baik dari Indonesia. Di Singapura tentu karena pembagi penduduknya membuat dia melesat, sedangkan Indonesia faktor pembaginya besar sekali dan tersebar di berbagai pulau yang pembangunannya tidak merata di Indonesia.

    Saya melihat memang IKAPI tidak pernah mau melakukan riset komprehensif. Alasannya memang juga tidak ada dukungan anggota untuk mau membantu biaya riset yang diperkirakan tidak sedikit ini. Akibatnya, kita meraba-raba angkat riset dan sangat bergantung pada data perputaran bisnis di Gramedia yang konon memiliki market share 45% total industri buku. Sampai kini kita tidak dapat menentukan angka pasti market share buku di Indonesia. Saya pernah menghitung secara manual dan tradisional maka diperoleh angka sekitar 5,7 T. Toko buku Gramedia sendiri pernah membukukan omzet Rp4 T meski itu bercampur dan omzet stationary. Angka tersebut belum termasuk nilai transaksi proyek seperti DAK yang kadang mencapai ratusan miliar hingga triliunan rupiah.

    Semoga dengan pergantian kepemimpinan IKAPI pada akhir tahun ini, ada kemauan untuk melakukan riset sebenarnya. Terima kasih.

    • Pak Bambang Trim, terimakasih tambahannya. Iya. Itu makalah yang mengambil data-data yang bisa kita dapatkan dari sumber lain. Saat saya datang bersama teman (distributor) pada acara itu kemudian tersimpulkan. “Apa yang kita dapatkan dari pertemuan semacam ini? Bukankah kalau cuma ngobrol prospek dengan ulasan umum seperti itu kita sudah biasa mendapat masukan dari obrolan sambil lalu?” Walhasil karena data yang didapat juga cuma seperti itu, pembicaraan bergaya seminar pun esensinya tidak beda dengan obrolan keseharian.
      Di atas beratnya riset mestinya IKAPI tidak secengeng itu ya? mestinya…haha…
      Misalnya mereka bisa memulai dengan hal yang realistis (meriset satu jenis buku yang punya daya tarik khusus untuk menjawab mengapa buku Laskar Pelangi itu diterima luas di masyarakat). Apakah selama ini sudah ada jawaban yg memuaskan “apa dibalik faktor tersebut?” memang semua bisa menjawab karena ini, karena itu……dengan penjelasan detail. Masalahnya secanggih apapun penjelasan detailnya manakala kita meluncurkan buku serupa tidak bisa mengikuti geraknya. Adalah sebuah kebutuhan riset lebih mendetail (tidak sekedar segmen dan pemetaan seperti data unesco dan kompas) tersebut. Dengan riset yang lebih detail untuk beberapa jenis buku kita bisa lebih untuk berani berharap menyusun strategi. Kalau semua serba duga-duga ya nasibnya perbukuan (penerbit dan penulis terutama) mudah diduga….hehe…..
      salam,
      faiz

  2. Minat bacanya tinggi, tapi daya belinya rendah karena 1) merasa saya ‘membuang’ uang untuk buku, tetapi tidak untuk ‘pulsa’ ataupun ‘dvd’; 2) merasa buku itu mahal karena cuma dilihat dari fisik kertasnya saja; 3) merasa lebih baik pinjam karena tiada kesadaran mengoleksi buku dan menjadikan sebuah sudut rumah sebagai perpustakaan pribadi; 4) rendah minat menulis sehingga rendah juga minat membaca…🙂 semoga berterima.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s